Berita

Skisma Timur-Barat atau Skisma tahun 1054. (Foto: Istimewa)

Publika

Skisma Besar 1054 yang Membelah Kekristenan Timur dan Barat

SELASA, 30 JUNI 2026 | 05:19 WIB

PADA 16 Juli 1054, sebuah peristiwa di dalam gereja Hagia Sofia di Konstantinopel mengubah jalannya sejarah Kekristenan Barat dan Timur untuk selamanya. Kardinal Humbert dari Silva Candida, yang bertindak sebagai utusan resmi Paus Leo IX dari Roma, melangkah masuk ke tengah liturgi suci yang sedang berlangsung.

Tanpa ragu, ia meletakkan sebuah dokumen Kepausan—sebuah bula ekskomunikasi—tepat di atas altar utama. Dokumen tersebut secara resmi mengucilkan Patriark Konstantinopel, Michael Cerularius, beserta para pengikutnya dari persekutuan gereja.

Hanya dalam hitungan hari, Patriark Cerularius membalas tindakan tersebut dengan mengeluarkan ekskomunikasi serupa terhadap utusan dari Roma itu. Peristiwa ini dicatat dalam sejarah sebagai Skisma Besar 1054: titik pisah formal antara Gereja Katolik Roma di Barat dan Gereja Ortodoks di Timur.


Meskipun peristiwa di Hagia Sofia kerap digambarkan sebagai sebuah ledakan konflik yang tiba-tiba, meninjau Skisma Besar hanya dari kejadian tahun 1054 adalah sebuah kekeliruan. Ekskomunikasi timbal balik tersebut bukanlah penyebab utama perpecahan, melainkan gejala dari sebuah penyakit institusional, teologis, dan kultural yang telah menggerogoti tubuh Kekristenan selama berabad-abad.

Perpecahan ini merefleksikan alienasi bertahap antara dunia berbahasa Latin yang berpusat di Roma dan dunia berbahasa Yunani yang berpusat di Konstantinopel.

Akar Skisma Besar terletak pada struktur politik Kekaisaran Romawi sendiri. Pada akhir abad ke-3 Masehi, Kaisar Diocletian menyadari bahwa wilayah kekaisaran terlalu luas untuk dipimpin oleh satu pusat pemerintahan. Lalu ia membagi administrasi kekaisaran menjadi dua bagian, yaitu Kekaisaran Romawi Barat dan Kekaisaran Romawi Timur (yang kelak dikenal sebagai Kekaisaran Bizantium).

Pembagian ini dipertegas ketika Kaisar Konstantin Agung memindahkan ibu kota kekaisaran dari Roma ke kota baru yang dibangunnya, Konstantinopel, pada tahun 330 Masehi.

Pergeseran geografis kekuasaan ini menciptakan dua trajektori yang sangat berbeda bagi gereja di Barat dan Timur. Pertama, Kekaisaran Romawi Barat runtuh pada tahun 476 Masehi akibat gelombang invasi suku-suku Jermanik. Di tengah kekosongan kekuasaan politik, Gereja Roma dan sosok Paus muncul sebagai satu-satunya institusi stabil yang tersisa.

Paus tidak hanya memegang otoritas spiritual, tetapi juga mengambil alih peran sekuler sebagai pemimpin politik, diplomat, dan pelindung masyarakat. Kondisi ini melahirkan tradisi di mana gereja berdiri mandiri, bahkan sering kali berada di atas kekuasaan raja-raja lokal.

Kedua, Kekaisaran Romawi Timur, sebaliknya, berhasil bertahan dan terus makmur selama seribu tahun berikutnya. Di Konstantinopel, sistem pemerintahan yang berjalan adalah Caesaropapism, yaitu kondisi di mana Kaisar memegang kendali tertinggi atas negara sekaligus urusan internal gereja. Patriark Konstantinopel ditunjuk, didepak, dan diawasi secara ketat oleh Kaisar. Akibatnya, gereja di Timur berkembang sebagai bagian integral dari aparatur birokrasi negara.

Ketika Roma menobatkan Charlemagne, Raja suku Franka, sebagai Kaisar Romawi Suci pada Hari Natal tahun 800 Masehi, Konstantinopel memandangnya sebagai penghinaan langsung. Di mata Bizantium, kaisar mereka adalah satu-satunya penerus sah Kekaisaran Romawi yang legal. 

