Berita

Ilustrasi (Artificial Inteligence)

Bisnis

Trump Berlakukan Tarif Baru untuk 60 Negara hingga 12,5 Persen

JUMAT, 24 JULI 2026 | 08:44 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Pemerintahan Amerika Serikat (AS) akan mulai memberlakukan tarif impor baru terhadap sekitar 60 mitra dagang pada Kamis, 23 Juli 2026, waktu setempat.

Kebijakan ini menggantikan tarif global sementara sebesar 10 persen yang sebelumnya diterapkan dan disebut mencakup hampir seluruh perdagangan barang AS dengan negara-negara tersebut.

Tarif baru itu berkisar 10-12,5 persen dan diterapkan berdasarkan Pasal 301 Undang-Undang Perdagangan 1974. Menurut Kantor Perwakilan Dagang AS (USTR), kebijakan tersebut akan mencakup sekitar 99,4 persen perdagangan AS dengan negara-negara yang menjadi sasaran. Namun, hingga saat ini pemerintah AS belum merilis daftar lengkap sekitar 60 negara yang akan dikenai tarif tersebut.


Pemerintah AS menyatakan kebijakan itu diambil karena negara-negara yang menjadi sasaran dinilai gagal mencegah praktik kerja paksa dalam perdagangan dengan Amerika Serikat. Seorang pejabat senior pemerintahan Trump menyebut langkah tersebut sebagai tindakan terbesar yang pernah dilakukan terkait hak-hak buruh internasional.

"Ini adalah tindakan hak buruh internasional paling komprehensif yang pernah diambil Amerika Serikat -- atau negara mana pun," kata seorang pejabat senior pemerintahan Trump, dikutip dari CNBC International.

Pejabat tersebut juga menegaskan tarif baru ini tidak akan ditambahkan di atas tarif baja dan aluminium yang sudah berlaku sebelumnya berdasarkan Section 232. Dengan kata lain, bea masuk tersebut berdiri sendiri dan tidak menambah tarif khusus untuk produk baja maupun aluminium.

Kebijakan terbaru ini menunjukkan Pemerintahan Presiden AS Donald Trump kembali mengandalkan tarif sebagai instrumen utama dalam kebijakan perdagangannya, meski sebelumnya sempat menghadapi hambatan hukum. 

Dalam beberapa pekan terakhir, pemerintah AS juga telah mengenakan tarif 25 persen terhadap sebagian besar impor dari Brasil serta mengumumkan tarif 50 persen untuk sejumlah produk asal Kanada yang dijadwalkan mulai berlaku bulan depan.

Pemerintahan Trump pertama kali mengusulkan tarif ini pada awal Juni setelah menyelesaikan penyelidikan mengenai dugaan praktik kerja paksa. Selain itu, pemerintah AS masih melakukan penyelidikan terpisah terhadap sekitar 16 negara terkait dugaan kelebihan kapasitas manufaktur, meski proses tersebut belum selesai.

Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer menegaskan pemerintah akan terus menggunakan tarif sebagai bagian dari strategi perdagangan untuk memperkuat industri dalam negeri.

"Kami berkomitmen untuk terus menggunakan tarif dan menegosiasikan kesepakatan guna mendukung reindustrialisasi ekonomi kami, melindungi pekerja Amerika, meningkatkan upah mereka, serta mengurangi defisit perdagangan," ujar Greer dalam kesaksiannya di Senat.

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Menteri Warisan Jokowi akan Bersih dari Kabinet Prabowo pada 2027

Jumat, 30 Oktober 2026 | 23:29

UPDATE

Diam-diam Nusron Wahid Datang ke KPK Tanpa Penjadwalan Pemeriksaan

Rabu, 04 November 2026 | 10:26

Harga Minyak Dunia Turun ke 103 Dolar AS

Rabu, 04 November 2026 | 10:17

Skandal Listyo Sigit jadi Pintu Masuk Seret Jokowi-Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 10:13

Kapolri Terlama yang Sukses Tanam Jagung jadi Tersangka Penyadapan Presiden, Mahfud MD: Gila!

Rabu, 04 November 2026 | 09:51

Laporan Keuangan Danantara Ditarget Rampung November 2026

Rabu, 04 November 2026 | 09:45

PT Djarum Bayar Cukai Tak Semestinya, Negara Rugi Triliunan Rupiah

Rabu, 04 November 2026 | 09:45

Prabowo Saja Bisa Disadap Apalagi Rakyat Jelata

Rabu, 04 November 2026 | 09:41

Perkuat Hilirisasi, NTB Berpeluang Jadi Sentra Industri Kelapa

Rabu, 04 November 2026 | 09:33

Listyo Sigit Lakukan Kejahatan Paling Jahat

Rabu, 04 November 2026 | 09:30

IHSG Merah, Mayoritas Saham Berguguran

Rabu, 04 November 2026 | 09:20

Selengkapnya