Berita

Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur. (Foto: NuOnline)

Politik

Jejak Ponpes Tambakberas: Dari Markas Perang Diponegoro hingga Tuan Rumah Muktamar NU

RABU, 08 JULI 2026 | 12:44 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, kembali dipercaya menjadi tuan rumah Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang akan digelar pada 27-31 Agustus 2026.

Keputusan tersebut diambil dalam Rapat Gabungan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Selasa, 7 Juli 2026. Sebelumnya, Jombang juga menjadi tuan rumah Muktamar Ke-33 NU pada 2015.

Ketua Organizing Committee Muktamar Ke-35 NU, Saifullah Yusuf atau Gus Ipul, mengatakan pengalaman menjadi tuan rumah sebelas tahun lalu menjadi modal penting dalam mempersiapkan muktamar tahun ini.


"Jombang telah memiliki pengalaman menjadi tuan rumah Muktamar pada 2015. Pengalaman tersebut menjadi salah satu modal penting dalam mempersiapkan penyelenggaraan Muktamar kali ini," ujarnya.

Bagi NU, Pesantren Tambakberas bukan sekadar lokasi penyelenggaraan. Pesantren ini memiliki sejarah panjang yang berkaitan erat dengan perjuangan kemerdekaan, perkembangan pendidikan Islam, hingga lahirnya Nahdlatul Ulama.

Salah seorang dzurriyah KH Abdul Wahab Hasbullah, KH Muhammad Wafiyul Ahdi atau Gus Wafi, menjelaskan Pesantren Tambakberas didirikan sekitar tahun 1825 oleh KH Abdussalam, bertepatan dengan pecahnya Perang Diponegoro.

KH Abdussalam merupakan ulama asal Tuban yang juga dikenal sebagai komandan pasukan Pangeran Diponegoro untuk wilayah Madiun hingga Jawa Timur bagian timur. Setelah perang berakhir pada 1830, ia menetap di Jombang dan mendirikan padepokan yang kemudian berkembang menjadi pesantren.

Pada masa awal berdirinya, pesantren hanya memiliki tiga kamar dengan sekitar 25 santri sehingga dikenal sebagai Pesantren Selawe.

Nama Tambakberas sendiri baru dikenal pada masa KH Hasbullah, putra KH Said sekaligus ayah KH Abdul Wahab Hasbullah. Sebagai petani dengan lahan persawahan yang luas, halaman rumahnya kerap dipenuhi gabah dan beras saat musim panen sehingga masyarakat kemudian menyebut kawasan tersebut sebagai Tambakberas.

Perkembangan besar pesantren terjadi pada masa KH Abdul Wahab Hasbullah. Sepulang menuntut ilmu dari Makkah, ia memperkenalkan sistem pendidikan klasikal dan kurikulum yang lebih terstruktur.

Gagasan tersebut sempat ditolak sang ayah karena dianggap meniru sistem pendidikan kolonial Belanda. Bahkan, KH Abdul Wahab sempat diminta keluar dari pesantren. Namun, tidak lama kemudian KH Hasbullah berubah sikap dan justru mendukung pembaruan tersebut dengan membangun madrasah. Dari sinilah sistem pendidikan modern mulai berkembang di Tambakberas.

KH Abdul Wahab Hasbullah kemudian dikenal sebagai salah satu pendiri Nahdlatul Ulama bersama KH Hasyim Asy'ari. Ia juga pernah menjabat sebagai Rais Aam PBNU kedua serta menciptakan syair Ya Lal Wathan yang hingga kini menjadi mars perjuangan warga NU.

Selain itu, KH Abdul Wahab menggagas sejumlah organisasi, seperti Tashwirul Afkar, Nahdlatut Tujjar, Syubbanul Wathan, hingga Komite Hijaz pada 1926 yang menjadi tonggak lahirnya Nahdlatul Ulama.

Dengan sejarah yang membentang sejak era Perang Diponegoro hingga menjadi pusat lahirnya gagasan besar pendiri NU, Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas dinilai memiliki nilai historis yang kuat. Tak heran jika pesantren yang kini menampung belasan ribu santri itu kembali dipercaya menjadi tuan rumah Muktamar Ke-35 NU.

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

Jokowi Dalangi Operasi Politik Pertahankan Wapres Gibran

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:14

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Pejabat BNPB juga Korupsi Pengadaan HT Penanganan Karhutla

Senin, 19 Oktober 2026 | 03:37

Status MSCI Bukan Tanda Kiamat

Senin, 19 Oktober 2026 | 03:21

Penguatan Ekosistem Dagang RI Didorong Tembus 5 Besar Ekonomi Dunia

Senin, 19 Oktober 2026 | 03:06

Mengenal Ahmad Luthfi Auditor BPK yang Minta Jatah Rp600 Juta

Senin, 19 Oktober 2026 | 02:37

Mantan Kadivhubinter Polri Napoleon Bonaparte Meninggal Dunia, Polri Sampaikan Duka Cita

Senin, 19 Oktober 2026 | 02:17

MSCI Pertanyakan Pasar RI, BEI Harus Buktikan Pengawasan Bekerja

Senin, 19 Oktober 2026 | 02:06

Fahira: Mimpi dan Cita-cita Tak Boleh Dibatasi Kondisi Ekonomi

Senin, 19 Oktober 2026 | 01:35

Polisi Tembak Polisi di Markas Ditpolairud Pondok Cabe, Pelaku Ditahan

Senin, 19 Oktober 2026 | 01:15

Selengkapnya