Penobatan Charlemagne oleh Paus menegaskan bahwa Roma secara politik telah berpaling sepenuhnya dari Timur dan membangun aliansi baru dengan kekuatan militer Eropa Barat. Jarak politik ini menciptakan jurang psikologis yang membuat kedua belah pihak saling memandang dengan penuh kecurigaan.

Konflik Teologis

Di atas fondasi ketegangan politik tersebut, perselisihan teologis tumbuh subur. Titik perdebatan yang paling sengit dan dogmatis berkisar pada satu frasa Latin, yaitu Filioque, yang berarti "dan dari Putera".

Persoalan ini berakar pada Pengakuan Iman Nikena-Konstantinopel (Kredo Nikena) yang dirumuskan dalam Konsili Ekumenis tahun 381 Masehi. Teks asli kredo tersebut menyatakan bahwa Roh Kudus "keluar dari Bapa". Namun, mulai abad ke-6, gereja-gereja di Spanyol Barat mulai menambahkan kata Filioque ke dalam teks tersebut sehingga bunyinya menjadi: Roh Kudus "keluar dari Bapa dan dari Putera”.

Penambahan ini awalnya ditujukan untuk melawan ajaran Arianisme yang meremehkan keilahian Yesus Kristus di kalangan suku-suku Visigoth. Melalui klaim bahwa Roh Kudus juga keluar dari Putera, teolog Barat ingin menegaskan kembali status setara Kristus dengan Tuhan Bapa. Frasa ini menyebar luas ke Prancis, diadopsi oleh istana Charlemagne, dan akhirnya dimasukkan secara resmi ke dalam liturgi misa di Roma pada awal abad ke-11.

Bagi Gereja Timur, penambahan satu kata ini adalah penyelewengan teologis yang sangat serius karena dua alasan utama.

Pertama, Gereja Timur berargumen bahwa Kredo Nikena adalah produk dari Konsili Ekumenis yang diilhami oleh Roh Kudus dan mengikat seluruh umat Kristen. Oleh karena itu, tidak ada satu gereja lokal pun—termasuk Roma—yang memiliki hak hukum atau spiritual untuk mengubah teks tersebut secara sepihak tanpa persetujuan dari konsili global seluruh patriark.

Kedua, teolog Yunani, yang dipelopori oleh Patriark Fotius pada abad ke-9, berpendapat bahwa Filioque merusak keseimbangan doktrin Trinitas Kristen. Dalam teologi Timur, Bapa adalah satu-satunya sumber asal (arche) dari keilahian. Mengatakan bahwa Roh Kudus keluar dari Bapa "dan Putera" dianggap menciptakan dua sumber asal dalam Trinitas, yang mengaburkan karakteristik pribadi masing-masing hipostasis (pribadi Allah) dan mengancam konsep monoteisme Kristen yang murni.

Hingga hari ini, perdebatan mengenai Filioque tetap menjadi salah satu batu sandungan teologis terbesar yang memisahkan teologi Katolik Roma dan Ortodoks Timur.

Papal Primacy versus Pentarki

Selain perdebatan tentang hakikat Tuhan, kedua wilayah ini memiliki pemahaman yang saling bertolak belakang mengenai bagaimana gereja universal harus dipimpin. Perselisihan ini dikenal sebagai konflik mengenai Papal Primacy (Primat Kepausan).

Gereja Barat, yang berpusat di Roma, membangun argumennya di atas dasar "Primat Petrin". Berdasarkan pembacaan terhadap Injil Matius 16:18, di mana Yesus menyatakan Petrus sebagai "batu karang" tempat gereja didirikan, Roma mengklaim yurisdiksi universal atas seluruh Kekristenan.

Karena Santo Petrus dipandang sebagai Uskup Roma yang pertama, maka setiap Paus yang menggantikannya dianggap mewarisi otoritas penuh, absolut, dan tidak bersyarat untuk memimpin, mengajar, dan menghakimi seluruh umat beriman di dunia. Bagi Roma, kepatuhan kepada tahta Kepausan adalah syarat mutlak bagi persatuan Kristen.

Sebaliknya, Gereja Timur memegang teguh model tata kelola yang disebut Pentarki (Pemerintahan Lima Pusat). Sistem ini memandang gereja universal dipimpin secara kolektif oleh lima tahta keuskupan utama yang setara: Roma, Konstantinopel, Aleksandria, Antiokhia, dan Yerusalem.

