Berita

Presiden Prabowo Subianto. (Foto: Setpres)

Politik

Prabowo Layak Dicontoh Bagi Siapa Pun yang Ingin Jadi Presiden

RABU, 01 JULI 2026 | 13:01 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

Perjalanan politik Prabowo Subianto dapat menjadi pelajaran penting bagi siapa pun yang bercita-cita menjadi presiden. 

Menurut pengamat politik Adi Prayitno, keberhasilan Prabowo memenangi Pilpres 2024 tidak diraih secara instan, melainkan melalui proses panjang setelah empat kali mengalami kekalahan.

"Kalau ingin jadi presiden rasa-rasanya memang perlu belajar politik dari Prabowo Subianto. Lima kali ikut berkompetisi, empat kali kalah, baru yang maju ke lima kalinya Prabowo Subianto itu menang sebagai Presiden Republik Indonesia," ujar Adi lewat kanal Youtube miliknya, Rabu, 1 Juli 2026.


Direktur Parameter Politik Indonesia itu mengatakan, pengalaman Prabowo menunjukkan bahwa kekalahan dalam kontestasi politik bukan alasan untuk berhenti berjuang.

"Jadi bagi siapa pun di negara kita, mungkin merasa hebat, mungkin merasa banyak dukungan, mungkin merasa didukung oleh seluruh rakyat Indonesia, sekali kalah dalam pilpres jangan berhenti," katanya.

Menurut Adi, sikap pantang menyerah yang ditunjukkan Prabowo patut dijadikan teladan bagi para tokoh politik yang ingin mengikuti jejaknya.

"Contohlah Prabowo Subianto. Kalah, bangkit lagi hingga yang kelima kalinya maju dan kemudian memenangkan pertarungan," lanjutnya.

Lebih jauh, Adi mengingatkan bahwa sistem pemilihan presiden di Indonesia mengharuskan setiap calon memperoleh dukungan dari partai politik atau gabungan partai politik.

Karena itu, menurutnya, figur yang merasa memiliki popularitas maupun dukungan publik tetap harus membangun jalur politik melalui partai.

"Yang dirinya merasa besar, hebat, merasa didukung oleh seluruh rakyat Indonesia, ingat berkompetisi di Pilpres Indonesia syarat utamanya itu adalah harus diusung oleh partai atau gabungan dari partai politik. Jadi harus melalui partai politik," jelasnya.

Ia pun menyarankan agar tokoh yang ingin maju sebagai calon presiden, tetapi tidak ingin bergabung dengan partai yang sudah ada, dapat membangun kendaraan politik sendiri.

"Kalau ada individu tertentu yang mungkin merasa hebat didukung rakyat, kalau tidak mau jadi bagian dari partai, bikinlah partai politik yang kemudian bisa dijadikan kendaraan," pungkas Adi.


Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

UPDATE

Bareskrim Gerebek 9 Lokasi Rawan Narkoba di Sumut, Puluhan Pengedar dan Pemakai Diamankan

Senin, 12 Oktober 2026 | 12:28

Pasar Serdang Kemayoran Segera Direvitalisasi

Senin, 12 Oktober 2026 | 12:15

Hadiah Bibit Korupsi

Senin, 12 Oktober 2026 | 12:01

Aparat Usut Dugaan Investasi Emas Bodong Rp25 Miliar yang Seret Sejumlah Artis

Senin, 12 Oktober 2026 | 11:55

Putusan MK soal Gibran Bergulir ke Ranah Politik

Senin, 12 Oktober 2026 | 11:39

Karhutla Belum Tuntas, Pemerintah Kaji Langkah Penanganan Terbaik

Senin, 12 Oktober 2026 | 11:34

Kemenhub Catat 1.673 Penerbangan Terdampak Karhutla: 907 Batal

Senin, 12 Oktober 2026 | 11:17

Radja Nainggolan Ungkap Penyesalan Besar Belum Pernah Bela Timnas Indonesia

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Trump Pertimbangkan Bantu Arab Saudi Perangi Houthi

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:48

Selengkapnya