Berita

Koordinator Nasional (Kornas) Jaringan Pendidikan Pemilih untuk Rakyat (JPPR), Rendy Umboh. (Foto: RMOL/Ahmad Satryo)

Politik

JPPR Soroti Standar Ganda DKPP dalam Kasus Tio Aliansyah, Eksistensi Lembaga Dinilai Perlu Dievaluasi

KAMIS, 16 JULI 2026 | 12:22 WIB | LAPORAN: AHMAD SATRYO

Penerapan standar etik oleh Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) kembali menuai sorotan. Jaringan Pendidikan Pemilih untuk Rakyat (JPPR) menilai DKPP menerapkan standar ganda dalam menangani dugaan pelanggaran etik yang melibatkan anggota internalnya.

Koordinator Nasional JPPR, Rendy Umboh, mengkritik proses pemeriksaan terhadap Anggota DKPP RI, Tio Aliansyah, dalam kasus dugaan pelanggaran etik terkait penggunaan helikopter oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU). Menurutnya, pemeriksaan terhadap Tio tidak dilakukan secara terbuka sebagaimana lazimnya persidangan etik di DKPP.

"DKPP ini kan sebetulnya berdirinya jadi perbincangan juga. Ini masih diperlukan lagi nggak? Kan lembaga etik. Karena banyak problem etik yang memang standar DKPP ini agak membingungkan," ujar Rendy saat ditemui di Kantor Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) RI, Jakarta Pusat, Rabu 15 Juli 2026. 


Rendy menilai kasus tersebut seharusnya menjadi momentum bagi DKPP untuk mengevaluasi petunjuk teknis (juknis) penanganan dugaan pelanggaran Kode Etik Penyelenggara Pemilu (KEPP), khususnya ketika perkara melibatkan anggota DKPP sendiri.

Menurutnya, tidak cukup jika Tio hanya dilarang mengikuti persidangan perkara dugaan pelanggaran etik terkait helikopter KPU. Sebagai anggota majelis etik, Tio seharusnya juga dibebastugaskan sementara hingga proses pemeriksaan selesai.

"Majelis etik itu tidak boleh bersidang dan harus nonaktif. Harus nonaktif. Harus dia (Tio Aliansyah) berhenti sementara," tegasnya.

Rendy, yang akrab disapa Rambo, juga mengingatkan pandangan Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FH UI), Prof. Jimly Asshiddiqie, mengenai perbedaan antara hukum etik (*rule of ethics*) dan hukum positif (rule of law).

"Kalau Prof. Jimly bilang, beda rule of ethics dan rule of law. Rule of law itu tertulis. Masa anggota DKPP tidak mengerti rule of ethics? Berhenti saja," ujarnya.

Selain itu, Rendy menekankan pentingnya prinsip kesetaraan di hadapan hukum dalam penegakan etik di DKPP. Menurutnya, apabila penyelenggara pemilu lain diperiksa secara terbuka, maka anggota DKPP yang diduga melakukan pelanggaran etik juga harus menjalani proses yang sama.

"Ini kan sidang DKPP terbuka. Kalau memang ada dugaan keterkaitan dia (Tio Aliansyah) dalam perkara penggunaan helikopter, ya disidang saja. Nggak fair dong," katanya.

Ia juga mengingatkan potensi konflik kepentingan apabila seorang anggota DKPP yang diduga terkait perkara tetap memiliki peran dalam proses pengambilan keputusan.

"Kalau yang lain diperiksa, sementara dia yang naik helikopter tidak diperiksa lalu ikut memutus perkara, kemudian seolah-olah direhabilitasi karena dia ikut di dalamnya, itu bagaimana?" ujar Rendy.

Menurut JPPR, konsistensi penerapan standar etik menjadi kunci menjaga kredibilitas DKPP sebagai lembaga penegak kode etik penyelenggara pemilu. Oleh karena itu, evaluasi terhadap mekanisme penanganan perkara yang melibatkan unsur internal dinilai penting untuk menjaga kepercayaan publik terhadap lembaga tersebut.


Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

UPDATE

Sopir BYD Penyebab Tabrakan Beruntun di Jaksel jadi Tersangka

Senin, 26 Oktober 2026 | 05:52

Asuransi Tugu Pratama Indonesia Digugat Rp3,51 Miliar ke PN Jaksel

Senin, 26 Oktober 2026 | 05:27

Sukseskan Kemandirian Pangan, Petani Adat Wanam Butuh Pendampingan

Senin, 26 Oktober 2026 | 05:10

DPO Illegal Tapping Pertamina EP Jambi Sukses Diringkus Berkat Sinergitas

Senin, 26 Oktober 2026 | 04:50

TNI Kirim 4,6 Ton Dry Ice ke Banjarmasin dan Palembang Sukseskan OMC Akhiri Karhutla

Senin, 26 Oktober 2026 | 04:25

Refleksi Kisah Nabi Musa AS dan Fir'aun dalam 2 Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran

Senin, 26 Oktober 2026 | 03:34

Walkot Bandung Kedepankan Koordinasi Sikapi Bentrokan Berdarah Pasar Caringin

Senin, 26 Oktober 2026 | 03:14

Startup Binaan IPB Raih Potensi Kerja Sama Rp1 Miliar Tembus Pasar Oman

Senin, 26 Oktober 2026 | 02:47

Dari Nasionalisme ke Tata Kelola dan Reformasi Pasar Modal Indonesia

Senin, 26 Oktober 2026 | 02:17

Boris Tampubolon Beri Tiga Alasan Pasal Kerugian Negara Harus Direvisi

Senin, 26 Oktober 2026 | 01:43

Selengkapnya