PADA 28 Februari 2026, Amerika Serikat dan Israel menyerang Iran dengan tujuan yang dinyatakan tegas: mencegah Iran memperoleh senjata nuklir, menghancurkan rudalnya, dan “meratakan industri rudal ke tanah”. Trump menambahkan tidak akan ada kesepakatan kecuali penyerahan tanpa syarat, dan menyerukan rakyat Iran mengambil alih pemerintahan mereka. Keterlibatan Israel dominan--terutama dalam melumpuhkan jaringan proksi Iran, dari Hizbullah di Lebanon hingga milisi di Irak.
Empat setengah bulan kemudian, AS dan Iran saling menyerang karena persoalan rute kapal dagang. Israel nyaris tak terlihat. Yang diperdebatkan bukan sentrifugal, melainkan siapa yang berhak memungut biaya dari tanker yang melintas. Bagaimana tujuan sebuah perang bergeser sejauh itu?
Babak baru ini bukan kelanjutan perang lama dengan pemicu yang kebetulan berbeda. Ia perang dengan objek yang berbeda. Yang dipertaruhkan tidak lagi kapabilitas Iran, melainkan siapa yang berhak mengatur Selat Hormuz dan justru pergeseran objek inilah yang membuat perang ini lebih sulit diselesaikan, bukan lebih mudah.
Hormuz bukan tujuan perang AS pada 28 Februari, namun hanya gerak balasan Iran pada 27 Maret, ketika IRGC mengumumkan selat tertutup bagi kapal mana pun yang menuju atau dari pelabuhan AS, Israel, dan sekutu.
Sejak itu Iran tidak sekadar memakainya sebagai senjata--ia berupaya mengubahnya menjadi properti. Dalam lima poin tandingan 25 Maret 2026, Iran menuntut pengakuan internasional atas kedaulatannya atas Selat Hormuz. Dalam rencana 10 poin 6-8 April, ia menetapkan biaya 2 juta Dolar AS per kapal yang dibagi dengan Oman untuk membiayai rekonstruksi. Tuntutan yang sama muncul lagi dalam rencana komprehensif 10 Mei.
Hal itu menjadi sangat penting mengingat Iran menciptakan objek sengketa, lalu menuntut pengakuan atasnya. Islamabad Memorandum 17 Juni justru menegasikannya--pembukaan selat bebas tol, kebalikan dari yang dituntut Iran sejak Maret. Kesepakatan itu bertahan tiga minggu.
Bagi Iran, Hormuz adalah wilayah geografi menggantikan kekuatan. Hal itu menjadi wajar mengingat di setiap teater lain Iran kalah: pertahanan udaranya hancur, kapabilitas peluncuran rudalnya diklaim terdegradasi 90 persen, jaringan proksinya melemah sekaligus semi-otonom sehingga kendali Teheran tidak lagi dominan, dan nuklirnya belum bisa diakui.
Pada 2 Juli, komando militer gabungan Iran memperingatkan bahwa semua tanker yang melintas harus memakai rute yang disetujuinya. Pada 6 Juli, JMIC--badan multinasional yang diawasi Angkatan Laut AS--memberi tahu pelayaran bahwa rute mengitari Oman “telah diperluas dan tetap tersedia bagi seluruh lalu lintas”.
Pada 6-7 Juli, tiga kapal dihantam di rute Oman itu: tanker LNG Qatar Al Rekayyat dekat Limah, sebuah tanker minyak berbendera Saudi dekat perbatasan Oman–UEA, dan tanker ketiga oleh drone di lepas pantai Oman. Iran tidak pernah mengklaimnya secara resmi; televisi negaranya hanya mengisyaratkan, menyebut kapal itu “diserang setelah mengabaikan peringatan”.
Pejabat AS yang dikutip Axios mengatribusikannya ke IRGC. Dalam hitungan jam, AS membalas dan CENTCOM membingkainya sebagai penegakan perjanjian: Iran diberi kesempatan menunjukkan kepatuhan pada MoU tetapi kembali gagal.
Eskalasinya berlanjut. Pada 13 Juli Iran menyatakan melumpuhkan dua tanker. UEA menyatakan rudal Iran menghantam dua tankernya di perairan teritorial Oman, menewaskan satu awak. Trump memulihkan blokade, dan Brent melonjak 9,59 persen ke 83,30 Dolar AS--kenaikan harian terbesar dalam lebih dari enam tahun. Pada 16 Juli, malam keenam berturut-turut, serangan menghantam Qeshm, Bandar Abbas, Chabahar, Iranshahr, dan Bandar-e Khamir, lalu meluas ke Iran utara. Iran membalas ke aset militer AS di Kuwait, Bahrain, dan Yordania.
