Berita

Ilustrasi. (Foto: iStock)

Politik

Indonesia Harus Contoh Karakter Jepang dalam Pemberantasan Korupsi

SELASA, 21 JULI 2026 | 05:59 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

Karakter bangsa Jepang dalam menerapkan budaya malu sangat cocok menjadi percontohan bagi Indonesia dalam memberantas korupsi. 

Direktur Eksekutif Laboratorium Politik Hukum (Labpolhum) MHZ Centre, Muhammad Haris Zulkarnain menyatakan Jepang menjadi negara yang paling sukses dalam menerapkan pendidikan karakter pada setiap individu dan masyarakat lewat budaya malu (shame culture). 

“Kalau di era lampau saat era perang, budaya malu di Jepang ditunjukkan saat mereka tertangkap atau terkalahkan oleh pihak musuh, mereka akan memilih untuk melakukan harakiri (seppuku) atau bunuh diri untuk menjaga kehormatan diri dan keluarga mereka akibat kekalahan yang mereka alami,” ungkap Haris dalam keterangan yang diterima redaksi di Jakarta, Selasa, 21 Juli 2026. 


Sedangkan di era modern saat ini, Jepang saat ini punya budaya mundur dari jabatan publik, jika ia melakukan kesalahan dan penyimpangan kekuasaan. Kita sudah lihat banyaknya pejabat publik di Jepang yang mengundurkan diri karena kesalahannya,” tambahnya.

Lanjut dia, masyarakat Jepang memiliki kepekaan yang kuat terhadap dirinya, karena telah dididik sejak usia dini dengan pendidikan karakter. Sistem pendidikan di Jepang tidak hanya berkutat dengan ilmu pengetahuan saja, tetapi juga penanaman sikap sejak usia dini seperti perilaku mandiri, disiplin, jujur, empati, bahkan siswa di Jepang juga dibiasakan untuk berpikir kritis dalam kegiatan belajar di sekolah. 

“Malu bagi orang Jepang merupakan dimensi tanggung jawab dan kekuatan moral serta pembatas bagi seseorang untuk bertindak. Nilai luhur ini terawat dan lestari dari generasi ke generasi yang tentunya memerlukan waktu dan proses yang panjang. Tidak mudah untuk kita tiru dengan kondisi negara dan masyarakat saat ini,” pungkasnya.

Menteri Koordinator Bidang Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi, dan Pemasyarakatan Indonesia (Menko Kumham Imipas) Prof. Yusril Ihza Mahendra sebelumnya juga menilai bahwa pemberantasan korupsi di Indonesia tidak akan berhasil jika hanya mengandalkan aturan dan lembaga penegak hukum tanpa dibarengi dengan pembangunan kesadaran etika dan moral masyarakat.  



Populer

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

UPDATE

Cek Siaran Langsung Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026

Selasa, 22 September 2026 | 02:21

DPRD DKI Apresiasi Kebijakan Penutupan TPS Ilegal

Selasa, 22 September 2026 | 02:01

Indonesia Rebut 7 Medali di Aichi-Nagoya

Selasa, 22 September 2026 | 01:42

Ditjen AHU Perkuat Pengawasan Korporasi

Selasa, 22 September 2026 | 01:23

Wamendagri Ribka Haluk Berduka Tiga ASN Jadi Korban KKB

Selasa, 22 September 2026 | 01:01

Hasil Audit BPK Ditunggu dalam Kasus Toba Pulp Lestari

Selasa, 22 September 2026 | 00:37

Tiga Bulan Nganggur, Karyawan De Club Arjuna Geruduk Balai Kota

Selasa, 22 September 2026 | 00:26

Kejagung Periksa Dirut PT Migas Kota Bekasi terkait Dugaan Korupsi KSO

Selasa, 22 September 2026 | 00:01

80 Negara Siap Hadapi Wajib Sertifikasi Halal

Senin, 21 September 2026 | 23:47

KPK Harus Periksa Nusron Wahid demi Kepastian Hukum

Senin, 21 September 2026 | 23:31

Selengkapnya