Berita

. Lima tokoh kiai menerima penghargaan dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) atas jasa dan pengabdiannya. (Foto: Dok PKB)

Politik

Lima Kiai Inspiratif Dianugerahi Penghargaan di Harlah PKB ke-28

JUMAT, 24 JULI 2026 | 12:39 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

Dalam rangkaian peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-28, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) menganugerahkan penghargaan kepada lima tokoh kiai yang dinilai berjasa besar dalam membumikan ajaran Islam sekaligus memperkokoh semangat kebangsaan.

Penghargaan tersebut diserahkan oleh Plt. Ketua Dewan Syuro DPP PKB KH. Manarul Hidayah dan Sekjen DPP PKB M Hasanuddin Wahid dalam puncak peringatan Harlah ke-28 PKB di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta, Kamis malam, 23 Juli 2026.

Wakil Ketua Umum DPP PKB, Cucun Ahmad Syamsurijal menyebut, kelima tokoh yang menerima penghargaan merupakan ulama yang sepanjang hidupnya mendedikasikan diri untuk pendidikan pesantren, dakwah Islam, serta penguatan persatuan bangsa.


Kang Cucun menegaskan bahwa penghargaan ini merupakan bentuk penghormatan PKB kepada para kiai yang konsisten mengajarkan nilai-nilai Islam yang berpadu dengan semangat kebangsaan.

"Penghargaan PKB ini kami persembahkan kepada para kiai yang berdakwah menanamkan nilai-nilai keislaman dalam satu tarikan napas yang menyatu dengan nasionalisme, Pancasila, dan cinta Tanah Air, menggunakan bahasa rakyat yang mudah dipahami oleh umat," ujar Cucun.

Menurutnya, para kiai tersebut telah menunjukkan bahwa kecintaan kepada Indonesia merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pengamalan ajaran Islam.

"Sepanjang hidup beliau-beliau mendedikasikan diri untuk mendidik umat dan rakyat bahwa mencintai Indonesia sama pentingnya dengan mencintai agamanya. Menerapkan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari sama mulianya dengan melaksanakan rukun Islam," lanjutnya.

Tokoh pertama yang menerima penghargaan adalah KH. Sahal Mahfudh (diwakili putranya, Gus Abdul Ghoffar Rozin). 
KH. Sahal Mahfudh merupakan Pengasuh Pondok Pesantren Maslakul Huda, Kajen, Pati, Jawa Tengah, sekaligus pernah menjabat Rais Aam PBNU periode 1999–2014. 

Ulama kharismatik ini dikenal sebagai sosok alim yang tidak hanya mengajar santri, tetapi juga aktif berdakwah ke berbagai daerah di Indonesia dengan membawa pesan keislaman, akhlak, nasionalisme, Pancasila, dan cinta Tanah Air.

Sosok kedua KH. Hasyim Muzadi (diwakili putranya, Gus Yusron Hasyim Muzadi). Pengasuh Pondok Pesantren Al Hikam dan Ketua Umum PBNU periode 2000–2010 ini dikenal sebagai ulama sekaligus intelektual yang konsisten menyebarkan nilai-nilai Islam moderat, nasionalisme, dan Pancasila. Dakwahnya menjangkau berbagai kalangan, mulai dari pengajian di kampung, forum akademik di perguruan tinggi, hingga dialog peradaban internasional.

Lalu KH. Imron Hamzah (diwakili istri beliau). KH. Imron Hamzah dikenal sebagai mubalig dan orator berkarisma dengan gaya dakwah yang tegas, berwibawa, namun mudah dipahami masyarakat. Selain aktif berdakwah, beliau pernah menjabat Ketua PWNU Jawa Timur serta anggota MPR RI pada periode 1987–1997.

Selanjutnya KH. Ahmad Faqih (diwakili putranya, KH. Mali Murtadlo, Lc.). Pengasuh Pondok Pesantren Al-Musri, Cianjur, ini dikenal sebagai kiai pejuang yang mengabdikan hidupnya untuk agama dan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Beliau pernah ditahan tentara Jepang karena terlibat perjuangan bersama KH. 

Zainal Mustofa melawan penjajahan. Pondok pesantren yang beliau dirikan juga pernah dibakar oleh tentara Belanda sebagai bagian dari perjuangan mempertahankan kemerdekaan.

Terakhir, KH. Bukhori Masruri (diwakili putranya, GusFarham Fuad). KH. Bukhori Masruri dikenal sebagai ulama, seniman, dan budayawan yang menjadikan seni sebagai media dakwah. Beliau mengajarkan nilai-nilai Islam, nasionalisme, Pancasila, dan persatuan bangsa melalui karya-karyanya. 

Ia merupakan pencipta lagu "Perdamaian" yang dipopulerkan grup legendaris Bimbo dan juga dikenal dengan nama pena Abu Ali Haidar. Selain itu, beliau pernah menjabat Ketua PWNU Jawa Tengah periode 1985–1995.

Melalui penghargaan ini, PKB menegaskan komitmennya untuk terus merawat warisan perjuangan para ulama dan pesantren yang telah meletakkan fondasi kuat bagi kehidupan beragama, berbangsa, dan bernegara. 

Keteladanan para kiai tersebut diharapkan menjadi inspirasi bagi generasi penerus dalam menjaga harmoni antara nilai-nilai keislaman, kebangsaan, dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Dakwaan Lemah, Perkara Chromebook Murni Rekayasa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 14:31

KPK Sita Rumah Mewah Milik Vinna Ledy Anggraheni di Jaksel

Selasa, 01 September 2026 | 11:03

UPDATE

Arah Pergerakan Ekonomi Nasional dalam Papan Catur Oligarki

Minggu, 06 September 2026 | 05:51

Breaking News: Bandara Soeta Ditutup!

Minggu, 06 September 2026 | 05:16

Sebaran Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau Terdeteksi Hingga Sumbar

Minggu, 06 September 2026 | 04:52

Menerima Dubes AS untuk ASEAN

Minggu, 06 September 2026 | 04:22

KKP Gelar Inspeksi Kapal Perikanan Demi Lindungi ABK Sesuai Konvensi ILO 188

Minggu, 06 September 2026 | 03:53

Ketika Rasa Sakit Direduksi Angka

Minggu, 06 September 2026 | 03:23

TelkomProperty Pastikan Optimalisasi Aset dan Memenuhi Prinsip Value Creation

Minggu, 06 September 2026 | 02:50

Jangan Ulangi Kesalahan Revolusi Biru

Minggu, 06 September 2026 | 02:21

Tidak Cukup Hanya Pakai Masker, Ini Bahaya Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau

Minggu, 06 September 2026 | 01:59

Photex Navy Force SGS 2026 Tampilkan Formasi Laut di Perairan Banten

Minggu, 06 September 2026 | 01:46

Selengkapnya