Berita

Ilustrasi. (Foto: water-sport-bali.com)

Publika

Manifesto AJIP Bali: Ketika Pariwisata Kehilangan Arah

SENIN, 06 JULI 2026 | 02:35 WIB | OLEH: GIOSTANOVLATTO*

"PARIWISATA tidak mulai runtuh ketika wisatawan berhenti datang. Ia mulai kehilangan masa depannya ketika sebuah destinasi berhenti bertanya, untuk siapa sesungguhnya pariwisata itu dibangun."

Selama puluhan tahun, Bali menjadi wajah pariwisata Indonesia di mata dunia. Pulau kecil di tengah Nusantara ini berhasil mencapai sesuatu yang hanya mampu diraih sedikit destinasi global. Bali bukan sekadar tujuan wisata, melainkan sebuah identitas yang dikenal lintas negara. Namanya berdiri sejajar dengan Hawaii, Santorini, Phuket, hingga Maldives sebagai simbol keindahan, budaya, dan keramahan yang mampu menarik jutaan orang dari berbagai penjuru dunia.

Namun sejarah selalu mengajarkan satu hal. Keberhasilan yang tidak dievaluasi perlahan akan berubah menjadi jebakan. Ketika sebuah destinasi terlalu lama menikmati kesuksesannya, ia sering kali lupa mengajukan pertanyaan paling mendasar: apakah pertumbuhan yang terjadi benar-benar membawa kualitas yang lebih baik?


Dalam beberapa dekade terakhir, ukuran keberhasilan pariwisata semakin disederhanakan menjadi angka. Kita menghitung jumlah wisatawan, tingkat okupansi hotel, investasi yang masuk, jumlah penerbangan, hingga besarnya devisa yang dihasilkan. Semua indikator itu memang penting. Namun ketika angka menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan, kita mulai kehilangan kemampuan melihat apa yang sebenarnya sedang terjadi di lapangan.

Kita jarang bertanya apakah masyarakat lokal semakin sejahtera. Apakah ruang hidup mereka tetap terlindungi. Apakah budaya masih menjadi jiwa pariwisata atau hanya dipertontonkan sebagai komoditas. Apakah lingkungan masih mampu menopang laju pembangunan yang terus meningkat. Dan yang tidak kalah penting, apakah wisatawan masih merasakan Bali sebagai destinasi yang aman, tertib, nyaman, dan memiliki karakter yang kuat.

Pariwisata bukan sekadar industri. Ia adalah ekosistem yang mempertemukan manusia, budaya, alam, ekonomi, hukum, tata ruang, hingga identitas sebuah bangsa. Ketika salah satu unsur itu mulai diabaikan, dampaknya tidak selalu terlihat hari ini. Ia muncul perlahan, sedikit demi sedikit, hingga akhirnya menjadi persoalan yang jauh lebih sulit diselesaikan.

Kemacetan yang semakin padat, tekanan terhadap lingkungan, alih fungsi lahan yang tidak terkendali, persoalan sampah, meningkatnya berbagai pelanggaran hukum yang melibatkan sebagian wisatawan asing maupun pelaku lokal, munculnya praktik usaha yang tidak sehat, hingga berbagai persoalan keamanan dan ketertiban bukanlah kejadian yang berdiri sendiri. Semua itu adalah gejala yang menunjukkan bahwa sebuah destinasi sedang menghadapi tantangan tata kelola yang semakin kompleks.

Sayangnya, terlalu sering persoalan tersebut diperlakukan sebagai kasus yang berdiri sendiri. Ketika muncul satu masalah, kita menyelesaikannya sebagai peristiwa harian. Ketika muncul masalah berikutnya, kita kembali bereaksi. Yang sering hilang adalah keberanian untuk melihat benang merahnya. Padahal sebuah destinasi tidak pernah kehilangan kualitasnya karena satu kejadian besar. Ia berubah melalui akumulasi ribuan persoalan kecil yang dibiarkan berlangsung terlalu lama tanpa arah penyelesaian yang jelas.

Ironisnya, setiap kali kritik muncul, respons yang diberikan sering kali masih berkutat pada pencapaian jumlah kunjungan wisatawan. Seolah-olah semakin banyak orang datang berarti semakin berhasil pula sebuah destinasi. Padahal keberhasilan sejati bukan ditentukan oleh berapa banyak wisatawan yang datang, melainkan oleh seberapa besar manfaat yang mereka tinggalkan bagi masyarakat, lingkungan, dan masa depan destinasi itu sendiri.

Dunia sebenarnya telah bergerak ke arah yang berbeda. Destinasi-destinasi terbaik dunia tidak lagi berlomba menjadi yang paling ramai, melainkan menjadi yang paling berkualitas. Mereka mulai berbicara mengenai daya dukung lingkungan (carrying capacity), kualitas pengalaman wisatawan, kesejahteraan masyarakat lokal, konservasi budaya, hingga keberlanjutan ekonomi jangka panjang. Pertumbuhan tidak lagi dipahami sebagai tujuan akhir, tetapi sebagai konsekuensi dari tata kelola yang baik.

Bali seharusnya berada di garis depan perubahan itu. Sebagai destinasi yang telah menjadi ikon pariwisata dunia, Bali memiliki kesempatan untuk menjadi laboratorium bagaimana pariwisata modern dapat tumbuh tanpa kehilangan jati dirinya. Namun peluang tersebut hanya akan terwujud apabila semua pihak memiliki keberanian untuk mengevaluasi keadaan secara jujur, termasuk pemerintah, pelaku usaha, akademisi, masyarakat sipil, dan media.

