Berita

Ilustrasi (Gambar: Babbe)

Bisnis

AI Makin Dipakai Menipu, OJK Ingatkan Pentingnya Literasi Digital

SENIN, 06 JULI 2026 | 07:02 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Dunia kriminal digital kini memasuki babak baru. Jika dulu para penipu hanya mengandalkan SMS amatir penuh typo, sekarang mereka telah melakukan upgrade besar-besaran. 

Pelaku kejahatan siber kini memanfaatkan teknologi Artificial Intelligence (AI) dan Deepfake untuk melancarkan aksinya, membuat batas antara yang asli dan yang palsu menjadi semakin kabur.

Menanggapi fenomena ini, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memperingatkan bahwa penguatan literasi digital masyarakat sudah bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendesak untuk menangkal taktik AI yang kian licik.


Pelaku kejahatan siber tidak lagi sekadar meretas sistem, melainkan meretas psikologi dan identitas manusia. Menurut Daniel Apriandi, Deputi Direktur Departemen Perlindungan Konsumen OJK sekaligus Sekretariat Satgas PASTI, AI digunakan untuk memanipulasi identitas digital secara instan dan masif.

Modus klasik seperti phishing dan social engineering kini menjadi jauh lebih mematikan karena disuntik teknologi AI.

"Scam dengan modus phishing dan social engineering terus meningkat, diperparah dengan penggunaan AI dan deepfake yang kini mampu meniru wajah, suara, dan bahasa tubuh korban secara sempurna," ungkap Daniel, dikutip di Jakarta, Senin 6 Juli 2026.

Bayangkan Anda menerima video call dari kerabat atau atasan yang meminta bantuan dana darurat. Suaranya sama, wajahnya mirip, bahkan gaya bicaranya persis. Padahal, di balik layar, itu adalah AI yang sedang bekerja menduplikasi korban.

Daniel menyebutkan bahwa rendahnya literasi digital masyarakat tetap menjadi pintu masuk utama yang dieksploitasi oleh para pelaku. Teknologi boleh berkembang pesat, namun benteng pertahanan terbaik tetap ada pada kesadaran penggunanya.

Untuk itu, OJK dan Satgas PASTI terus menggenjot edukasi konsumen dengan menekankan tiga poin penting:

Pertama, verifikasi ekstra: Jangan langsung percaya pada panggilan atau pesan mendesak, terutama yang melibatkan transaksi uang. Lakukan cek silang melalui jalur alternatif.

Kedua, proteksi data Mandiri: Menjaga kerahasiaan data pribadi agar tidak menjadi bahan baku bagi AI pelaku untuk melakukan kloning identitas.

Ketiga, kenali pola: Melatih diri untuk peka terhadap kejanggalan sekecil apa pun dalam komunikasi digital.

Menghadapi penjahat siber yang dipersenjatai AI tentu tidak bisa dilakukan sendirian. Direktur Operasi Keamanan dan Pengendalian Informasi BSSN, Satryo Suryantoro, menegaskan perlunya kolaborasi total dari seluruh lini.

Langkah awal harus dimulai dari pemerintah, lembaga, dan aparat penegak hukum yang wajib merumuskan regulasi ketat sekaligus menindak tegas para pelaku. Di sisi lain, dunia pendidikan dan media memegang peran krusial untuk terus memperluas edukasi serta menyebarkan kesadaran mengenai bahaya manipulasi AI ini ke masyarakat luas.

Tak kalah penting, dunia usaha dan komunitas juga harus bergerak bersama dengan menyediakan platform digital yang aman serta memperkuat sistem proteksi data konsumen mereka. Pada akhirnya, ujung tombak dari perlawanan ini ada pada masyarakat luas sendiri, yaitu dengan menjadi pengguna internet yang kritis, cakap digital, dan tidak mudah panik saat menghadapi modus penipuan.

Dengan mempersempit ruang gerak para pelaku lewat ekosistem yang saling terintegrasi ini, secanggih apa pun teknologi AI yang digunakan penipu, dampaknya akan dapat ditekan seminimal mungkin.


Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

Menelusuri Perjalanan Baru Vision dalam Serial VisionQuest

Kamis, 15 Oktober 2026 | 10:29

Usai Mandek, Harga Emas Antam Langsung Anjlok Hari Ini

Kamis, 15 Oktober 2026 | 10:22

Polisi Rilis 13 Korban Ledakan Pertokoan Pasar Cimanggis Tangsel

Kamis, 15 Oktober 2026 | 10:17

COP31 Jadi Momentum Prabowo Percepat Transisi Energi

Kamis, 15 Oktober 2026 | 10:08

PM Baru Maroko Temui Raja, Bahas Pembentukan Pemerintahan Baru

Kamis, 15 Oktober 2026 | 10:03

Pertamina Kerahkan Armada Tambahan dan Terminal 24 Jam untuk Normalisasi BBM di Bal

Kamis, 15 Oktober 2026 | 09:54

4,4 Juta Sertifikat Halal Terbit Jelang Batas Akhir, Didominasi UMKM

Kamis, 15 Oktober 2026 | 09:46

Pengamat Dorong Percepatan Jargas dan CNG untuk Tekan Impor LPG

Kamis, 15 Oktober 2026 | 09:42

Rupiah Nyaris Tembus Rp18.000 per Dolar AS, BI Langsung Buka Suara

Kamis, 15 Oktober 2026 | 09:38

Badai PHK Melanda Netflix Saat Pertumbuhan Melambat

Kamis, 15 Oktober 2026 | 09:27

Selengkapnya