Berita

Presiden Prabowo Subianto. (Foto: Setpres RI)

Politik

Pasar Luar Negeri Belum Pahami Kebijakan Ekonomi Prabowo secara Utuh

SELASA, 04 AGUSTUS 2026 | 15:36 WIB | LAPORAN: WIDODO BOGIARTO

Laporan media Australia The Australian yang mengulas melemahnya kepercayaan pasar terhadap kebijakan ekonomi Presiden Prabowo Subianto memunculkan beragam tanggapan. 

Salah satunya datang dari pengamat intelijen dan geopolitik Amir Hamzah. Ia menilai kritik tersebut tidak dapat dipandang semata-mata sebagai analisis ekonomi, tetapi juga harus dibaca dalam konteks persaingan kepentingan geopolitik global.

Menurut Amir, banyak pihak di luar negeri belum memahami arah kebijakan ekonomi Presiden Prabowo secara utuh. Akibatnya, berbagai kebijakan strategis pemerintah sering kali dinilai negatif karena dipandang bertentangan dengan kepentingan ekonomi global yang selama ini mengedepankan prinsip pasar bebas.


“Mereka menganggap kebijakan ekonomi Prabowo buruk, padahal yang sedang dibangun adalah model ekonomi yang berbeda,” kata Amir, dikutip Selasa 4 Agustus 2026.

Amir menjelaskan bahwa sejumlah kebijakan seperti hilirisasi industri, penguatan penguasaan negara atas sumber daya alam, hingga gagasan impor melalui mekanisme yang lebih terkendali merupakan bagian dari upaya memperkuat kedaulatan ekonomi nasional.

Amir menilai kritik yang muncul terhadap kebijakan ekonomi Indonesia tidak dapat dipisahkan dari perubahan lanskap geopolitik dunia yang kini semakin dipengaruhi rivalitas ekonomi, teknologi, energi, dan penguasaan sumber daya alam.

Menurutnya, selama beberapa dekade negara-negara berkembang menjadi pemasok bahan mentah dengan nilai tambah rendah. Model tersebut dinilai menguntungkan industri negara maju karena memperoleh bahan baku murah untuk kemudian diolah menjadi produk bernilai tinggi yang dijual kembali ke negara asal.

“Kalau Indonesia melakukan hilirisasi, otomatis rantai keuntungan berubah. Negara-negara yang selama ini menikmati bahan mentah murah tentu merasa kepentingannya terganggu,” kata Amir. 

Dalam perspektif intelijen ekonomi, lanjut Amir, perubahan kebijakan suatu negara sering kali diikuti dengan pembentukan opini publik melalui berbagai instrumen, mulai dari laporan lembaga riset, media internasional, hingga penilaian pasar keuangan.

Karena itu, menurutnya, dinamika persepsi internasional terhadap Indonesia tidak selalu berdiri sendiri sebagai analisis ekonomi, tetapi juga dapat dipengaruhi oleh perbedaan kepentingan strategis.

Amir mengatakan, investor global yang berhaluan kapitalisme liberal pada umumnya menghendaki mekanisme pasar yang terbuka dengan intervensi pemerintah seminimal mungkin.

Sebaliknya, kebijakan Prabowo dinilai lebih menekankan peran negara dalam mengendalikan sektor-sektor strategis.

“Investor mulai berpikir karena penganut kapitalis dan liberal maunya pasar bebas. Kalau negara terlalu kuat mengatur, tentu paradigma mereka berbeda," pungkas Amir.

Populer

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Jubir IKN Troy Pantouw Sempat Telepon Keluarga Sehari Sebelum Ditemukan Meninggal

Minggu, 26 Juli 2026 | 20:58

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

UPDATE

Wall Street Hijau di Tengah Harapan Meredanya Konflik AS-Iran

Selasa, 04 Agustus 2026 | 08:23

Di Balik Sensor Istana: Diksi Nuklir Prabowo dan Bantahan Kilat Teheran

Selasa, 04 Agustus 2026 | 08:10

Pelatih Vietnam Bongkar Rahasia Usai Permalukan Indonesia 3-0

Selasa, 04 Agustus 2026 | 08:04

Tanggapi MK, Menkeu Pastikan Anggaran MBG Tidak Mengganggu APBN

Selasa, 04 Agustus 2026 | 07:47

Menhaj Lantik 6 Pejabat Kemenhaj untuk Perkuat Pelayanan Haji dan Umrah

Selasa, 04 Agustus 2026 | 07:46

Bunga Pinjaman Turun, Bulog Hemat hingga Rp1,07 Triliun per Tahun

Selasa, 04 Agustus 2026 | 07:35

Pasar Logam Mulia Tertekan, Emas Masih Berkutat di 4.000 Dolar AS

Selasa, 04 Agustus 2026 | 07:18

Bursa Eropa Cetak Rekor, DAX 40 Tembus 26.000 Poin

Selasa, 04 Agustus 2026 | 07:07

Sekolah Nasional Terintegrasi: Tantangan Pendidikan dan Implementasi Rekonstruksi

Selasa, 04 Agustus 2026 | 06:46

BGN Anggap Putusan MK Justru Perkuat Program MBG

Selasa, 04 Agustus 2026 | 06:27

Selengkapnya