Berita

Ilustrasi (Artificial Intelligence)

Bisnis

Bursa Asia Bergerak Variatif usai Keputusan The Fed

KAMIS, 30 JULI 2026 | 08:40 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Pasar saham Asia-Pasifik bergerak bervariasi pada perdagangan Kamis, 30 Juli 2026, seiring investor mencermati dua sentimen utama: lonjakan harga minyak akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta keputusan Federal Reserve (The Fed) yang kembali mempertahankan suku bunga acuannya.

Dari pergerakan bursa, pasar Jepang dibuka melemah. Indeks Nikkei 225 turun 0,25 persen, sementara Topix terkoreksi lebih dalam sebesar 0,59 persen. 

Di Korea Selatan, indeks Kospi sempat bergerak beragam, sedangkan indeks saham berkapitalisasi kecil Kosdaq turun 0,73 persen. 


Sementara itu, bursa Australia justru menguat, dengan indeks S&P/ASX 200 naik 0,89 persen setelah sehari sebelumnya mengalami tekanan cukup tajam.

Di Korea Selatan, Kospi mendapat dorongan setelah pemerintah memperketat aturan perdagangan pada produk leveraged ETF menyusul gejolak pasar pada Rabu. Saham Samsung Electronics melonjak setelah perusahaan membukukan kinerja yang melampaui ekspektasi analis. Sebaliknya, saham SK Hynix bergerak melemah sehingga membatasi penguatan indeks.

Sentimen pasar juga dipengaruhi oleh meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Presiden AS Donald Trump menyatakan Amerika Serikat akan memberikan respons keras terhadap Iran setelah Garda Revolusi Iran (IRGC) meluncurkan rudal balistik ke arah pasukan AS. Dalam wawancara dengan Fox News, Trump menegaskan Iran akan "dihajar habis-habisan" sebagai balasan atas serangan tersebut.

Di sisi lain, investor masih mencerna hasil rapat kebijakan Federal Reserve yang memutuskan mempertahankan suku bunga acuan. Gubernur The Fed Kevin Warsh menegaskan keputusan tersebut bukan berarti bank sentral bersikap pasif, melainkan memberi ruang bagi pasar untuk menyesuaikan diri dengan perkembangan data ekonomi. 

Namun, keputusan itu tidak bulat karena tiga dari 12 pejabat The Fed yang memiliki hak suara memilih mendukung kenaikan suku bunga, mencerminkan masih kuatnya kekhawatiran terhadap tekanan inflasi AS.

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

UPDATE

PKS Minta Pemerintah Fokus Reformasi Kebencanaan, Bukan Merger Besar-Besaran

Kamis, 10 September 2026 | 10:25

Minyak Dunia Kembali Membara, Rupiah Tertekan ke Rp17.528 per Dolar AS

Kamis, 10 September 2026 | 10:10

Prabowo Bicara Masa Depan RI: 2050 Jadi Kekuatan Besar Dunia

Kamis, 10 September 2026 | 10:06

Usai Tiga Hari Ambruk, Harga Emas Antam Kembali Naik

Kamis, 10 September 2026 | 09:57

KPK Bidik Pemilik PT CMC dan Cara Dapat Proyek di Bengkulu

Kamis, 10 September 2026 | 09:39

Banding Kasus Penyiraman Air Keras, Imparsial: Status Tak Boleh Beri Jalur Hukum Khusus

Kamis, 10 September 2026 | 09:38

IHSG Dibuka Hijau, Investor Cermati Sentimen Global

Kamis, 10 September 2026 | 09:31

Mentan Amran Berduka, Tiga Petugas Pertanian Tewas Ditembak di Jayawijaya

Kamis, 10 September 2026 | 09:18

Prabowo Tekankan Pentingnya Persatuan dan Kerukunan dalam Demokrasi

Kamis, 10 September 2026 | 09:11

Bupati Lahat: Indonesia Terus Dukung Kemerdekaan Palestina

Kamis, 10 September 2026 | 09:04

Selengkapnya