Berita

Ilustrasi Suhu Dieng Turun hingga Minus (Sumber: Gemini Generated Image)

Nusantara

Suhu Dieng Turun hingga Minus, BMKG Ungkap Penyebabnya

KAMIS, 09 JULI 2026 | 19:08 WIB | OLEH: TIFANI

RMOL.Unggahan yang memperlihatkan suhu udara di kawasan Dataran Tinggi Dieng, Jawa Tengah, mencapai -5 hingga -6 derajat Celsius pada Kamis (9/7/2026) ramai beredar di media sosial. Sejumlah foto dan video memperlihatkan hamparan rumput serta tanaman yang tampak memutih akibat tertutup lapisan es.

Fenomena ini disebut embun beku atau frost. Fenomena ini memang kerap muncul di kawasan Dieng saat puncak musim kemarau, terutama pada periode Juni hingga Agustus ketika suhu udara di dataran tinggi turun sangat drastis pada malam hingga dini hari.

Mengutip penjelasan resmi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), embun beku merupakan lapisan kristal es yang terbentuk di permukaan tanah, rumput, daun, maupun benda lain ketika suhu permukaan turun hingga mencapai atau berada di bawah titik beku. Berbeda dengan salju yang terbentuk di atmosfer dan turun sebagai presipitasi, embun beku terbentuk langsung di permukaan akibat proses pendinginan yang ekstrem.


Secara klimatologis, kemunculan embun beku di Dieng dipengaruhi oleh aktifnya Monsun Australia. Pada musim kemarau, tekanan udara di Benua Australia lebih tinggi dibandingkan Benua Asia sehingga angin bertiup dari Australia menuju Asia melintasi wilayah Indonesia. 

Angin yang berasal dari Australia membawa massa udara yang relatif kering sehingga cuaca di sebagian besar Indonesia menjadi cerah dengan tutupan awan yang sangat minim. Minimnya awan membuat sinar matahari dapat memanaskan permukaan bumi secara maksimal pada siang hari. 

Saat malam tiba, panas yang tersimpan di permukaan bumi dilepaskan kembali ke atmosfer melalui radiasi gelombang panjang tanpa terhalang awan. Akibatnya, suhu udara turun dengan sangat cepat dan biasanya mencapai titik terendah menjelang matahari terbit.

Kondisi tersebut semakin terasa di kawasan pegunungan seperti Dieng yang berada pada ketinggian sekitar 2.000 meter di atas permukaan laut. Udara yang lebih tipis dan suhu yang memang lebih rendah dibandingkan daerah dataran rendah membuat proses pendinginan berlangsung lebih intensif.

Selain itu, kelembapan udara yang masih cukup tinggi menyebabkan uap air mudah mengembun di permukaan rumput dan tanaman. Ketika suhu permukaan turun hingga di bawah 0 derajat Celsius, embun tersebut membeku dan berubah menjadi kristal-kristal es yang menutupi vegetasi. 

Inilah yang membuat hamparan rumput di Dieng tampak berwarna putih layaknya tertutup salju. Fenomena embun beku di Dieng sebenarnya bukan hal baru. Masyarakat setempat mengenalnya dengan sebutan bun upas atau "embun racun". 

Julukan tersebut muncul karena lapisan es dapat merusak jaringan tanaman, terutama komoditas pertanian seperti kentang, kubis, daun bawang, dan berbagai jenis sayuran yang banyak dibudidayakan di kawasan Dieng. Embun beku yang cukup tebal dapat menyebabkan daun mengering, layu, hingga menurunkan hasil panen petani.

Di sisi lain, kemunculan bun upas juga menjadi daya tarik wisata yang dinantikan banyak wisatawan. Pemandangan padang rumput yang memutih akibat kristal es menjadi fenomena langka di Indonesia dan biasanya hanya berlangsung pada dini hari hingga beberapa saat setelah matahari terbit. 

Setelah sinar matahari mulai menghangatkan permukaan bumi, lapisan es akan mencair secara perlahan. Masyarakat maupun wisatawan yang berencana berkunjung ke Dieng selama musim kemarau diimbau mempersiapkan pakaian hangat karena suhu udara dapat turun hingga mendekati titik beku, terutama pada malam hingga pagi hari. 

Sementara itu, petani di kawasan Dieng diharapkan meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi embun beku yang dapat berdampak pada tanaman budidaya selama puncak musim kemarau berlangsung.

Populer

Kafe Diduga terkait Jampidsus Digeledah

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

Presiden Pasti Tahu Dinamika Penggeledahan Cafe de’CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00

Pengacara Nadiem Makarim Dilaporkan ke Peradi Buntut Ucapan "Yang Mulia Takut Ya"

Senin, 06 Juli 2026 | 18:36

Beredar Surat Diduga dari Kejagung untuk Konsolidasi Usai Penggeledahan Cafe de' CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53

Jokowi Tinggalkan Jejak Buruk bagi Masyarakat Adat Lampung

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:23

UPDATE

Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei Dimakamkan di Mashhad

Jumat, 10 Juli 2026 | 08:21

Wall Street Ditutup Menguat Didorong Harapan Negosiasi Iran-AS

Jumat, 10 Juli 2026 | 08:08

Terjaring OTT KPK, Bupati Sukoharjo Diduga Peras Perangkat Daerah

Jumat, 10 Juli 2026 | 07:50

Menkes Budi Ajak Kreator Jadikan Pola Makan Sehat Sebagai Tren Baru

Jumat, 10 Juli 2026 | 07:45

Kepala Balai Teknik Perkeretaapian Jakarta Dicecar KPK soal Pengadaan Rel di DJKA

Jumat, 10 Juli 2026 | 07:32

Harga Emas Melonjak Didorong Aksi Bargain Hunting dan Sentimen Geopolitik

Jumat, 10 Juli 2026 | 07:21

Sentimen AI Pulihkan Bursa Eropa, STOXX 600 Menguat

Jumat, 10 Juli 2026 | 07:12

OTT di Solo Raya: Selain Bupati Sukoharjo KPK Juga Amankan 4 Orang Lainnya

Jumat, 10 Juli 2026 | 07:04

Ekonomi NTB Tumbuh 13,64 Persen, Peluang Lahirnya Inovasi Anak Muda Kian Terbuka

Jumat, 10 Juli 2026 | 07:01

Kepindahan Narji dari PKS ke PSI Dianggap Kutu Loncat Gurem

Jumat, 10 Juli 2026 | 06:58

Selengkapnya