Dua hal membedakan babak ini dari awal perang di Februari, Pertama, perang Februari adalah operasi gabungan yang melibatkan Israel dengan tujuan mencakup jaringan proksi Iran. Serangan Juli adalah operasi AS, dibingkai CENTCOM atau United States Central Command--salah satu dari sebelas unified combatant command Kementerian Pertahanan AS, dan yang bertanggung jawab atas Timur Tengah. Kedua, korbannya negara Teluk, bukan AS atau Israel.
Kapal yang dihantam berbendera Qatar, Saudi, dan UEA-Qatar bahkan mediator dalam perundingan itu sendiri. Perang ini kini menghantam pihak yang berusaha mengakhiri.
Ironinya, kali ini kedua belah pihak menuntut hal yang sama. Sejak MoU Juni, Iran memang berulang kali mengancam dan menyerang kapal di Hormuz, berupaya memaksa kapal komersial dan komunitas internasional mengikuti rute dan protokol yang ditetapkan Iran. Tujuannya untuk mengendalikan selat dan memungut biaya.
Bagi AS, nilai strategis Hormuz terletak pada ukuran kegagalan yang dapat diturunkan ketika perubahan rezim dan denuklirisasi tidak tercapai, maupun kredibilitas hegemonik AS di wilayah Teluk. Pada 13 Juli, Trump menyatakan AS akan memungut biaya 20 persen dari kargo yang melintas. Sehari kemudian ia membatalkannya--menggantinya dengan “Kesepakatan Dagang dan Investasi yang akan dibuat berbagai Negara Teluk ke Amerika Serikat.
Maka pertarungannya bukan antara selat bebas versus selat bertol, namun antara siapa yang memegang loket tolnya. Iran menggeser dari “kedaulatan” ke “biaya jasa, bukan tol transit” sementara AS dari “tol 20 persen” ke “kesepakatan investasi Negara Teluk”.
Karena itu, pasca-gencatan senjata, AS meningkatkan serangan ke Iran. Trump mengumumkan blokade dikembalikan, dan Brent melonjak 9,59 persen ke 83,30 Dolar AS--kenaikan harian terbesar dalam lebih dari enam tahun.
Serangan AS ke Iran dimulai CENTCOM yang menyatakan bahwa IRGC menyerang kapal kontainer berbendera Siprus yang melintasi Hormuz; satu awak hilang. CENTCOM menyatakan bahwa Iran diberi kesempatan lagi menunjukkan kepatuhan pada MoU tetapi kembali gagal.
CENTCOM menyatakan bahwa serangan ditujukan untuk mendegradasi kemampuan Iran menyerang kapal komersial di Hormuz. Karena itu target serangannya adalah untuk memulai kembali blokade laut atas pelabuhan dan wilayah pesisir Iran. Sasarannya jelas, yaitu kapabilitas militer Iran yang dipakai mengancam kapal-kapal yang melintas bebas di Hormuz.
Sejak itu, AS melakukan serangan yang menghantam Pulau Qeshm, Bandar Abbas, Chabahar, Iranshahr, dan Bandar-e Khamir--bandara di Iranshahr, menara komunikasi di Bandar Abbas hingga listrik padam, dan jembatan di Bandar-e Khamir. AS kini memperluas serangan ke Iran utara. Sementara Iran membalas ke aset militer AS di Kuwait, Bahrain, dan Yordania.
Perubahan tujuan strategis AS kali ini bersifat sepenuhnya transaksional-komersial. Trump menegaskan bahwa AS akan memungut biaya 20 persen dari kargo yang melintasi Hormuz. AS berkeinginan untuk mengelola dengan menjadi menjadi penjaga Selat. Akibatnya, perang antar kedua negara tersebut kini berubah menjadi perang klaim hak pengelolaan wilayah Selat Hormuz.
Dengan perubahan tujuan strategis tersebut, maka dinamika global kini mengarah pada motivasi AS dalam menjaga dominasi hegemoni di bidang ekonomi di wilayah Timur Tengah sekaligus menegaskan langkah AS dalam mengurangi kemampuan asimetris Iran yang selama ini bergantung pada nilai strategis Selat Hormuz.
Hal ini mempersulit proses negosiasi mengingat masing-masing aktor yang memperebutkan wilayah yang selama ini menjadi penentu kegagalan AS sekaligus senjata asimetris utama Iran dalam menghadapi ancaman AS.
Yugolastarob Komeini
Peneliti senior bidang pertahanan dan hubungan internasional-Populi Center