Berita

Direktur Geopolitik GREAT Institute Dr. Teguh Santosa (Foto: Istimewa)

Publika

Menakar Makna Kehadiran Menlu Sugiono di Pemakaman Ayatollah Ali Khamenei

SELASA, 07 JULI 2026 | 11:17 WIB | OLEH: DR. TEGUH SANTOSA

KEHADIRAN Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Sugiono, pada upacara pemakaman almarhum Ayatollah Ali Khamenei yang akan berlangsung pada 9 Juli mendatang di kota Mashhad, sekitar 740 kilometer sebelah timur Teheran, merupakan manifestasi nyata dari kedalaman hubungan diplomatik kedua negara.

Di tengah jadwal yang sangat padat dalam mendampingi Presiden Prabowo Subianto menerima kunjungan kenegaraan berturut-turut dari pemimpin Belarusia, Singapura, dan India, keputusan Menlu Sugiono untuk menghadiri prosesi ini patut mendapatkan apresiasi setinggi-tingginya. Langkah ini menunjukkan skala prioritas yang tepat, di mana penghormatan kepada tokoh besar di tingkat global tetap ditempatkan sebagai pilar penting dalam kebijakan luar negeri kita.

Sosok Ayatollah Ali Khamenei sejatinya adalah figur perdamaian yang patut diteladani oleh dunia internasional. Salah satu warisan pemikirannya yang paling krusial adalah ketegasan dalam mengharamkan pengembangan senjata pemusnah massal nuklir. Beliau secara konsisten hanya menyetujui pemanfaatan energi nuklir untuk tujuan-tujuan damai dan kemanusiaan, seperti pengembangan bauran energi nasional serta aplikasi dalam bidang medis. Keteguhan prinsip ini mencerminkan kearifan seorang pemimpin yang memandang masa depan dunia dari perspektif kemaslahatan bersama, bukan dominasi kekuatan destruktif.


Kehadiran Menlu RI secara langsung di Mashhad menegaskan sebuah pesan diplomatik yang kuat bahwa bagi Indonesia, khususnya di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, almarhum Ayatollah Ali Khamenei merupakan tokoh yang sangat spesial. Indonesia tidak sekadar melihat ini sebagai protokoler kenegaraan biasa, melainkan sebagai bentuk pengakuan atas peran historis almarhum dalam konstelasi politik regional dan dunia Islam. Hubungan diplomatik yang dibangun di atas dasar saling menghormati ini menjadi bukti bahwa Indonesia terus menempatkan kemitraan dengan Iran sebagai elemen strategis yang bermartabat.

Kita tidak bisa melupakan bahwa kepergian beliau yang begitu tragis akibat serangan Amerika Serikat pada 28 Februari lalu merupakan sebuah peristiwa yang sangat disesalkan. Kehilangan sosok pemimpin sekaliber beliau adalah kehilangan besar bagi dunia, yang meninggalkan kekosongan dalam diskursus kepemimpinan global yang menjunjung tinggi kedaulatan. Peristiwa ini sekaligus menjadi pengingat bagi kita semua akan pentingnya menjaga stabilitas dan keamanan dunia agar tidak mudah terganggu oleh tindakan-tindakan unilateral yang merusak tatanan global.

Meski demikian, kita tetap menaruh optimisme tinggi bahwa Iran memiliki daya tahan dan kapasitas politik yang mumpuni untuk melewati masa transisi ini. Kami percaya bahwa Iran tetap akan menjadi kekuatan penyeimbang yang vital di kawasan Timur Tengah. Dengan fondasi kebudayaan dan peradaban yang panjang, Iran diharapkan mampu terus mengembangkan tradisi demokrasi yang inklusif serta berperan aktif dalam mempertahankan stabilitas global di tengah kompleksitas geopolitik yang terus berkembang.

Secara khusus, besarnya gelombang masyarakat yang menghadiri pemakaman Ali Khamenei hendaknya menjadi refleksi bagi Amerika Serikat. Fenomena ini bukan sekadar prosesi pemakaman, melainkan sebuah pesan yang sangat jelas bahwa kebijakan perang dan intervensi militer yang mereka jalankan di kawasan ini selama ini adalah langkah yang salah sasaran. Kebijakan konfrontatif hanya akan menciptakan ketegangan berkelanjutan, bukannya kedamaian yang menjadi dambaan setiap negara.

Kesalahan besar dalam merancang strategi keamanan di kawasan ini harus segera ditebus oleh Washington dengan langkah-langkah yang konkret dan berani. Cara yang paling logis adalah dengan kembali menghormati perjanjian damai dengan Iran serta menghentikan segala bentuk provokasi yang kontraproduktif. Hanya dengan jalan dialog dan penghormatan terhadap kedaulatan negara lain, sebuah perdamaian yang permanen dapat diwujudkan di Timur Tengah.

Partisipasi Indonesia dalam momen bersejarah ini juga menandakan bahwa bangsa kita konsisten menjalankan politik luar negeri yang bebas aktif. Kita hadir bukan untuk memihak pada kepentingan yang saling bertabrakan, melainkan untuk berdiri tegak di atas nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan internasional.

Kehadiran Menlu Sugiono adalah jembatan yang memperkuat posisi tawar Indonesia dalam upaya mempromosikan perdamaian dunia.

Saya memandang bahwa langkah konkret pemerintahan Prabowo Subianto akan memberikan dampak positif bagi reputasi Indonesia di mata dunia. Kita menunjukkan diri sebagai aktor yang tidak hanya peduli pada isu domestik, tetapi juga mampu memberikan atensi yang layak terhadap dinamika global yang berdampak luas. Ini adalah bagian dari peran Indonesia dalam menjaga marwah bangsa di pentas internasional.

Pada akhirnya, kita mendoakan agar prosesi pemakaman Ayatollah Ali Khamenei di Mashhad berjalan dengan lancar dan khidmat. Semoga semangat perdamaian yang diwariskan oleh Ayatollah Ali Khamenei tetap hidup dan menginspirasi para pemimpin di seluruh dunia untuk memilih jalan dialog daripada senjata. Diplomasi, pada titik akhirnya, adalah tentang bagaimana kita mampu menghargai perbedaan dan merajut harapan di tengah perbedaan yang ada.


Penulis adalah Direktur Geopolitik GREAT Institute 


Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

UPDATE

Kemendag: Wajib Halal Bukan Pelarangan Impor

Sabtu, 26 September 2026 | 06:30

Baznas dan Komite Bantuan Kepresidenan Palestina Perkuat Kerja Sama Kemanusiaan

Sabtu, 26 September 2026 | 06:12

Instruksi Prabowo soal Kuliah Gratis PTN Harus Diprioritaskan

Sabtu, 26 September 2026 | 06:00

Serba ‘Tidak’ di Sidang Gibran

Sabtu, 26 September 2026 | 05:41

Cuma Tambah Dua Perunggu, Peringkat Indonesia Merosot

Sabtu, 26 September 2026 | 05:17

Jalur Sepeda Jangan cuma Jadi Pajangan

Sabtu, 26 September 2026 | 05:00

Benarkah Pengganti Gibran Sudah Ada?

Sabtu, 26 September 2026 | 04:29

Korlantas Polri Luncurkan Empat Inovasi Digital

Sabtu, 26 September 2026 | 04:18

Jangan Istimewakan Oknum DPRD Diduga Bakar Lahan

Sabtu, 26 September 2026 | 04:00

Kepala BNPB Minta Maaf soal Karhutla: Klarifikasi Istilah 'Normal'

Sabtu, 26 September 2026 | 03:46

Selengkapnya