Proyek galian di Condet. (Foto: Dok pribadi)
"ASTAGHFIRULLAH ini galian sudah sampai tiga kali digali ditutup, digali lagi, ditutup lagi tapi tambalannya kagak sama kayak kemaren-kemaren” komentar salah satu warga di RT 005/003 Balekambang, Condet.
Hal ini pun selaras dengan komentar penjual bubur kacang hijau dijalan Kayu Manis Condet yang mengatakan penghasilannya sempat menurun ketika galian di depan warungnya tidak kunjung selesai.
Memang penulis akui bahwa membangun sistem jaringan saluran air bersih adalah investasi penting yang membantu meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Namun ketika proses kerja dan penyelesaiannya terlalu lama dan berkesan dibuat berlama-lama, disertai dengan tidak adanya komunikasi yang cukup, sehingga manfaat jangka panjang dari proyek air bersih ini justru tertutupi oleh ketidaknyamanan yang dirasakan masyarakat.
Kondisi seperti ini terjadi pada beberapa proyek pembangunan jaringan PDAM yang sudah dimulai di awal tahun 2026 dan hingga pertengahan tahun ini masih mendapatkan perhatian dari masyarakat karena belum juga selesai, bahkan semakin masif.
Sejak awal tahun 2026, pekerjaan pemasangan serta menghubungkan pipa dimulai di berbagai lokasi yang cukup penting. Beberapapa lokasi yang sering dibicarakan antara lian di jalan TB Simatupang (arah Pasar Minggu menuju Tanjung Barat), area Condet sampai k gang-gang kecil di area tersebut, Jalan Ciputat Raya, Jalan RA Kartini, Jalan Deplu Raya di Jakarta Selatan serta beberapa titik lokasi di Kota Tangerang. Proyek pemerintah ini merupakan bagian dari pembangunan jaringan air bersih yang lebih luas agar pelayanan dapat mencapai lebih banyak masyarakat.
Dibalik tujuan yang mulia ini, masyarakat menghadapi berbagai akibat, diantaranya pengecilan lebar jalan yang menyebabkan kemacetan yang berkepanjangan di jalur utama, terutama di jam-jam sibuk. Bahkan dibeberapa lokasi galian masih ada yang ditutupi oleh penutup sekedarnya, masyarakatpun mengeluhkan bekas parit yang belum diperbaiki, sehingga jalan berlubang, berdebu, becek, permukaan bekas galian tidak rata dengan badan jalan, yang dapat menimbulkan resiko kecelakaan bagi kendaraan sepeda motor.
Berdasarkan pengamatan penulis, pekerja dilapangan terlihat kurang banyak memiliki personel, sementara lubang galian semakin banyak yang terbuka selama berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan.
Respon masyarakat timbul bukan karena mereka menolak pembangunan infrastruktur. masyarakat mengerti dan memahami bahwa menyediakan air bersih adalah kebutuhan primer yang harus dipenuhi pemerintah. Namun kritik yang semakin banyak menyebutkan bahwa proses komunikasi proyek PDAM ini kurang baik, informasi mengenai jadwal penyelesaian masih minim, papan informasi di lapangan tidak memadai, ditambah dengan rencana rekayasa lalu lintas belum berjalan dengan optimal. Kondisi ini membuat masyarakat merasa bahwa pemerintah dan pengelola proyek tidak memikirkan dan memperhatikan dampak sosial yang muncul dan terjadi selama proses pembangunan infrastruktur tersebut.
Berdasarkan perspektif Situational Crisis Communication Theory (SCCT), situasi ini bukan sekedar krisis akibat gagal teknis, melainkan challenge crisis yang bisa berkembang menjadi preventable crisis jika komunikasi dengan publik terus diabaikan. Dalam perspektif SCCT oleh Coombs, cara masyarakat memandang tanggung jawab sebuah organisasi menjadi hal penting yang membentuk reputasi.
Semakin banyak masyarakat merasa bahawa organisasi bisa mengendalikan situasi tetapi tidak memberikan informasi yang jelas, semakin besar pula tanggung jawab yang dirasakan oleh organisasi tersebut. Dengan pendekatan SCCT solusi yang dibutuhkan tidak hanya mempercepat selesainya proyek, tetapi juga meningkatkan cara berkomunikasi saat terjadi krisis.
Penyampaian perkembangan proyek secara rutin, alasan teknis mengapa beberapa pekerjaan memakan waktu yang lebih lama, target penyelesaian yang realistis, serta menyediakan cara menyampaikan keluhan yang cepat dan responsif. Komunikasi yang jujur dan terbuka dapat mengurangi rasa tidak yakin di masyarakat, mencegah munculnya berita atau komentar negatif yang tidak benar, serta menjaga kepercayaan masyarakat terhadap proyek pemerintah yang sebenarnya dibangun untuk kepentingan besama.
Oleh karena itu, keberhasilan proyek infrastruktur tidak hanya dinilai dari selesainya membangun jaringan pipa, tetapi juga dari kemampuan pemerintah dalam membangun kepercayaan masyarakat melalui komunikasi yang jujur, empatik dan transparan.
Eni Widyaningsih
Penulis adalah mahasiswi S2 ilmu Komunikasi Universitas Paramadina