Berita

Ilustrasi (Situs resmi Deutsche Bank)

Bisnis

Deutsche Bank Peringatkan Risiko Dolar Tertekan Jika The Fed Pilih Pangkas Neraca

SENIN, 20 JULI 2026 | 09:31 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

RMOL, Nilai tukar Dolar AS berpeluang tertekan apabila Federal Reserve (The Fed) memilih opsi penyusutan neraca (balance sheet) ketimbang menaikkan suku bunga acuan dalam menyeimbangkan kebijakan moneternya.

Deutsche Bank menilai, potensi pergeseran strategi ini mengemuka setelah bank sentral AS mengambil sikap lebih hawkish di bawah kepemimpinan Chairman anyar, Kevin Warsh. 

Berdasarkan proyeksi dot plot terkini, setidaknya separuh dari 18 anggota FOMC mengisyaratkan minimal satu kali kenaikan suku bunga pada tahun ini. Di saat yang sama, Warsh yang gencar menekankan komitmen pengendalian inflasi juga tengah menggelar evaluasi menyeluruh terhadap operasional kebijakan moneter The Fed.


Sebagai alternatif kenaikan suku bunga, The Fed dapat mengetatkan likuiditas dengan memangkas nilai neracanya yang saat ini berada di kisaran 6,7 triliun Dolar AS, turun dari level puncaknya sebesar 9 triliun Dolar AS pada 2022.

Kepala Riset Valuta Asing Global Deutsche Bank, George Saravelos, menyoroti rekam jejak Bank of Japan (BoJ) sebagai bahan perbandingan. Meski tergolong lambat menaikkan suku bunga, BoJ terhitung agresif menyerap likuiditas dengan membiarkan obligasi pemerintah (JGBs) yang jatuh tempo tanpa melakukan pembelian kembali.

Hasilnya, pengetatan lewat neraca terbukti gagal memperkuat Yen, yang bahkan sempat terperosok ke level terendah dalam empat dekade, karena tidak diimbangi kenaikan imbal hasil obligasi jangka pendek. Bagi Saravelos, hal ini mempertegas bahwa lonjakan yield obligasi jangka panjang AS tanpa dukungan kenaikan suku bunga jangka pendek tidak akan mampu memberi dorongan positif bagi greenback.

Di luar efeknya terhadap nilai tukar, skema pemangkasan neraca berisiko memicu konflik antara The Fed dan pemerintah AS. Pemerintah berkepentingan menjaga yield obligasi tenor panjang tetap rendah demi menekan beban bunga utang negara—situasi yang serupa dengan tekanan terhadap independensi BoJ di Jepang.

Deutsche Bank menambahkan, porsi kepemilikan surat utang AS oleh The Fed sebenarnya belum terhitung berlebihan jika dibandingkan dengan skala ekonomi negara maupun standar bank sentral global lainnya. Oleh sebab itu, bank investasi asal Jerman ini meragukan efektivitas penyusutan neraca sebagai instrumen penjinak inflasi.

Apabila The Fed benar-benar mengalihkan fokus pengetatan moneter dari suku bunga ke pengurangan neraca, Deutsche Bank menegaskan bahwa dinamika tersebut akan menjadi sinyal negatif yang nyata bagi prospek Dolar AS.


Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

Suyudi Pede Gusur Puluhan Pati-Pamen Loyalis Listyo

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:09

UPDATE

Perpres Pelindungan Ojol Jangan Berhenti di Atas Kertas

Minggu, 11 Oktober 2026 | 06:29

Awasi Ketat Penggunaan Anggaran Operasi Modifikasi Cuaca

Minggu, 11 Oktober 2026 | 06:16

Sakelar Cahaya di Dalam Otak

Minggu, 11 Oktober 2026 | 06:04

Kartu Nikah Digital Bisa Diakses melalui Simkah, Ini Caranya!

Minggu, 11 Oktober 2026 | 05:44

Nusron Wahid Bikin KPK Tidak Berkutik

Minggu, 11 Oktober 2026 | 05:24

Dulu di Depok Banyak Maling dan Begal, Sekarang Aman

Minggu, 11 Oktober 2026 | 05:08

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Puluhan Korban Investasi Emas Polisikan Direksi PT DGJ

Minggu, 11 Oktober 2026 | 03:33

Tragedi Affan dan Bambang Jangan Terulang

Minggu, 11 Oktober 2026 | 03:14

Selengkapnya