Berita

Ilustrasi (RMOL via Gemini AI)

Bisnis

Pelemahan Rupiah Bisa Jadi Peluang Dongkrak Ekspor dan Pariwisata

SELASA, 04 AGUSTUS 2026 | 15:23 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

Pelemahan nilai tukar rupiah dinilai tidak selalu menjadi ancaman bagi perekonomian nasional. Dengan kebijakan yang tepat, depresiasi mata uang justru dapat diubah menjadi peluang untuk meningkatkan daya saing ekspor, mendongkrak devisa, dan memperkuat produktivitas nasional.

Menurut Anggota Komisi XI DPR RI, Amin Ak, Indonesia bisa mengubah depresiasi rupiah menjadi momentum untuk meningkatkan daya saing Indonesia melalui sektor pariwisata, ekspor, dan hilirisasi industri.

“Fokus kita bukan meratapi rupiah yang melemah, melainkan mengejar ekonomi yang kuat. Ketika rupiah tertekan oleh dinamika global, kita harus mampu mengubah tantangan itu menjadi peluang ekonomi,” ujarnya, Selasa, 4 Agustus 2026.


Ia menjelaskan, ketika rupiah melemah, Indonesia secara otomatis menjadi destinasi yang lebih kompetitif bagi wisatawan mancanegara. Biaya hotel, kuliner, transportasi, dan berbagai layanan wisata menjadi relatif lebih murah jika dihitung menggunakan mata uang asing.

“Pariwisata adalah ekspor yang datang ke Indonesia. Wisatawan membawa devisa tanpa kita harus mengirim barang ke luar negeri. Karena itu, pemerintah perlu menjadikan sektor ini sebagai mesin pertumbuhan ekonomi yang lebih agresif,” katanya.

Ia mendorong pemerintah tidak hanya berfokus pada Bali, tetapi juga mempercepat pengembangan destinasi unggulan seperti Labuan Bajo, Raja Ampat, Danau Toba, Borobudur, Mandalika, dan Wakatobi melalui peningkatan konektivitas, kebersihan, keamanan, kualitas pelayanan, serta promosi internasional.

Selain pariwisata, Amin menilai pelemahan rupiah juga harus dimanfaatkan untuk memperkuat ekspor nasional. Produk-produk seperti kelapa sawit, perikanan, kopi, kakao, furnitur, tekstil, alas kaki, hingga industri kreatif memiliki peluang lebih besar bersaing di pasar global apabila didukung peningkatan kualitas dan nilai tambah.

“Hilirisasi harus terus dipercepat agar Indonesia tidak lagi hanya menjual bahan mentah. Semakin tinggi nilai tambah produk yang kita ekspor, semakin besar devisa yang masuk dan semakin kuat fondasi ekonomi nasional,” tegasnya.

Di sisi lain, Amin mengingatkan bahwa pemerintah juga harus berani mengurangi ketergantungan terhadap impor secara nyata dan persisten, terutama untuk bahan baku strategis dan komponen industri.

Menurutnya, penguatan industri dalam negeri akan membuat Indonesia lebih tahan menghadapi gejolak nilai tukar. Berbagai strategi dan upaya tersebut tentu saja harus sejalan dengan upaya memperkuat nilai tukar rupiah, sesuatu yang tidak boleh diabaikan.

“Nilai tukar yang terlalu lemah tetap berisiko memicu inflasi, menaikkan biaya produksi, dan mengurangi daya beli masyarakat. Karena itu, stabilitas ekonomi makro harus tetap menjadi prioritas,” ujarnya.

Ia mendorong sinergi antara pemerintah, Bank Indonesia, dan pelaku usaha untuk menjaga inflasi tetap terkendali, memperkuat iklim investasi, mempercepat pembangunan infrastruktur, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, serta memperluas pasar ekspor Indonesia.

Menurut Amin, kekuatan ekonomi suatu negara pada akhirnya tidak ditentukan oleh mahal atau murahnya mata uang, tetapi oleh kemampuan menghasilkan barang dan jasa yang mampu bersaing di pasar dunia.

“Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah, bonus demografi, dan potensi pariwisata kelas dunia. Jika semua potensi itu dikelola secara optimal, pelemahan rupiah bukan sekadar menjadi tantangan, tetapi dapat menjadi momentum untuk mempercepat transformasi menuju ekonomi yang lebih produktif, berdaya saing, dan berkelanjutan,” pungkasnya.

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

UPDATE

BKSAP DPR Dukung Menlu Arrmanatha Perkuat Diplomasi Bebas Aktif

Minggu, 04 Oktober 2026 | 14:26

Korea Utara Uji Coba Rudal Berteknologi AI, Terbang Sejauh 1.000 Km

Minggu, 04 Oktober 2026 | 14:10

Kuota Internet Kok Masih Hangus? Ini Penjelasan Komdigi

Minggu, 04 Oktober 2026 | 14:01

Banggar DPR Tekankan Disiplin Fiskal di Tengah Belanja Negara Rp4.106 Triliun

Minggu, 04 Oktober 2026 | 13:53

RUU Migas Ditargetkan Rampung 22 Oktober, DPR Ingatkan Pembahasan Harus Cermat

Minggu, 04 Oktober 2026 | 13:13

Kemenko PM Dorong Kolaborasi Dunia Usaha untuk Pertumbuhan Ekonomi Inklusif

Minggu, 04 Oktober 2026 | 13:09

Rangkap Jabatan Bahlil Harus Dimaksimalkan untuk Selaraskan Kebijakan

Minggu, 04 Oktober 2026 | 13:05

KPK Ungkap Ada Setoran dari Kantah ke Tingkat Pusat ATR/BPN

Minggu, 04 Oktober 2026 | 12:36

Sequis Life Digugat Rp1,27 Miliar ke PN Jakarta Selatan

Minggu, 04 Oktober 2026 | 12:28

AS Usir Dua Delegasi Iran Setelah Sidang Umum PBB

Minggu, 04 Oktober 2026 | 12:17

Selengkapnya