Berita

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. (Foto: RMOL/Alifia Dwi)

Bisnis

Purbaya Sebut Defisit Neraca Dagang Dipicu Lonjakan Harga Minyak Dunia

RABU, 01 JULI 2026 | 22:30 WIB | LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan defisit neraca perdagangan Indonesia pada Mei 2026 dipicu oleh membengkaknya impor minyak dan gas (migas) akibat kenaikan harga minyak dunia.

Menurut Purbaya, peningkatan nilai impor migas, terutama minyak bumi, menjadi faktor yang paling mungkin menyebabkan neraca perdagangan berbalik defisit setelah sebelumnya mencatat surplus selama 72 bulan berturut-turut atau selama enam tahun.

"Impor migas, harganya lagi bisa naik kan. Minyak bumi, saya pikir disitu yang membuatnya naik," kata Purbaya kepada wartawan di kantornya, Jakarta pada Rabu, 1 Juli 2026.


Meski demikian, Purbaya mengaku belum meninjau secara mendalam data perdagangan nonmigas. Ia menilai perlu dilakukan kajian lebih lanjut untuk memastikan apakah terdapat faktor lain di luar sektor migas yang turut menekan kinerja perdagangan Indonesia pada Mei 2026.

"Tapi kalo yang lain, yang non-oil and gas gimana? Saya belum lihat datanya," terang dia.

Badan Pusat Statistik (BPS) sebelumnya melaporkan defisit neraca perdagangan barang perdana sebesar 1,61 miliar Dolar AS atau setara Rp28 triliun pada Mei 2026. 

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, merinci nilai ekspor Indonesia pada Mei 2026 mencapai 23,20 miliar Dolar AS, sedangkan impor menembus 24,81 miliar Dolar AS. 

Ia mengatakan defisit tersebut terutama dipicu oleh masih lebarnya defisit perdagangan sektor minyak dan gas (migas).

"Pada Mei 2026 neraca perdagangan barang mengalami defisit sebesar 1,61 miliar Dolar AS. Defisit pada Mei 2026 disebabkan terutama defisit pada komoditas migas sebesar minus 3,76 miliar Dolar AS dengan penyumbang defisit komoditas migas yaitu dari hasil minyak dan dari minyak mentah," kata Ateng dalam konferensi pers di kantor BPS.

Di sisi lain, perdagangan nonmigas masih mencatatkan kinerja positif dengan surplus sebesar 2,50 miliar Dolar AS. Surplus tersebut terutama ditopang ekspor komoditas bahan bakar mineral, lemak dan minyak hewan atau nabati, serta besi dan baja.


Populer

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

UPDATE

Moreno Soeprapto, Potret Etika Buruk Wakil Rakyat

Senin, 21 September 2026 | 06:25

Suara Rakyat Jangan Dimubazirkan

Senin, 21 September 2026 | 06:05

Ketika Pakar Saking Pintarnya Jadi “Goblok”

Senin, 21 September 2026 | 05:44

Masa Depan Pelabuhan Indonesia antara Peluang dan Tantangan

Senin, 21 September 2026 | 05:13

Serangan Babi Hutan Persoalan Serius bagi Petani

Senin, 21 September 2026 | 05:00

Merapi Empat Kali Luncurkan Lava Pijar dalam 6 Jam

Senin, 21 September 2026 | 04:39

Pramono Lagi Menempatkan Jakarta dalam Peta Persaingan Kota Global

Senin, 21 September 2026 | 04:23

Membaca Berhadiah Koin

Senin, 21 September 2026 | 04:02

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Muhammadiyah Tetapkan 1 Ramadan 1448 H Jatuh 8 Februari 2027

Senin, 21 September 2026 | 03:06

Selengkapnya