Berita

Ilustrasi (RMOL via Gemini AI)

Bisnis

Wall Street Terpuruk Akibat Ketegangan Baru AS-Iran

KAMIS, 09 JULI 2026 | 08:28 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Meningkatnya kembali ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran membuat sentimen pasar keuangan global memburuk, sehingga mendorong harga minyak dunia kembali naik dan menekan pergerakan bursa saham Wall Street.

Pada penutupan perdagangan reguler Rabu, 8 Juli 2026, waktu AS, indeks Dow Jones Industrial Average anjlok 576,76 poin atau 1,1 persen. Sementara itu, S&P 500 turun 0,28 persen. Berbeda dengan dua indeks utama tersebut, Nasdaq Composite masih mampu menguat 0,2 persen berkat kenaikan saham Nvidia dan sejumlah emiten sektor semikonduktor.

Tekanan di pasar saham muncul setelah Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan bahwa militer AS melancarkan serangan baru terhadap Iran sebagai balasan atas serangan Teheran terhadap jalur pelayaran komersial di sekitar Selat Hormuz. Di saat yang sama, harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) naik sekitar 1 persen.


Ketegangan semakin meningkat setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa dirinya kemungkinan tidak lagi tertarik untuk melanjutkan perundingan dengan Iran. Sebelumnya, Trump juga mengatakan bahwa gencatan senjata antara AS dan Iran telah "berakhir" setelah kembali terjadi gelombang serangan di Timur Tengah.

Para investor khawatir kenaikan harga energi akan kembali mendorong inflasi. Jika hal itu terjadi, Federal Reserve (The Fed) diperkirakan akan mempertahankan suku bunga tetap tinggi lebih lama dari perkiraan pasar.

Kekhawatiran tersebut diperkuat oleh risalah rapat The Fed bulan Juni yang menunjukkan para pejabat bank sentral masih terpecah mengenai waktu yang tepat untuk memangkas suku bunga. Mereka menilai diperlukan bukti yang lebih kuat bahwa inflasi benar-benar bergerak menuju target sebelum mengambil langkah pelonggaran kebijakan moneter.

Analis menyebut harga minyak masih menjadi faktor utama yang akan memengaruhi arah pasar dalam jangka pendek. Meski ketegangan geopolitik dapat meningkatkan sentimen menghindari risiko (risk-off), prospek pertumbuhan laba perusahaan dan kuatnya tren investasi di sektor kecerdasan buatan (AI) dinilai masih berpotensi menopang penguatan indeks S&P 500 hingga akhir tahun.

Populer

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Jubir IKN Troy Pantouw Sempat Telepon Keluarga Sehari Sebelum Ditemukan Meninggal

Minggu, 26 Juli 2026 | 20:58

Selembar Ijazah Keliling Republik

Rabu, 22 Juli 2026 | 12:00

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

Ahli Waris Laporkan Dugaan Aset Tak Wajar Mantan Pejabat Negara ke KPK

Rabu, 22 Juli 2026 | 16:58

Kiprah Yadyn, Jaksa yang Antar Febrie Adriansyah ke KPK

Sabtu, 25 Juli 2026 | 21:55

UPDATE

Prabowo Kumpulkan Ratusan Pengurus Kadin se-Indonesia di Istana

Jumat, 31 Juli 2026 | 14:26

Larangan Dapur MBG Gunakan Barang Bersubsidi Sudah Tepat

Jumat, 31 Juli 2026 | 14:25

Cegah Gagal Panen, Komisi IV DPR Minta Pemerintah Antisipasi Dampak El Nino

Jumat, 31 Juli 2026 | 14:03

Indonesia-Tiongkok Perkuat Kemitraan Strategis Berbasis Ekonomi Hijau

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:53

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

Dinilai Paling Siap, Palangka Raya jadi Percontohan Digitalisasi Perlinsos Berbasis IKD

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:33

Praperadilan Ketiga Roy Suryo, Ahli Perkuat Dalil Permohonan Ganti Rugi Rp206 Juta

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:32

Jakarta Gandeng Banten Bangun Kawasan Ketahanan Pangan Terpadu

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:27

Digitalisasi Perizinan Tutup Celah Perdagangan Satwa Liar Ilegal

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:12

IHSG Sesi I Menguat 29 Poin, Saham TINS DEWA dan BBCA Paling Memikat Investor

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:12

Selengkapnya