Berita

Gedung Bank Indonesia (Foto: RMOL/Reni Erina)

Bisnis

PFII Jadi Instrumen Baru Perkuat Sektor Eksternal dan Daya Tarik Investasi

KAMIS, 16 JULI 2026 | 10:02 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Pembentukan Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII) dinilai menjadi langkah strategis untuk memperkuat sektor eksternal nasional sekaligus meningkatkan daya tarik investasi. 

Bank Indonesia (BI) mendukung penuh inisiatif pemerintah tersebut karena diyakini dapat membantu mengatasi defisit neraca jasa yang selama ini membebani neraca pembayaran Indonesia.

Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, mengatakan Indonesia selama ini konsisten mencatat surplus perdagangan barang. Namun, defisit di sektor jasa masih menjadi tantangan utama bagi kinerja sektor eksternal.


"Tantangan terbesar ekonomi kita saat ini ada di sektor eksternal. Selama ini kita sudah mempunyai surplus dalam perdagangan barang, tetapi untuk jasa kita masih defisit," ujar Destry dalam Investment Forum 2026 di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Rabu 15 Juli 2026.

Menurutnya, kehadiran PFII diharapkan tidak hanya memperbaiki struktur neraca pembayaran, tetapi juga menjadi magnet bagi masuknya investasi asing, baik investasi portofolio untuk memperkuat likuiditas pasar keuangan maupun investasi langsung (foreign direct investment/FDI) ke sektor riil.

Destry menilai investasi di sektor riil memiliki dampak jangka panjang karena mampu menciptakan lapangan kerja, menggerakkan aktivitas ekonomi, serta meningkatkan kepercayaan investor terhadap prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Selain mendukung pembentukan PFII, BI juga menyambut positif pembentukan PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI). Penyatuan pengelolaan ekspor sumber daya alam dinilai dapat memperbaiki tata kelola perdagangan dengan menekan praktik manipulasi seperti under-invoicing dan transfer pricing.

Menurut Destry, upaya tersebut akan semakin efektif jika didukung keberadaan bursa mineral yang dapat menciptakan sistem transaksi yang lebih transparan, akurat, dan berlangsung secara real-time. Dengan demikian, nilai tambah dari kekayaan sumber daya alam Indonesia diharapkan dapat dioptimalkan bagi perekonomian nasional.

Populer

Kafe Diduga terkait Jampidsus Digeledah

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36

Mapolda Metro Dijaga Ketat

Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04

Oknum Prajurit di Lokasi Penggeledahan di Luar Mandat TNI

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Beredar Surat Diduga dari Kejagung untuk Konsolidasi Usai Penggeledahan Cafe de' CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53

Presiden Pasti Tahu Dinamika Penggeledahan Cafe de’CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

UPDATE

Gol Dramatis Lautaro Martínez Bawa Argentina ke Final

Kamis, 16 Juli 2026 | 04:20

KPK Watch Dorong DPR Percepat Bahas RUU Perampasan Aset

Kamis, 16 Juli 2026 | 04:03

Klaster Asabri-Jiwasraya dari Suap, Gratifikasi, hingga Pencucian Uang

Kamis, 16 Juli 2026 | 03:30

Pecat Jaksa Agung ST Burhanuddin!

Kamis, 16 Juli 2026 | 03:08

Pemilu 2029 Inkonstitusional Jika UU Pemilu Tak Direvisi

Kamis, 16 Juli 2026 | 03:04

Gus Miftah Terima Uang Haram Rp100 Juta? Ah, Jangan Bercanda

Kamis, 16 Juli 2026 | 02:40

Fahira Idris: Ancaman Bom Bukan Candaan!

Kamis, 16 Juli 2026 | 02:08

Kasus Febrie Adriansyah Berpeluang Antiklimaks

Kamis, 16 Juli 2026 | 02:00

Dominasi Agrinas di KDKMP Membahayakan Desa

Kamis, 16 Juli 2026 | 02:00

Kejagung Bikin Dagelan Kasus Febrie Adriansyah

Kamis, 16 Juli 2026 | 01:18

Selengkapnya