Berita

Pulau Rempang, Kepulauan Riau. (Foto: Istimewa)

Politik

Prabowo Berpeluang Akhiri Konflik Rempang dengan Standar Tata Kelola Baru

SELASA, 07 JULI 2026 | 19:34 WIB | LAPORAN: ABDUL ROUF ADE SEGUN

Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto memiliki peluang besar menjadikan penyelesaian konflik Proyek Strategis Nasional (PSN) Rempang Eco City dan Wiraraja GESEIP (Green Energy, Semiconductor, and Solar Energy Industrial Park) di Kepulauan Riau sebagai titik balik lahirnya tata kelola investasi nasional yang lebih adil, transparan, dan berpihak kepada masyarakat.

Sekretaris Pendiri Indonesian Audit Watch (IAW), Iskandar Sitorus mengatakan, pemerintah saat ini tidak hanya mewarisi proyek pembangunan dari pemerintahan sebelumnya, tetapi juga persoalan tata kelola yang hingga kini belum terselesaikan.

"Bagi Presiden Prabowo, Rempang merupakan kesempatan untuk menunjukkan standar tata kelola yang lebih baik," kata Iskandar kepada RMOL, Selasa 7 Juli 2026.


Menurut Iskandar, ukuran keberhasilan pemerintah tidak cukup hanya memastikan investasi tetap berjalan. Yang jauh lebih penting adalah menghadirkan kepastian hukum, melindungi hak masyarakat, memperkuat koordinasi antar lembaga, serta memulihkan kepercayaan publik terhadap negara.

"Karena itu, ukuran keberhasilannya bukan semata-mata apakah investasi tetap berjalan," kata Iskandar.

Iskandar mengingatkan, persoalan Rempang tidak bisa dipandang sebagai sengketa investasi semata. Kasus tersebut juga menyangkut tata kelola administrasi pemerintahan, pengelolaan pertanahan, hingga perlindungan hak masyarakat yang terdampak pembangunan.

Ia lalu menyinggung temuan Ombudsman RI yang sebelumnya menyatakan terdapat maladministrasi dalam pengembangan Rempang Eco-City. 

Selain itu, berbagai laporan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) selama bertahun-tahun juga berulang kali mengingatkan pentingnya penguatan tata kelola dalam pelaksanaan proyek strategis nasional.

"Yang dibutuhkan sekarang bukan saling menyalahkan. Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk mengevaluasi," kata Iskandar.

Menurutnya, sejarah tidak akan mencatat Rempang hanya dari besarnya angka investasi yang diumumkan pemerintah, tetapi dari cara negara menyelesaikan persoalan yang muncul setelah proyek berjalan.

"Jika seluruh kekuatan politik hanya menjadikan Rempang sebagai bahan saling menyerang, maka rakyat tidak memperoleh apa-apa," pungkas Iskandar.

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

Turbulensi Kepercayaan dalam Teropong Nobel Ekonomi

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 22:16

Jadi Tersangka KPK, Bupati Klaten Didepak PDIP

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 21:45

Kapolri Rangkul Ulama Jatim untuk Jaga Kamtibmas

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 21:32

Ilham Habibie hingga Chappy Hakim Dianugerahi Golden PIN INACA

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 21:02

DPR: Kehadiran Kapolri di BEI Sinyal Negara Serius Menegakkan Hukum

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 20:33

Ketua Gappura Minta DPR Turun Tangan Mediasi PHK dan GHS di Krakatau Steel

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 19:35

Walhi Soroti Tanggung Jawab Lintas Sektor dalam Penanganan Karhutla

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 19:28

Kementerian UMKM Pulihkan 908 Usaha Terdampak Bencana di Sumatera

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 18:51

Komjak Diminta Turun Tangan Teliti JPU di Kasus Febrie

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 18:30

Surati Presiden Prabowo, YLKI Minta Menteri Bahlil Dicopot

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 17:49

Selengkapnya