Berita

Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf nyatakan siap balas serangan AS (Unggahan akun X @mb_ghalibaf)

Dunia

Iran Siap Balas Setiap Serangan Amerika Serikat

JUMAT, 10 JULI 2026 | 12:26 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, mengeluarkan peringatan keras kepada Amerika Serikat (AS) di tengah kembali memanasnya konflik kedua negara. 

Ghalibaf, yang juga menjabat sebagai kepala negosiator Iran dalam perundingan dengan AS, menegaskan bahwa setiap serangan terhadap Iran akan dibalas.

Melalui unggahan di platform X, Ghalibaf menyatakan bahwa Washington belum mengambil pelajaran dari konflik yang terus berulang. Menurutnya, kebijakan intimidasi dan pelanggaran terhadap komitmen tidak akan pernah bebas dari konsekuensi.


"Amerika masih belum belajar bahwa intimidasi dan pelanggaran janji bukanlah hal yang tanpa konsekuensi. Izinkan saya menyatakannya dengan jelas: jika Anda menyerang, Anda akan diserang," tulis Ghalibaf, dikutip Jumat, 9 Juli 2026.

Ia juga menyinggung Selat Hormuz, jalur pelayaran paling strategis di dunia untuk pengiriman minyak. Ghalibaf menegaskan bahwa akses melalui selat tersebut hanya akan dibuka berdasarkan kesepakatan dengan Iran, bukan karena tekanan atau ancaman dari AS.

Pernyataan itu disampaikan ketika AS dan Iran kembali saling melancarkan serangan. Komando Pusat AS (CENTCOM) mengaku telah menyerang sekitar 90 target militer Iran, termasuk sistem pertahanan udara dan infrastruktur logistik di sepanjang pesisir. Washington menyatakan operasi tersebut bertujuan melemahkan kemampuan Iran dalam mengancam kapal dagang dan pelayaran sipil di kawasan.

Di sisi lain, Iran menyebut sedikitnya 14 orang tewas dalam dua hari terakhir akibat serangan AS. Teheran juga mengklaim telah melancarkan serangan balasan terhadap sejumlah aset dan lokasi yang berkaitan dengan kepentingan AS di kawasan Teluk.

Memanasnya konflik berdampak langsung pada aktivitas pelayaran di Selat Hormuz. Organisasi pemilik kapal tanker independen Intertanko melaporkan jumlah kapal yang melintasi jalur tersebut turun drastis. 

Jika sebelumnya sekitar 70 kapal per hari, kini hanya sekitar 30 kapal, bahkan kapal yang melintas di jalur selatan dekat Oman disebut tinggal dalam "angka satu digit". Kondisi ini meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan energi global dan stabilitas perdagangan internasional.

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

UPDATE

Dua Nama Hilang dari Daftar Calon BPK

Kamis, 10 September 2026 | 00:17

UAG Perkuat Sekolah Rakyat dan Talenta Halal Nasional

Kamis, 10 September 2026 | 00:06

Langkah Berani Gubernur Sultra Tertibkan Aset Usik Zona Nyaman Oknum Tertentu

Rabu, 09 September 2026 | 23:52

DPRD DKI Dukung Perluas Program Pendidikan bagi Santri Perkotaan

Rabu, 09 September 2026 | 23:32

Salat Istisqa Digelar di Lahat, Bursah Zarnubi Mohon Hujan segera Turun Merata

Rabu, 09 September 2026 | 23:22

DPR Dorong Pembangunan dari Desa Lewat Rakernas AKSI

Rabu, 09 September 2026 | 23:20

Rosan Roeslani Masuk Dua Besar Menteri Berkinerja Terbaik

Rabu, 09 September 2026 | 23:00

DPR: Kalau Ada Laporan Masyarakat, Polri Tak Perlu Ragu

Rabu, 09 September 2026 | 22:59

Jangan Sampai Indonesia jadi Sasaran Empuk Jaringan Narkoba Internasional

Rabu, 09 September 2026 | 22:45

Mantan Napi KDRT Diduga Kriminalisasi Istri Lewat Kesaksian Palsu ART

Rabu, 09 September 2026 | 22:31

Selengkapnya