Berita

Ilustrasi (RMOL via Gemini AI)

Bisnis

Dolar AS Melemah Dua Hari Beruntun Terimbas Konflik AS-Iran dan Prospek Suku Bunga

JUMAT, 10 JULI 2026 | 08:35 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Nilai tukar Dolar Amerika Serikat (AS) di pasar uang New York mengalami penurunan selama dua hari berturut-turut pada penutupan perdagangan Kamis 9 Juli 2026. 

Pelemahan ini dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik antara AS dan Iran, serta fokus investor yang tertuju pada proyeksi inflasi global dan arah kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed).

Indeks Dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia turun 0,15 persen ke posisi 100,87. Sebaliknya, mata uang Euro menguat 0,19 persen menjadi 1,1436 Dolar AS. 


Kondisi geopolitik di Timur Tengah kembali memanas setelah militer Iran menyerang infrastruktur militer AS di beberapa negara Teluk. Aksi ini merupakan respons atas serangan udara AS ke wilayah pesisir selatan dan provinsi timur Iran, yang kini mengancam kesepakatan gencatan senjata yang baru berjalan tiga pekan.

Menariknya, harga minyak dunia justru berbalik melemah karena pasar lebih mencemaskan dampak inflasi terhadap pertumbuhan ekonomi global dibanding risiko gangguan pasokan. Minyak WTI merosot 2,65 persen ke level 71,57 per barel, sedangkan Brent anjlok 2,95 persen ke level 75,72 Dolar AS per barel.

Di sisi lain, AS dinilai lebih kebal terhadap guncangan pasokan energi dibanding negara lain. Hal ini memicu spekulasi bahwa bank sentral global kemungkinan harus menaikkan suku bunga lebih agresif daripada The Fed demi meredam inflasi. 

Risalah rapat The Fed periode 16-17 Juni, yang menjadi momentum perdana di bawah kepemimpinan Chairman Kevin Warsh, menunjukkan kekhawatiran yang mendalam terkait inflasi. Beberapa anggota bahkan sempat mengusulkan kenaikan suku bunga sebelum akhirnya sepakat untuk mempertahankannya.

Namun, Presiden Federal Reserve New York, John Williams, memberikan pandangan yang sedikit meredam kekhawatiran pasar. Ia memproyeksikan harga energi tidak akan melonjak secara berkelanjutan hingga akhir tahun meski tensi di Timur Tengah meninggi. 

Risalah rapat Bank Sentral Eropa (ECB) mengindikasikan bahwa para pembuat kebijakan mulai menerima proyeksi bahwa inflasi akan tetap berada di atas target hingga tahun depan, meskipun suku bunga telah dinaikkan.

Data ketenagakerjaan menunjukkan kondisi yang stabil. Klaim awal tunjangan pengangguran pekan lalu turun 2.000 menjadi 215.000, lebih rendah dari perkiraan ekonom sebesar 218.000.

Dolar AS melemah 0,18 persen terhadap Yen menjadi 162,30 Yen. Bank of Japan (BOJ) memperingatkan bahwa konflik Iran dapat mendorong korporasi domestik menaikkan harga pada paruh kedua tahun ini, memperkuat alasan bagi BOJ untuk mengerek suku bunga. 

Mata uang Poundsterling terapresiasi 0,23 persen menjadi 1,3415 Dolar AS, setelah sempat menyentuh level tertinggi dalam tiga pekan terakhir di posisi 1,3430 Dolar AS.

Populer

Keluarga Eks Pangkostrad Kemal Idris Akhirnya Raih Keadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:00

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

Jokowi Masih Berperilaku seperti Penguasa RI

Senin, 10 Agustus 2026 | 03:00

UPDATE

Peluang Emas Kuliah Gratis Pendaftaran Beasiswa Unggulan 2026 Resmi Dibuka

Kamis, 20 Agustus 2026 | 14:21

Di Posko Pengungsian, Gibran Pastikan Kebutuhan Anak-Anak Terpenuhi

Kamis, 20 Agustus 2026 | 14:21

Prioritaskan Guru PPPK Wilayah 3T Jadi PNS

Kamis, 20 Agustus 2026 | 14:19

Utang AS Terus Membengkak, Tekanan Fiskal Makin Besar

Kamis, 20 Agustus 2026 | 14:16

Jangan Sampai Utang Gerogoti Ruang Fiskal

Kamis, 20 Agustus 2026 | 14:07

Purbaya Siapkan Rp31 Triliun untuk Pengalihan PPPK ke Pusat

Kamis, 20 Agustus 2026 | 14:05

Emas “di Bawah Bantal” Warga RI Capai 1.800 Ton, Nilainya Diprediksi Tembus Rp4.400 Triliun

Kamis, 20 Agustus 2026 | 14:01

Tak Benar Febrie Minta Emas 74 Kg hingga Uang Dikembalikan

Kamis, 20 Agustus 2026 | 13:45

Pemerintah Raup Rp34 Triliun dari Lelang SUN

Kamis, 20 Agustus 2026 | 13:41

Iran Siapkan Serangan Balasan hingga Eropa Jika AS Perluas Perang

Kamis, 20 Agustus 2026 | 13:41

Selengkapnya