Berita

Ilustrasi. (Foto: Cakrawarta.com)

Publika

Mata Tak Berkedip di Pintu Negeri

SELASA, 04 AGUSTUS 2026 | 12:00 WIB | OLEH: AHMADIE THAHA

BANDARA internasional adalah panggung yang tak pernah tidur. Setiap menit, ribuan orang melintas. Ada yang pulang membawa rindu, ada yang berangkat mengejar mimpi, dan ada pula yang diam-diam menyelipkan petaka di balik koper.

Pekan lalu, petaka itu datang mengenakan seragam yang selama ini identik dengan kehormatan. Seorang kopilot Malaysia Airlines ditangkap di Bandara Internasional Soekarno-Hatta karena diduga menyelundupkan sekitar 26 kilogram ekstasi.

Nilainya miliaran rupiah. Jumlahnya lebih dari 70 ribu butir. Yang lebih mengejutkan lagi, hasil pemeriksaan menunjukkan kopilot bernama Mohd Saufi bin Othman itu juga positif menggunakan beberapa jenis narkoba.


Kopilot asal Malaysia itu mengaku dijanjikan imbalan sekitar 50.000 ringgit Malaysia untuk mengantarkan narkoba tersebut. Ia diduga pernah melakukan penyelundupan narkoba sebelumnya, yang kini masih didalami aparat.

Yang layak mendapat tepuk tangan justru bukan dramanya, melainkan mereka yang menggagalkannya.

Banyak orang membayangkan pekerjaan petugas Bea Cukai sebatas memeriksa koper lewat mesin X-ray. Padahal, teknologi hanyalah salah satu mata. Mata lainnya adalah manusia. Pengalaman panjang membuat petugas terlatih membaca sesuatu yang tak muncul di layar monitor.

Sering kali tubuh berbicara lebih jujur dari mulut. Wajah yang terlalu tegang, gerakan yang tidak alami, langkah kaki yang kehilangan irama, tatapan yang terlalu sering menghindar, bahkan aroma napas yang khas akibat konsumsi zat tertentu, dapat menjadi potongan-potongan puzzle yang memunculkan kecurigaan. Tidak otomatis membuktikan seseorang bersalah, tapi cukup menjadi alasan untuk memeriksa lebih teliti.

Apalagi di pintu keluar internasional seperti Soekarno-Hatta. Jalur yang harus dilewati setiap penumpang, termasuk awak pesawat, relatif sempit. Petugas berdiri di titik-titik strategis. Ribuan wajah mereka lihat setiap hari.

Dalam waktu lama, naluri profesional itu terasah. Mereka belajar membedakan mana wajah lelah karena penerbangan panjang dan mana wajah yang menyimpan kegelisahan lain.

Karena itu menarik ketika pelaku justru sempat diarahkan ke jalur fast track khusus awak pesawat. Banyak orang mungkin mengira status sebagai kru penerbangan adalah “paspor kepercayaan”. Ternyata tidak.

Analisis risiko tetap berjalan. Profil diperiksa. Gerak-gerik diamati. Dan ketika semua kepingan informasi mulai saling menyambung, petugas memutuskan menghentikan langkahnya.

Keputusan itu terbukti menyelamatkan Indonesia dari masuknya puluhan kilogram narkotika sintetis.

Kasus ini juga memperlihatkan betapa canggih jaringan narkoba internasional. Mereka tidak lagi hanya memanfaatkan kurir dengan penampilan lusuh atau penumpang biasa.

Profesi pilot yang selama ini dianggap bergengsi pun dapat dijadikan tameng. Seragam ternyata bisa dipinjam, tetapi integritas tidak.

Bahkan ditemukan botol kecil berisi urine yang diduga disiapkan sebagai cadangan bila sewaktu-waktu harus menjalani tes narkoba. Itu menunjukkan penyelundupan ini bukan tindakan spontan. Ada persiapan. Ada perhitungan. Ada keyakinan bahwa sistem bisa dikelabui.

Untungnya, keyakinan itu bertemu dengan petugas yang lebih teliti.

Media sosial kemudian dipenuhi tuntutan agar pelaku dihukum mati. Kemarahan publik dapat dipahami. Sebab narkoba bukan sekadar kejahatan biasa. Ia merampas masa depan, menghancurkan keluarga, dan mengubah generasi menjadi ladang keuntungan sindikat transnasional.

Namun, kekuatan sebuah negara tidak hanya diukur dari beratnya hukuman, melainkan juga dari kemampuan mencegah kejahatan sebelum korban berjatuhan.

Dalam perspektif itu, keberhasilan terbesar justru terjadi ketika koper itu dibuka di meja pemeriksaan, bukan ketika vonis dijatuhkan di ruang sidang.

Prestasi ini sekaligus menjadi pengingat bahwa investasi terbesar dalam pemberantasan narkoba bukan hanya membeli mesin yang semakin mahal.

Yang jauh lebih penting adalah membangun manusia-manusia yang tajam instingnya, kuat integritasnya, dan berani mengambil keputusan ketika semua orang lain mungkin memilih membiarkan seseorang lewat begitu saja.

Di perbatasan negara, mesin memang bisa melihat isi koper. Tetapi hanya mata yang terlatih yang mampu membaca isi kegelisahan seseorang.

Dan kali ini, mata itu tidak berkedip.

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

UPDATE

Pencarian Korban KMP Virgo Transport 8 Teradang Gelombang Tinggi Capai 2,5 Meter

Minggu, 13 September 2026 | 18:04

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

Polisi Update Temuan Barang Diduga Milik Kapal Pengangkut 5 Jurnalis

Minggu, 13 September 2026 | 17:16

Prabowo Ungkap Transformasi Pangan Indonesia di Hadapan Pemimpin BRICS

Minggu, 13 September 2026 | 17:02

Aspekpir Puji Komitmen PTPN IV PalmCo Majukan Petani Mitra

Minggu, 13 September 2026 | 16:50

Prabowo Ajak BRICS Ubah Kerentanan Jadi Kekuatan untuk Pertumbuhan Global

Minggu, 13 September 2026 | 16:49

BNI Perkuat Ekosistem Industri Kecantikan Lewat BSF 2026

Minggu, 13 September 2026 | 16:46

Kerugian Bisnis Tak Otomatis jadi Tindak Pidana

Minggu, 13 September 2026 | 16:27

Dua Armada Pos Indonesia Ikut Tenggelam Bersama KMP Virgo

Minggu, 13 September 2026 | 16:21

Kapal Pertamina Bantu Selamatkan 16 Korban Virgo Transport 08 di Laut Jawa

Minggu, 13 September 2026 | 16:02

Selengkapnya