Berita

Ketua Dewan Nasional Setara Institute, Hendardi. (Foto: Istimewa)

Politik

Setara Institute Pertanyakan Akuntabilitas Penanganan Kasus Febrie

SABTU, 25 JULI 2026 | 21:29 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

Akuntabilitas dan independensi penanganan perkara mantan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Febrie Adriansyah, dipertanyakan Ketua Dewan Nasional Setara Institute, Hendardi. 

Hendardi menilai penahanan Febrie di Rumah Tahanan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tidak serta-merta menunjukkan bahwa penanganan perkara tersebut telah memenuhi prinsip independensi dan akuntabilitas.

Menurutnya, penggunaan fasilitas Rutan KPK tidak mengubah fakta bahwa proses penyidikan dan penuntutan perkara tetap berada dalam kendali Kejaksaan Agung, institusi tempat Febrie pernah menjabat sebagai salah satu pejabat tinggi.


“Penahanan mantan Jampidsus Febrie Adriansyah, di Rumah Tahanan KPK tidak boleh dipahami sebagai indikator bahwa penanganan perkara ini telah memenuhi prinsip independensi dan akuntabilitas,” kata Hendardi dalam keterangan resminya, Sabtu, 25 Juli 2026.

Ia bahkan menilai langkah tersebut lebih tepat dibaca sebagai manuver politik untuk membangun kesan bahwa Kejaksaan Agung menangani perkara Febrie secara objektif dan transparan.

Dalam perspektif akuntabilitas penegakan hukum, Hendardi menilai perkara yang melibatkan mantan pejabat tinggi Kejaksaan Agung semestinya ditangani lembaga penegak hukum lain yang lebih independen dan tidak memiliki hubungan kelembagaan maupun potensi konflik kepentingan dengan tersangka.

Ia menegaskan pentingnya prinsip nemo judex in causa sua, yakni tidak seorang pun boleh mengadili perkara yang menyangkut kepentingannya sendiri.

“Prinsip nemo judex in causa sua harus menjadi rujukan etik dan hukum dalam menjaga integritas proses penegakan hukum,” ujarnya.

Karena itu, Hendardi mendorong agar penanganan perkara Febrie dialihkan kepada KPK untuk memastikan independensi, objektivitas, dan kepercayaan publik terhadap proses hukum.

Menurutnya, keengganan Kejaksaan Agung menyerahkan perkara tersebut kepada KPK setidaknya dapat menimbulkan dua persoalan.

Pertama, terdapat potensi kepentingan untuk menjaga citra dan reputasi kelembagaan Kejaksaan Agung dari kemungkinan terungkapnya persoalan yang lebih luas.

“Penanganan secara internal memungkinkan institusi mengendalikan arah penyidikan, narasi publik, serta dampak politik dan kelembagaan yang ditimbulkan oleh perkara tersebut,” jelas Hendardi.

Ia menilai, dalam perkara yang menyangkut pejabat tinggi penegak hukum, persepsi publik mengenai independensi sama pentingnya dengan independensi itu sendiri.

Kedua, Hendardi menduga terdapat kekhawatiran apabila perkara tersebut ditangani secara independen oleh KPK, penyidik akan lebih leluasa menelusuri kemungkinan keterlibatan pihak lain yang memiliki hubungan dengan perkara tersebut.

Menurutnya, penanganan oleh Kejaksaan Agung berpotensi membuat perkara berhenti pada figur Febrie Adriansyah sebagai pihak yang menanggung seluruh beban perkara, tanpa berkembang kepada aktor lain yang mungkin memiliki tanggung jawab pidana.

“Baik secara horizontal terhadap sesama pejabat di lingkungan Kejaksaan Agung maupun secara vertikal kepada pihak-pihak yang memiliki posisi lebih tinggi atau relasi kekuasaan yang lebih kuat,” ujarnya.

Hendardi menilai penegakan hukum dengan pola demikian berisiko mengorbankan prinsip pengungkapan kebenaran secara menyeluruh atau full disclosure serta akuntabilitas yang utuh.

Menurutnya, kasus Febrie tidak semata-mata menyangkut pertanggungjawaban pidana seorang individu. Perkara tersebut juga berkaitan dengan kredibilitas sistem penegakan hukum dalam memberantas korupsi di institusi penegak hukum.

Karena itu, ukuran keberhasilan penanganan perkara Febrie tidak hanya terletak pada penetapan tersangka atau penahanan.

“Melainkan pada kemampuan aparat penegak hukum mengungkap seluruh rangkaian peristiwa pidana, seluruh pelaku yang terlibat, serta seluruh aliran manfaat yang dinikmati oleh pihak-pihak terkait,” tegas Hendardi.

Ia mengingatkan, tanpa pengungkapan menyeluruh, penanganan perkara tersebut berisiko hanya menghasilkan akuntabilitas yang bersifat semu.

Atas dasar itu, Hendardi kembali mendesak agar perkara Febrie segera dialihkan kepada KPK.

“Pengalihan tersebut bukan dimaksudkan untuk mendiskreditkan Kejaksaan Agung, melainkan untuk memastikan proses penegakan hukum berlangsung secara independen, bebas dari konflik kepentingan, dan memenuhi harapan publik akan pemberantasan korupsi yang tidak pandang bulu,” katanya.

Menurut Hendardi, pengalihan perkara tersebut kepada KPK dapat menjadi jawaban strategis atas ujian komitmen negara dalam menegakkan prinsip persamaan di hadapan hukum atau equality before the law.

“Hanya melalui mekanisme yang independen dan transparan, kepercayaan masyarakat terhadap institusi penegak hukum dapat dipulihkan,“ demikian Hendardi.

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

Menelusuri Perjalanan Baru Vision dalam Serial VisionQuest

Kamis, 15 Oktober 2026 | 10:29

Usai Mandek, Harga Emas Antam Langsung Anjlok Hari Ini

Kamis, 15 Oktober 2026 | 10:22

Polisi Rilis 13 Korban Ledakan Pertokoan Pasar Cimanggis Tangsel

Kamis, 15 Oktober 2026 | 10:17

COP31 Jadi Momentum Prabowo Percepat Transisi Energi

Kamis, 15 Oktober 2026 | 10:08

PM Baru Maroko Temui Raja, Bahas Pembentukan Pemerintahan Baru

Kamis, 15 Oktober 2026 | 10:03

Pertamina Kerahkan Armada Tambahan dan Terminal 24 Jam untuk Normalisasi BBM di Bal

Kamis, 15 Oktober 2026 | 09:54

4,4 Juta Sertifikat Halal Terbit Jelang Batas Akhir, Didominasi UMKM

Kamis, 15 Oktober 2026 | 09:46

Pengamat Dorong Percepatan Jargas dan CNG untuk Tekan Impor LPG

Kamis, 15 Oktober 2026 | 09:42

Rupiah Nyaris Tembus Rp18.000 per Dolar AS, BI Langsung Buka Suara

Kamis, 15 Oktober 2026 | 09:38

Badai PHK Melanda Netflix Saat Pertumbuhan Melambat

Kamis, 15 Oktober 2026 | 09:27

Selengkapnya