Berita

Jurnalis The Grey Zone Max Blumenthal dan Profesor Universitas Norwegia Glenn Diesen (Foto: YouTube Glenn Diesen)

Dunia

Max Blumenthal Soroti Ancaman Kebebasan Pers akibat Kemitraan AS-Israel

RABU, 22 JULI 2026 | 19:43 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Pemimpin Redaksi The Grey Zone, Max Blumenthal, menilai kemitraan erat antara Amerika Serikat (AS) dan Israel telah melahirkan ancaman baru terhadap kebebasan pers. 

Penilaian itu disampaikan setelah dirinya mengaku mengalami intimidasi berupa penyitaan perangkat elektronik oleh otoritas AS usai kembali dari Iran untuk menjalankan peliputan jurnalistik.

Dalam wawancara yang diunggah di kanal YouTube Glenn Diesen, Blumenthal menceritakan bahwa penyitaan terjadi setelah ia menolak isi ponselnya dilihat petugas saat pemeriksaan di bandara. 


Menurutnya, tindakan tersebut dilakukan tanpa dasar hukum yang jelas dan bertentangan dengan perlindungan konstitusional Amerika.

Blumenthal yakin perlakuan yang diterimanya berkaitan dengan pandangan politik serta liputan yang dilakukannya di Iran. 

Dia menuding ada kepentingan kelompok pro-Israel yang mendorong dirinya menjadi sasaran intimidasi. 

"Menurut saya, saya dijadikan target karena pandangan saya, karena pekerjaan jurnalistik saya, dan karena ada pihak-pihak yang pada dasarnya mengendalikan pemerintahan Trump dan kebijakannya terhadap Iran yang berasal dari Israel," ucapnya, dikutip pada Rabu, 22 Juli 2026.

Blumenthal menjelaskan, selama berada di Iran ia meliput berbagai lokasi yang terdampak serangan, mewawancarai pejabat, akademisi, hingga warga sipil, serta berusaha menampilkan sisi lain yang menurutnya jarang mendapat ruang di media Barat. 

Karena itu, ia menolak tudingan bahwa pekerjaannya bermotif politik ataupun kriminal. 

"Saya diserang karena saya membongkar para pelaku kejahatan, bukan karena saya melakukan kejahatan," tegasnya.

Lebih jauh, Blumenthal memperingatkan bahwa meningkatnya tekanan terhadap jurnalis menjadi sinyal memburuknya kebebasan pers di tengah konflik geopolitik yang kian memanas. 

"Kita sedang berada di masa yang sangat berbahaya, dan ini masa yang berisiko besar bagi jurnalisme independen. Kami di The Grey Zone ada di garis depan situ, dan kami diserang ke alasan itu," pungkasnya.

Populer

MA Koreksi Kerugian Negara Kasus Korupsi Timah, Bukan Rp300 Triliun

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 22:36

Giliran Kepemimpinan TNI Kembali Diberikan kepada Matra Laut

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 06:27

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

Keluarga Eks Pangkostrad Kemal Idris Akhirnya Raih Keadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:00

Kerumunan Massa saat Jokowi ke NTT Direkayasa

Senin, 03 Agustus 2026 | 13:39

Wewenang Ditjen Bea Cukai Sudah Melampaui Namanya

Minggu, 02 Agustus 2026 | 02:12

UPDATE

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

RUU Perampasan Aset Diusulkan Ganti Nama, Berikut Nomenklaturnya

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:07

Purbaya Sudah Cairkan Rp20,5 Triliun ke 490 Pemda buat Gaji PPPK

Selasa, 11 Agustus 2026 | 19:52

Koperasi Jadi Kunci Hilirisasi Sawit dan Penguatan Daya Tawar Petani

Selasa, 11 Agustus 2026 | 19:50

Songs for Sumatera-Human Initiative Pulihkan Fasilitas MIN 4 Aceh Tamiang

Selasa, 11 Agustus 2026 | 19:38

Subsidi Pertalite Bocor, Kelompok Kaya Masih Nikmati Kucuran Negara

Selasa, 11 Agustus 2026 | 19:32

Pengacara Gus Yaqut Bongkar Duduk Persoalan Pembagian Kuota Haji Tambahan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 19:16

Usai Bertemu Purbaya, Bahlil Bakal Perketat Orang Kaya yang Pakai Pertalite

Selasa, 11 Agustus 2026 | 18:58

12 Saksi Diperiksa, Sekretaris Kepala BGN Ikut Terseret Kasus MBG

Selasa, 11 Agustus 2026 | 18:46

Rudy Tanoe Irit Bicara soal Korupsi Penyaluran Bansos Usai Diperiksa KPK 4,5 Jam

Selasa, 11 Agustus 2026 | 18:42

Selengkapnya