Ilustrasi (RMOL via Gemini AI)
Nilai tukar Dolar Amerika Serikat (AS) di pasar uang New York mengalami penurunan selama dua hari berturut-turut pada penutupan perdagangan Kamis 9 Juli 2026.
Pelemahan ini dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik antara AS dan Iran, serta fokus investor yang tertuju pada proyeksi inflasi global dan arah kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed).
Indeks Dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia turun 0,15 persen ke posisi 100,87. Sebaliknya, mata uang Euro menguat 0,19 persen menjadi 1,1436 Dolar AS.
Kondisi geopolitik di Timur Tengah kembali memanas setelah militer Iran menyerang infrastruktur militer AS di beberapa negara Teluk. Aksi ini merupakan respons atas serangan udara AS ke wilayah pesisir selatan dan provinsi timur Iran, yang kini mengancam kesepakatan gencatan senjata yang baru berjalan tiga pekan.
Menariknya, harga minyak dunia justru berbalik melemah karena pasar lebih mencemaskan dampak inflasi terhadap pertumbuhan ekonomi global dibanding risiko gangguan pasokan. Minyak WTI merosot 2,65 persen ke level 71,57 per barel, sedangkan Brent anjlok 2,95 persen ke level 75,72 Dolar AS per barel.
Di sisi lain, AS dinilai lebih kebal terhadap guncangan pasokan energi dibanding negara lain. Hal ini memicu spekulasi bahwa bank sentral global kemungkinan harus menaikkan suku bunga lebih agresif daripada The Fed demi meredam inflasi.
Risalah rapat The Fed periode 16-17 Juni, yang menjadi momentum perdana di bawah kepemimpinan Chairman Kevin Warsh, menunjukkan kekhawatiran yang mendalam terkait inflasi. Beberapa anggota bahkan sempat mengusulkan kenaikan suku bunga sebelum akhirnya sepakat untuk mempertahankannya.
Namun, Presiden Federal Reserve New York, John Williams, memberikan pandangan yang sedikit meredam kekhawatiran pasar. Ia memproyeksikan harga energi tidak akan melonjak secara berkelanjutan hingga akhir tahun meski tensi di Timur Tengah meninggi.
Risalah rapat Bank Sentral Eropa (ECB) mengindikasikan bahwa para pembuat kebijakan mulai menerima proyeksi bahwa inflasi akan tetap berada di atas target hingga tahun depan, meskipun suku bunga telah dinaikkan.
Data ketenagakerjaan menunjukkan kondisi yang stabil. Klaim awal tunjangan pengangguran pekan lalu turun 2.000 menjadi 215.000, lebih rendah dari perkiraan ekonom sebesar 218.000.
Dolar AS melemah 0,18 persen terhadap Yen menjadi 162,30 Yen. Bank of Japan (BOJ) memperingatkan bahwa konflik Iran dapat mendorong korporasi domestik menaikkan harga pada paruh kedua tahun ini, memperkuat alasan bagi BOJ untuk mengerek suku bunga.
Mata uang Poundsterling terapresiasi 0,23 persen menjadi 1,3415 Dolar AS, setelah sempat menyentuh level tertinggi dalam tiga pekan terakhir di posisi 1,3430 Dolar AS.