Di sinilah kami memandang jurnalisme memiliki peran yang jauh lebih besar daripada sekadar menyampaikan informasi. Jurnalisme seharusnya menjadi sistem peringatan dini bagi sebuah destinasi. Ia tidak hanya mencatat keberhasilan, tetapi juga membaca tanda-tanda ketika arah pembangunan mulai menyimpang. Ia tidak bertugas menciptakan kepanikan, tetapi memastikan bahwa persoalan tidak terlambat disadari.

Berangkat dari kesadaran itulah Aliansi Jurnalis Pariwisata Bali (AJIP Bali) lahir.

AJIP Bali bukan didirikan sebagai organisasi yang hanya mempromosikan destinasi wisata. Kami juga tidak hadir untuk menjadi kelompok yang selalu mencari kesalahan pemerintah atau pelaku industri. AJIP Bali lahir karena adanya keyakinan bahwa pariwisata yang sehat membutuhkan jurnalisme yang independen, kritis, berbasis data, serta berani menyampaikan fakta apa adanya, sekalipun fakta tersebut tidak selalu nyaman didengar.

Kami percaya bahwa kritik bukanlah ancaman bagi pariwisata. Justru kritik yang jujur merupakan salah satu bentuk investasi paling berharga bagi masa depan sebuah destinasi. Destinasi yang menolak kritik perlahan akan kehilangan kemampuan untuk memperbaiki diri. Sebaliknya, destinasi yang berani mengevaluasi dirinya akan selalu memiliki kesempatan untuk bertahan menghadapi perubahan zaman.

Karena itu AJIP Bali ingin mendorong perubahan cara berpikir mengenai keberhasilan pariwisata Indonesia. Ke depan, keberhasilan tidak boleh lagi hanya diukur dari jumlah wisatawan yang datang. Keberhasilan harus diukur dari kualitas pengalaman yang mereka rasakan, kesejahteraan masyarakat yang menerimanya, budaya yang tetap hidup, lingkungan yang tetap lestari, kepastian hukum yang ditegakkan secara adil, serta kemampuan sebuah destinasi menjaga martabatnya di mata dunia.

Pada akhirnya, wisatawan tidak datang ke Bali hanya karena pantainya indah atau hotelnya mewah. Mereka datang karena Bali memiliki sesuatu yang jauh lebih bernilai: karakter. Karakter itu dibangun oleh budaya, masyarakat, alam, dan nilai-nilai yang diwariskan lintas generasi. Jika karakter itu hilang, maka tidak ada angka kunjungan yang mampu menggantikannya.

AJIP Bali memilih berdiri di titik itu. Menjadi ruang berpikir ketika yang lain sibuk menghitung. Menjadi ruang dialog ketika perdebatan kehilangan arah. Menjadi pengingat bahwa pariwisata bukan sekadar bisnis, melainkan warisan yang harus dijaga bersama.

Sebab pada akhirnya, sejarah tidak akan mengingat siapa yang paling banyak membangun hotel atau mencatat angka kunjungan tertinggi. Sejarah akan mengingat siapa yang memiliki keberanian menjaga Bali tetap layak diwariskan kepada generasi berikutnya.

*Penulis adalah Pendiri hey Bali dan Koordinator AJIP Bali


Populer

10 Jalan Febrie Adriansyah Menuju Bebas

Minggu, 19 Juli 2026 | 05:24

Selembar Ijazah Keliling Republik

Rabu, 22 Juli 2026 | 12:00

Hotman Paris Harus Minta Maaf

Minggu, 19 Juli 2026 | 17:02

Hotman Paris Tegaskan Tuduhan Keterlibatan Febrie dalam Kasus Asabri Salah Total

Sabtu, 18 Juli 2026 | 02:58

Ahli Waris Laporkan Dugaan Aset Tak Wajar Mantan Pejabat Negara ke KPK

Rabu, 22 Juli 2026 | 16:58

Penetapan Tersangka Tetap Sah Meski Belum Diperiksa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 12:35

KPK Sita Aset Rp22 Miliar Milik Anwar Sadad, Mulai Rumah hingga SPBE

Rabu, 22 Juli 2026 | 20:42

UPDATE

OIKN Siapkan Rangkaian Prosesi Penghormatan dan Pemakaman Troy Pantouw

Minggu, 26 Juli 2026 | 14:25

Tugu Koperasi Tasikmalaya Direvitalisasi Jadi Cagar Budaya Nasional

Minggu, 26 Juli 2026 | 14:18

BMKG Minta Masyarakat Waspadai Gelombang Tinggi di Beberapa Perairan Indonesia

Minggu, 26 Juli 2026 | 14:11

Lesley Simpson Racik Drama Psikologis Bunga di Tepi Jurang

Minggu, 26 Juli 2026 | 14:05

Indonesia Harus Terdepan Gerakkan Dunia Internasional Selamatkan Gaza

Minggu, 26 Juli 2026 | 14:00

SMRC Catat Kepuasan Publik terhadap Prabowo Turun 30 Persen

Minggu, 26 Juli 2026 | 13:58

Mantri BRI Jangkau Masyarakat Pegunungan Toraja Utara Hadirkan Layanan Perbankan

Minggu, 26 Juli 2026 | 13:28

Sudaryono Jangan Sesatkan Publik soal Mitos Telur Penyebab Bisul

Minggu, 26 Juli 2026 | 13:19

KPK Usut Dugaan Suap ke Pejabat Pemkot Bengkulu

Minggu, 26 Juli 2026 | 13:12

Kemenkes Perluas Skrining HIV, Putus Rantai Penularan di Masyarakat

Minggu, 26 Juli 2026 | 12:42

Selengkapnya