Berita

Lionel Messi. (@ESPNUK)

Publika

Argentina dan Jump Scare Menit Akhir

KAMIS, 16 JULI 2026 | 05:07 WIB | OLEH: AGUNG NUGROHO*

TIDAK semua film horor dimulai dengan suara jeritan. Justru film horor terbaik selalu diawali dengan suasana yang tenang, membuat penonton lengah sebelum akhirnya diteror habis-habisan. 

Begitulah semifinal Piala Dunia 2026 antara Argentina dan Inggris. Bagi para penonton di Indonesia yang rela begadang hingga dini hari, pertandingan ini bukan hanya menguras emosi, tetapi juga sukses membuat detak jantung naik-turun lebih cepat daripada harga cabai.

Babak pertama berjalan seperti adegan pembuka film horor. Tidak banyak peluang bersih tercipta, tetapi ketegangan terasa di setiap sentuhan bola. 


Argentina berusaha menguasai permainan, sementara Inggris tampil disiplin menunggu kesempatan menyerang balik. Bahkan, kalau ada yang sempat ke dapur membuat kopi, kemungkinan besar kopinya sudah keburu dingin karena terlalu sering bolak-balik ke depan televisi.

Memasuki babak kedua, cerita mulai berubah. Pada menit ke-55, Anthony Gordon berhasil memanfaatkan celah di lini belakang Argentina dan membawa Inggris unggul 1-0. 

Stadion bergemuruh. Pendukung Inggris mulai membayangkan tiket final sudah di depan mata. Bahkan mungkin ada yang diam-diam membuka aplikasi pesan untuk mengetik, "See you di final!" Untung saja belum sempat menekan tombol kirim.

Keunggulan itu membuat Inggris semakin percaya diri. Waktu yang terus berjalan terasa menjadi sekutu mereka, sementara bagi Argentina setiap menit yang berlalu seperti menghitung mundur menuju akhir cerita. Masalahnya, sepak bola punya kebiasaan buruk: sering merusak pesta tepat ketika para tamu baru saja mengambil piring.

Namun, setiap penonton film horor tahu satu aturan sederhana. Ketika musik latar tiba-tiba berhenti, biasanya bukan karena filmnya selesai. Justru saat itulah sesuatu akan muncul dari balik pintu.

Dan tepat ketika dini hari semakin larut, banyak orang mengira yang akan muncul hanyalah rasa kantuk.

Ternyata bukan.....

Yang muncul adalah Argentina.

Albiceleste menaikkan intensitas permainan. Tekanan demi tekanan memaksa Inggris bertahan semakin dalam. Jordan Pickford terus mengoordinasikan lini belakangnya agar tidak kehilangan fokus. Namun semakin dekat peluit akhir, semakin besar pula tekanan yang datang ke pertahanan Inggris.

Lalu datang jump scare pertama.

Menit ke-85, Lionel Messi menemukan ruang sempit dan mengirim umpan matang yang diselesaikan Enzo Fernández menjadi gol penyama kedudukan.

Gol. Skor berubah menjadi 1-1.

Dalam hitungan detik, suasana berubah total. Pendukung Argentina kembali bernyanyi, sementara pendukung Inggris mendadak diam. Diamnya bukan karena tidak ada suara, tetapi karena masing-masing sedang sibuk berdoa dalam hati, "Jangan sampai kebobolan lagi..."

Sayangnya, sepak bola memang hobi melanjutkan kalimat yang diawali dengan kata "jangan sampai."

Ketika injury time memasuki menit-menit terakhir, Lionel Messi kembali mengangkat kepala. Sebuah umpan silang presisi meluncur ke jantung pertahanan Inggris. Lautaro Martínez datang dari belakang dan menyambutnya dengan sundulan yang mengubah arah pertandingan.

Gol. Argentina berbalik unggul 2-1.

Di situlah jump scare terakhir muncul.

Kalau ada alat pengukur tekanan darah di tribun malam itu, hasilnya mungkin sudah cukup dijadikan bahan penelitian fakultas kedokteran. 

Pendukung Argentina yang beberapa menit sebelumnya nyaris putus asa kini saling berpelukan dengan siapa saja di sebelahnya, bahkan mungkin dengan orang yang baru dikenalnya lima menit sebelumnya. 

Sebaliknya, pendukung Inggris mendadak menjadi ahli teori. Mulai bermunculan kalimat seperti, "Kalau tadi bolanya dibuang...", "Kalau tadi bertahan sedikit lebih rapat...", hingga "Kalau waktu bisa diputar lagi..." -- sebuah profesi dadakan yang hampir selalu muncul setelah kekalahan dramatis.

Peluit panjang akhirnya berbunyi. Bagi Inggris, pertandingan ini adalah film horor dengan akhir yang paling menyakitkan: kemenangan yang sudah di depan mata berubah menjadi mimpi buruk hanya dalam hitungan menit. 

Sebaliknya, bagi Argentina, laga ini kembali menegaskan karakter mereka sebagai tim yang tidak pernah berhenti percaya sampai detik terakhir.

Sementara itu, bagi para penonton di Indonesia, rasa kantuk yang sempat datang di awal pertandingan mendadak lenyap tanpa bekas. Tidak perlu kopi tambahan. Dua gol Argentina di penghujung laga sudah lebih dari cukup menjadi "alarm" yang membangunkan seluruh isi rumah.

Kini, Spanyol telah menunggu di partai final. Namun semifinal ini meninggalkan satu pelajaran sederhana bagi siapa pun yang akan menghadapi Albiceleste.

Melawan Argentina, keunggulan satu gol bukanlah akhir cerita. Justru di situlah film horornya sering kali baru benar-benar dimulai.

Pemain bola kampung

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

UPDATE

Ini Pesan Denny Indrayana Jelang Putusan MK

Selasa, 06 Oktober 2026 | 16:23

IHSG Melesat 1,21 Persen, Rupiah Jauhi Rp18.000 per Dolar AS

Selasa, 06 Oktober 2026 | 16:12

Menhaj Godok Kunjungan Wisata Jemaah Haji dan Umrah ke Yordania

Selasa, 06 Oktober 2026 | 16:11

Prabowo Hadiri Penyerahan Uang Sitaan Negara Rp13,2 Triliun di Kejagung

Selasa, 06 Oktober 2026 | 16:09

Penempatan Manajer Sesuai Karakter Wilayah Jadi Kunci Keberhasilan Kopdes

Selasa, 06 Oktober 2026 | 16:04

Komisi III DPR Dukung Perombakan Pejabat Polri untuk Regenerasi

Selasa, 06 Oktober 2026 | 15:58

Komoditas Pangan Jadi Penyumbang Utama Inflasi di Jakarta

Selasa, 06 Oktober 2026 | 15:50

Ferry Juliantono Dorong Kolaborasi Kampus dan Pemda Kembangkan Koperasi

Selasa, 06 Oktober 2026 | 15:44

KPK Ingatkan Nusron Wahid soal Kewajiban Hadiri Panggilan Penyidik

Selasa, 06 Oktober 2026 | 15:40

Penampakan Tumpukan Uang Sitaan Negara Rp13,2 Triliun di Kejagung

Selasa, 06 Oktober 2026 | 15:39

Selengkapnya