Berita

Ilustrasi. (Foto: Dokumentasi RMOL)

Politik

PDIP Soroti Kasus Febrie: Penegakan Hukum Tidak Boleh Tebang Pilih

SELASA, 28 JULI 2026 | 16:07 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

DPP PDIP menegaskan penegakan hukum harus dilakukan secara adil tanpa perlakuan berbeda terhadap siapapun, termasuk aparat penegak hukum yang tersandung perkara hukum.

Sekjen DPP PDIP Hasto Kristiyanto mengatakan suara masyarakat yang menyoroti proses hukum terhadap mantan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus), Febrie Adriansyah, harus didengar.

"Ya, suara rakyat harus didengar. Penegakan hukum tidak boleh tebang pilih, tidak boleh ada treatment yang berbeda. Kalau yang lain dikenakan rompi, borgol, harus diperlakukan sama," kata Hasto kepada wartawan di Sekolah Partai PDIP, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Selasa, 28 Juli 2026.


Menurut dia, apabila terdapat perlakuan yang berbeda dalam proses penegakan hukum, hal itu akan mencederai rasa keadilan masyarakat dan berpotensi menimbulkan risiko sosial maupun politik.

"Sekiranya hal tersebut tidak dilakukan, ada ketidakadilan dalam hukum, maka bisa menciptakan risiko sosial dan politik," ujarnya.

PDIP, lanjut Hasto, mengingatkan bahwa asas persamaan di hadapan hukum harus diwujudkan tidak hanya dalam norma, tetapi juga dalam perlakuan selama proses hukum berlangsung, khususnya terhadap perkara korupsi, penyalahgunaan jabatan, maupun dugaan tindak pidana pencucian uang (TPPU).

"Kesamaan kedudukan dalam hukum itu juga kesamaan treatment di dalam proses menghadapi kasus-kasus, apalagi yang berkaitan dengan korupsi, penyalahgunaan jabatan, dan dugaan terhadap tindak pidana pencucian uang," tegasnya.

Hasto juga menilai aparat penegak hukum yang terbukti melanggar hukum harus dijatuhi sanksi lebih berat karena memikul tanggung jawab sebagai penyelenggara negara.

"Supaya ada efek-efek jera. Itu harus ditunjukkan dengan penuh kesungguhan. Karena tanggung jawab dari pejabat negara, termasuk aparat penegak hukum yang melanggar hukum, itu konsekuensinya jauh, jauh lebih berat. Jangan sampai yang mencuri ayam itu harus mempertaruhkan nyawanya, dan kemudian ada ketidakadilan terhadap pelanggaran yang dilakukan oleh aparat penegak hukum,” jelasnya.

Terkait kemungkinan pengawasan DPR terhadap penanganan perkara tersebut, Hasto menyatakan PDIP mendukung penuh pelaksanaan fungsi pengawasan parlemen sebagai bagian dari mekanisme checks and balances dalam sistem demokrasi.

"Tentu. Demokrasi memerlukan pengawasan, checks and balances, termasuk dari DPR,” tegasnya.

Hasto mengingatkan, melemahnya kritik dan pengawasan terhadap lembaga negara dapat memicu krisis kepercayaan publik. Ia mengutip buku How Democracies Die yang menyebut bahwa pengabaian etika antarlembaga negara dan adanya intervensi terhadap institusi negara dapat menjadi benih lahirnya kerawanan politik, ekonomi, dan sosial.

"Ketika sistem politik tidak ada lagi kritik, ketika etika antarlembaga negara diabaikan, ketika ada intervensi antarlembaga negara, maka yang ada adalah benih-benih ketidakpercayaan dan kerawanan-kerawanan dalam sistem pemerintahan negara yang menciptakan risiko politik, ekonomi, dan sosial. Ini yang harus kita hindari karena kita adalah negara demokrasi, kita bukan negara otoriter," pungkasnya.


Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

UPDATE

Prabowo Apresiasi Rahmat Erwin Usai Raih Emas dan Pecahkan Rekor Dunia

Minggu, 27 September 2026 | 12:11

Partai Koalisi Bela Prabowo Mati-matian tapi Diam Saat Gibran Dikritik

Minggu, 27 September 2026 | 12:05

Daftar 10 Wilayah Terpanas 27 September 2026, Suhu Capai 37,4 Derajat

Minggu, 27 September 2026 | 11:57

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Spesifikasi Samsung Galaxy A08 Resmi Meluncur di Indonesia, Baterai 6.000 mAh

Minggu, 27 September 2026 | 11:37

Indonesia Calonkan Diri untuk Kursi Tidak Tetap DK PBB Periode 2029-2030

Minggu, 27 September 2026 | 11:04

Tak Ada Satupun Partai Koalisi Pasang Badan saat Gibran Hadapi Gugatan Ijazah

Minggu, 27 September 2026 | 10:31

KPK Amankan Perhiasan Diduga Emas Saat Geledah Kanwil BPN Jatim

Minggu, 27 September 2026 | 10:17

Perang Abad 21 Sudah Dimulai, tapi Mukan di Medan Tempur

Minggu, 27 September 2026 | 10:05

Sugiono: RI Percaya PBB, Tapi Multilateralisme Harus Lebih Representatif dan Gesit

Minggu, 27 September 2026 | 09:27

Selengkapnya