Berita

Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo saat silaturahmi dengan Jaksa Agung Sanitiar Burhanuddin dan jajaran di Gedung Kejaksaan Agung Republik Indonesia, Jalan Sultan Hasanuddin Nomor 1, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan pada Senin, 13 Juli 2026. (Foto: Humas Mabes Polri)

Publika

Polisi dan Jaksa Akhirnya Damai

RABU, 15 JULI 2026 | 01:19 WIB

SETELAH beberapa hari kita gelar tikar, menyaksikan duel cokelat muda vs cokelat tua, akhirnya berujung damai. Damai itu indah. Kasihan si mantan Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus (Jampidsus), Febrie Adriansyah, menjadi tumbal dari perseteruan dua institusi hukum ini. 

Senin, 13 Juli 2026, sekitar pukul 15.25 WIB, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo datang ke Gedung Kejaksaan Agung setelah sebelumnya berkunjung ke Mabes TNI. Didampingi Wakapolri dan jajaran, ia disambut Jaksa Agung ST Burhanuddin beserta para petinggi Kejagung di Aula Lantai 11 Gedung Utama. Pertemuannya tertutup. Keluar ruangan, wajah semua berseri. Konferensi pers pun dimulai.

Kalimat yang terdengar indah sekali. Sinergi. Soliditas. Tidak ada rivalitas. Polri dan Kejagung tidak bisa dipisahkan. Rakyat yang sudah duduk rapi di atas tikar mulai melirik kanan-kiri. "Lho... adegan bongkar-bongkarannya mana?" Tidak ada.


Yang bertebaran justru kata "koordinasi". Kalau kata "sinergi" dijual per kilogram, stok nasional mungkin langsung habis sore itu.

Padahal publik menonton bukan tanpa alasan. Beberapa hari sebelumnya, eks Jampidsus Febrie Adriansyah baru ditetapkan Polri sebagai tersangka dugaan korupsi, suap, pemerasan, dan tindak pidana pencucian uang. 

Penyidik menyebut ada aset besar, termasuk emas dan uang miliaran rupiah. Tiga perkara terkait juga sudah dilimpahkan ke Kejagung. Maka wajar bila banyak orang berharap film ini berubah menjadi operasi besar-besaran. Eh, yang muncul malah foto bersama. 

Ketika wartawan bertanya soal Febrie, Jaksa Agung memilih meminta pertanyaan itu disampaikan kepada juru bicara. Bola pertanyaan meluncur begitu mulus sampai mungkin satelit pun kehilangan jejaknya.

Netizen pun langsung menjadi analis tingkat profesor. Sebagian berkata, "Bagus, penegak hukum memang harus saling melengkapi." Sebagian lagi menjawab, "Semoga jangan berubah menjadi saling melindungi."

Kalimat terakhir itu pendek, tetapi pedasnya seperti cabai dicampur merica, wasabi, dan klakson bus yang bunyinya “Aku akan lawan…aku akan lawan.”

Rumor kemudian ikut berlari maraton. Ada mengatakan Febrie sedang umrah. Ada pula yakin beliau sudah pergi ke luar negeri. Kejagung buru-buru membantah. 

Kapuspenkum Anang Supriatna menegaskan pada 13 Juli 2026, Febrie masih berada di Indonesia, telah dicegah bepergian ke luar negeri oleh Imigrasi atas permintaan penyidik, dan pergerakannya dipantau. Jadi cerita umrah itu dinyatakan tidak benar.

Di sinilah rakyat kembali terkena kutukan abadi, serba salah. Percaya, dibilang polos. Bertanya, dibilang gaduh lalu disuruh pergi ke negara lain. Diam, malah penasaran.

Rasanya menjadi warga negara sekarang seperti membeli tiket film aksi, trailernya penuh ledakan, tetapi isi filmnya dua jam seminar tentang pentingnya kerja sama antarlembaga.

Tentu saja, pertemuan ini bukan berarti tidak akan ada lagi penindakan terhadap petinggi Polri maupun Kejagung. Tidak ada pernyataan resmi seperti itu. Semua tetap bergantung pada bukti, penyidikan, transparansi, dan proses hukum yang berjalan.

Namun rakyat juga punya ingatan. Terlalu sering menyaksikan trailer yang membuat jantung berdebar, lalu pulang dengan ending yang menggantung.

Akhirnya tikar digulung. Kopi keburu dingin. Koptagul masih utuh. Happy ending yang ditunggu berubah menjadi sad ending.

Damai memang indah. Hanya saja, rakyat diam-diam berharap damai itu menjadi awal berburu para koruptor, bukan sekadar akhir dari perseteruan para petinggi membuat penonton pulang sambil bergumam, "Lho... kok tamatnya begini?"

Dengan adanya “damai itu indah” ini, kalian para menteri, anggota dewan, kepala daerah, pengusaha, kepala dinas, kepala desa, siapapun pejabatnya, bersiap-siap kalian jadi bidikan. Sebab, bila polisi dan jaksa bersatu, tak ada bisa melawannya. Hanya ada dua kemungkinan, kalian dijebloskan ke penjara, atau ATM kalian dikuras habis. 

Jangan berharap lagi ada petinggi polisi maupun kejaksaan bisa dijebloskan ke penjara. Sebab, mereka sudah “damai itu indah.”

Rosadi Jamani
Wartawan senior

Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

UPDATE

Sopir BYD Penyebab Tabrakan Beruntun di Jaksel jadi Tersangka

Senin, 26 Oktober 2026 | 05:52

Asuransi Tugu Pratama Indonesia Digugat Rp3,51 Miliar ke PN Jaksel

Senin, 26 Oktober 2026 | 05:27

Sukseskan Kemandirian Pangan, Petani Adat Wanam Butuh Pendampingan

Senin, 26 Oktober 2026 | 05:10

DPO Illegal Tapping Pertamina EP Jambi Sukses Diringkus Berkat Sinergitas

Senin, 26 Oktober 2026 | 04:50

TNI Kirim 4,6 Ton Dry Ice ke Banjarmasin dan Palembang Sukseskan OMC Akhiri Karhutla

Senin, 26 Oktober 2026 | 04:25

Refleksi Kisah Nabi Musa AS dan Fir'aun dalam 2 Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran

Senin, 26 Oktober 2026 | 03:34

Walkot Bandung Kedepankan Koordinasi Sikapi Bentrokan Berdarah Pasar Caringin

Senin, 26 Oktober 2026 | 03:14

Startup Binaan IPB Raih Potensi Kerja Sama Rp1 Miliar Tembus Pasar Oman

Senin, 26 Oktober 2026 | 02:47

Dari Nasionalisme ke Tata Kelola dan Reformasi Pasar Modal Indonesia

Senin, 26 Oktober 2026 | 02:17

Boris Tampubolon Beri Tiga Alasan Pasal Kerugian Negara Harus Direvisi

Senin, 26 Oktober 2026 | 01:43

Selengkapnya