Berita

Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri, Presiden José Ramos-Horta, Perdana Menteri Xanana Gusmão (Foto: Dok PDIP)

Politik

Megawati Ajak Timor Leste Gotong Royong Hadapi Tantangan Geopolitik Global

SABTU, 11 JULI 2026 | 07:54 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

Hubungan antara Indonesia dan Timor Leste telah melampaui sekat-sekat konflik masa lalu dan menemukan jalan peradaban baru yang kokoh, yakni mengingat tanpa mendendam dan memaafkan tanpa melupakan. 

Demikian disampaikan Presiden ke-5 RI yang juga Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri, saat menyampaikan Kuliah Kepresidenan (Presidential Lecture) bertajuk "Dua Negara Merangkai Cita-Cita Bersama" di Dili, Timor-Leste, dikutip Sabtu, 11 Juli 2026.

Di hadapan Presiden Jose Ramos-Horta, Perdana Menteri Xanana Gusmão, dan pejabat tinggi setempat, Megawati menyatakan bahwa luka sejarah di antara kedua negara kini telah berhasil diubah menjadi ikatan persaudaraan yang kuat. 


Hubungan erat itu ditopang oleh keberanian moral dari dua negara yang memang ditakdirkan hidup berdampingan sebagai tetangga yang setara.

Membuka kuliahnya, Megawati mengenang kembali momentum historis 24 tahun lalu, tepatnya tengah malam 20 Mei 2002 di Padang Tasitolu, saat ia menghadiri langsung upacara restorasi kemerdekaan Timor-Leste selaku Presiden RI. 

Megawati pun membagikan pergolakan batinnya kala itu yang harus menyaksikan bendera Merah Putih diturunkan. Bendera tersebut memiliki arti emosional mendalam karena dijahit pertama kali oleh ibundanya, Ibu Fatmawati.

Meskipun banyak pihak di masa itu mempertanyakan kehadirannya dan menganggapnya sebagai malam perpisahan, Megawati menegaskan pandangan sebaliknya. 

"Selama 24 tahun saya menyimpan rapat jawaban itu. Peristiwa itu bukanlah tragedi perpisahan. Malam itu menjadi saksi lahirnya Timor-Leste sebagai saudara Indonesia. Itulah makna rekonsiliasi sejati," ungkap Megawati.

Dalam kuliahnya itu, Megawati menggulirkan sejumlah isu krusial bagi masa depan kedua negara.

Seperti, Kepemimpinan Perempuan; dimana ia berbagi pengalaman sebagai presiden perempuan pertama Indonesia. Megawati memotivasi kaum perempuan Timor-Leste untuk tidak takut masuk ke ruang pengambilan keputusan. Megawati menekankan bahwa konstitusi menjamin kesetaraan hak hukum. 

"Tuhan memberikan kekuatan biologis dan mental yang luar biasa kepada perempuan. Perempuan tidak hanya melahirkan anak manusia, tapi juga melahirkan dan membesarkan bangsa," tegasnya.

Kedua, mengenai Aturan Hukum Teknologi AI. Megawati memperingatkan Timor-Leste agar mulai merancang undang-undang ketat terkait penyalahgunaan Artificial Intelligence (AI). 

Ia menceritakan anekdot filosofis kemanusiaan saat menyampaikan kuliah di Rusia, serta pengalaman pribadinya di Indonesia yang menjadi korban manipulasi wajah oleh oknum iklan menggunakan teknologi AI.

Selanjutnya, Megawati bicara soal Koridor Strategis Ekonomi. Selaku Ketua Dewan Pengarah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Indonesia, Megawati menawarkan kerja sama riset dengan Presiden Ramos-Horta dan PM Xanana untuk membangun kawasan pertumbuhan ekonomi bersama di koridor Nusa Tenggara Timur (NTT), Dili, dan Papua.

Lewat kuliah itu, Megawati juga menawarkan Kerja Sama Kepartaian; yakni program kaderisasi dan pelatihan kepemimpinan bersama antara PDI Perjuangan dengan partai politik di Timor-Leste. Hal itu guna menyalurkan sistem manajemen partai berbasis kedisiplinan organisasi.

Lebih jauh, Megawati mengingatkan bahwa sejarah tidak membuka jendelanya untuk selamanya. Ia menitipkan pesan mendalam kepada generasi muda Indonesia dan Timor-Leste agar tidak membiarkan hubungan persaudaraan ini hanya hidup sebagai kenangan para orang tua belaka.

Megawati mendorong pelembagaan hubungan persaudaraan ini secara konkret melalui percepatan tuntasnya perjanjian perbatasan yang adil, program pertukaran mahasiswa dan guru, serta optimalisasi kerja sama di dalam kerangka ASEAN, di mana kini Timor-Leste telah berdiri sebagai anggota tetap dengan dukungan penuh dari Indonesia.

"Dari Dili, kota para pejuang, marilah kita kabarkan kepada dunia bahwa meski kini kita hadir sebagai dua negara, namun kita disatukan oleh cita-cita bersama membangun jalan peradaban bagi dunia. Merdeka!" demikian Megawati.
|

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

TNI Kuasai Wilayah OPM di Intan Jaya dan Sita Sejumlah Senjata

Minggu, 16 Agustus 2026 | 01:24

Belasan Teman Jokowi Bagusnya Batal Jadi Saksi Sidang soal Ijazah

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 03:14

KPK Sebut Iptu Dias Tak Bisa Dijerat Dewas, Penanganan Etik Diserahkan ke Polri

Senin, 24 Agustus 2026 | 11:47

UPDATE

Protelindo Masuk BTEL, Kuasai 10,86 Persen Saham Bakrie Telecom

Rabu, 26 Agustus 2026 | 10:26

Prabowo ke NTT Hari Ini, Pastikan Penanganan Korban Gempa Berjalan Baik

Rabu, 26 Agustus 2026 | 10:17

Pengamat: Rekam Jejak Mumpuni Bikin KH Marsudi Syuhud Unggul di Bursa Ketum PBNU

Rabu, 26 Agustus 2026 | 10:13

Presiden Prabowo Dijadwalkan Buka Muktamar ke-35 NU Besok

Rabu, 26 Agustus 2026 | 10:12

Emas Antam Merosot Rp18.000, Satu Gram Jadi Segini

Rabu, 26 Agustus 2026 | 10:03

DEEP Ingatkan Percepatan Pemilu Harus Punya Alasan Konstitusional

Rabu, 26 Agustus 2026 | 09:55

IHSG Balik Arah ke Zona Merah, Rupiah Menguat ke Rp17.690 per Dolar AS

Rabu, 26 Agustus 2026 | 09:44

SHOW Token Dorong Transformasi Industri Hiburan Global lewat Teknologi AI dan Blockchain

Rabu, 26 Agustus 2026 | 09:21

Bursa Asia Variatif, Investor Pantau Pergerakan Timur Tengah

Rabu, 26 Agustus 2026 | 09:06

THMP Bantah Pertemuan Jokowi-Relawan Bahas Pemilu 2029

Rabu, 26 Agustus 2026 | 09:03

Selengkapnya