Berita

Direktur Lingkar Madani Indonesia (Lima), Ray Rangkuti (kiri) dalam diskusi di Jakarta, Rabu, 8 Juli 2026. (Foto: Dok. Pribadi)

Politik

Ray Rangkuti Cium Indikasi 'Kudeta Merambat' di Indonesia

RABU, 08 JULI 2026 | 22:56 WIB | LAPORAN: DIKI TRIANTO

Ancaman terhadap demokrasi di Indonesia saat ini bukan lagi kudeta militer dalam pengertian klasik. Ada gejala 'kudeta merambat' melalui penguasaan instrumen negara tanpa menggunakan kekuatan bersenjata.

"Kudeta dalam era modern disebut kudeta merambat. Ia berbeda dengan pengertian kudeta yang selama ini kita kenal. Maksudnya memasuki instrumen-instrumen negara lalu menguasainya tanpa sama sekali menggunakan senjata," kata Direktur Lingkar Madani Indonesia (Lima), Ray Rangkuti dalam diskusi publik bertajuk Militer, Bisnis, dan Politik: Pelajaran dari Kudeta Militer di Berbagai Negara di Jakarta, Rabu, 8 Juli 2026.

Merujuk tren yang berkembang saat ini, Ray menilai peluang terjadinya kudeta militer seperti di Myanmar, Niger, Gabon, maupun Turki sangat kecil terjadi. Ia menilai ada gejala lain yang justru lebih mengkhawatirkan.


Ia menegaskan, Indonesia kini tidak lagi hanya menghadapi gejala militerisasi, melainkan telah memasuki fase militerisme.

"Militerisasi itu sebatas penempatan militer di ruang sipil yang tidak punya landasan hukum. Sedangkan militerisme adalah paham yang menganggap militer paling hebat," ujarnya.

Ray menjelaskan, militerisme ditandai dengan cara pandang yang menempatkan nilai-nilai militer sebagai standar dalam berbagai aspek kehidupan.

"Kalau mau disiplin harus ala militer, kalau mau punya karakter harus ala militer, kalau mau bela negara juga ala militer. Kondisi kita sekarang, semua standarnya standar militer," katanya.

Ia mencontohkan pelatihan militer bagi calon manajer Koperasi Desa Merah Putih. Menurutnya, persoalan bukan semata pada pelatihannya, melainkan pada argumentasi yang menyebut disiplin, karakter, hingga kemampuan menghadapi persoalan hanya dapat dibentuk melalui pendidikan militer.

"Bahwa seolah-olah soal disiplin, karakter, bela negara, kemampuan menghadapi persoalan, semuanya diukur dengan nilai militer. Itulah yang disebut militerisme, bukan sekadar militerisasi," tegasnya.

Dalam forum yang sama, Guru Besar Hukum Tata Negara Universitas Muhammadiyah Jakarta, Ibnu Sina Chandranegara menyoroti masih ada persoalan struktural dalam hubungan sipil dan militer pascareformasi.

Menurutnya, amanat Pasal 76 UU TNI Tahun 2004 mengenai pengalihan seluruh bisnis TNI kepada negara hingga kini belum sepenuhnya dilaksanakan secara transparan.

Selain itu, tren penempatan prajurit aktif pada jabatan sipil dinilai memunculkan kekhawatiran terhadap creeping securitization atau militerisasi birokrasi sipil. Ibnu juga menilai pengawasan DPR terhadap anggaran dan doktrin pertahanan masih sebatas prosedural, belum berjalan secara fungsional.

"Militer dengan basis ekonomi independen akan selalu memiliki daya tawar politik yang tidak proporsional," pungkasnya.

Populer

Panglima TNI Bantah Seskab Teddy Diperiksa Polisi Militer

Sabtu, 07 November 2026 | 09:32

Upaya Makar Geng Solo

Sabtu, 07 November 2026 | 05:07

Kapolri Suyudi Berpeluang dapat Serangan Balik

Jumat, 06 November 2026 | 04:27

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Jokowi Sumber Masalah Bangsa

Minggu, 08 November 2026 | 08:43

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

UPDATE

Komisi III DPR Dukung Kejagung Bongkar Tuntas Mafia Nikel di Sultra

Senin, 09 November 2026 | 00:30

Menanti Hoegeng di Zaman Now

Senin, 09 November 2026 | 00:06

Ratusan Ojol dan Sahabat Disabilitas Peroleh Santunan Jelang HUT ke-15 Nasdem

Minggu, 08 November 2026 | 23:41

Surya Paloh Ingatkan Ego Partai Tak Boleh Kalahkan Kepentingan Nasional

Minggu, 08 November 2026 | 23:37

Jimly Minta 8 Partai di Parlemen Segera Bermusyawarah soal Gibran

Minggu, 08 November 2026 | 23:25

UI dan Peradi Profesional Perkuat Kolaborasi Lewat Networking Golf Tournament 2026

Minggu, 08 November 2026 | 20:55

Mutu Audit jadi Penentu Kepercayaan Publik terhadap Korporasi

Minggu, 08 November 2026 | 20:00

Desak Tito Mundur, Faizal Assegaf: Dia Lingkar Inti Jokowi

Minggu, 08 November 2026 | 19:45

Ubedilah Badrun: Patron Jenderal Listyo Sigit Bertahun-tahun adalah Jokowi

Minggu, 08 November 2026 | 19:38

Prabowo Kumpulkan 10 Mantan Kapolri di Hambalang, Ada Da'i Bachtiar hingga Tito Karnavian

Minggu, 08 November 2026 | 18:48

Selengkapnya