Di dalam sistem Pentarki ini, Timur memang mengakui Uskup Roma memiliki posisi kehormatan khusus. Namun, posisi ini didefinisikan secara ketat sebagai primus inter pares—yang pertama di antara yang setara. Bagi Konstantinopel, keutamaan Roma hanyalah sebuah penghormatan historis karena statusnya sebagai bekas ibu kota kekaisaran kuno, bukan karena Paus memiliki kekuasaan hukum mutlak di atas keuskupan lain.

Timur menolak gagasan bahwa satu uskup tunggal dapat mendikte doktrin kepada seluruh gereja. Mereka bersikeras bahwa otoritas tertinggi bumi berada di tangan Konsili Ekumenis, di mana seluruh patriark berkumpul dan mengambil keputusan secara kolegial di bawah bimbingan Roh Kudus.

Perbedaan Liturgi, Budaya, dan Bahasa

Jika perdebatan teologis dan tata kelola gereja didominasi oleh kaum elit intelektual, masyarakat awam merasakan perpecahan melalui perbedaan praktik ibadah sehari-hari. Selama berabad-abad, isolasi geografis melahirkan variasi liturgi yang memicu prasangka budaya yang mendalam.

Salah satu perbedaan praktis yang paling mencolok dan memicu ketegangan pada tahun 1054 adalah jenis roti yang digunakan dalam sakramen Ekaristi (Komuni Kudus). Gereja Barat menggunakan roti tidak beragi (azymes). Kebiasaan ini meniru tradisi Yahudi pada Perjamuan Terakhir yang bertepatan dengan hari raya Paskah Yahudi.

Gereja Timur memandang praktik ini dengan kurang baik. Mereka menuduh Barat bersikap "Yudaistis" dan kehilangan makna spiritual dari Kekristenan. Timur bersikeras menggunakan roti beragi biasa (zymes), di mana ragi melambangkan kehidupan, jiwa, dan kebangkitan Kristus yang hidup.

Perbedaan-perbedaan lainnya meliputi selibat imam, bahasa, dan pola pikir. Roma secara agresif mulai menegakkan reformasi moral yang mewajibkan seluruh romo/imam untuk hidup selibat (tidak menikah). Gereja Timur, di sisi lain, mempertahankan tradisi kuno di mana pria yang sudah menikah diizinkan untuk ditahbiskan menjadi imam paroki (meskipun uskup harus tetap dipilih dari kalangan biarawan yang selibat).

Faktor yang paling mendasar namun sering diabaikan adalah kendala bahasa. Barat beroperasi sepenuhnya dalam bahasa Latin, yang cenderung kaku, legalistik, dan berfokus pada konsep hukum serta keadilan.

Sementara itu, Timur berpikir dan menulis dalam bahasa Yunani yang kaya akan nuansa filosofis, mistis, dan abstrak. Ketika para teolog dari kedua belah pihak tidak lagi bisa membaca karya tulis satu sama lain dalam bahasa asli, kesalahpahaman penerjemahan dengan cepat berubah menjadi tuduhan bid’ah.

Puncak Krisis Tahun 1054

Ketegangan yang menumpuk ini mencapai titik didih pada pertengahan abad ke-11 akibat benturan personalitas antara dua tokoh yang keras kepala, yaitu Patriark Michael Cerularius di Konstantinopel dan Kardinal Humbert dari Silva Candida, utusan Paus Roma.

Krisis bermula ketika Gereja Normandia (Barat) menaklukkan wilayah Italia Selatan yang sebelumnya berada di bawah yurisdiksi Konstantinopel. Di wilayah baru ini, Roma memaksa gereja-gereja Yunani untuk mengadopsi praktik-praktik Latin, termasuk penggunaan roti tidak beragi.

Sebagai aksi balasan, Patriark Cerularius memerintahkan penutupan seluruh gereja ritus Latin di Konstantinopel, dan mengizinkan dokumen-dokumen yang menyerang praktik Barat beredar luas.

Untuk meredakan ketegangan dan mencari aliansi militer melawan bangsa Normandia, Paus Leo IX mengirimkan delegasi diplomatik ke Konstantinopel yang dipimpin oleh Kardinal Humbert. Namun Humbert adalah seorang loyalis kepausan yang kaku dan tidak memiliki kepekaan diplomatik terhadap tradisi Timur.

Setibanya di Konstantinopel, Humbert merasa dihina karena Patriark Cerularius menolak untuk menemuinya secara langsung dan meragukan keabsahan surat mandat Kepausan yang dibawanya.

Setelah berbulan-bulan mengalami kebuntuan diplomatik, Humbert kehilangan kesabaran. Tanpa mempedulikan fakta bahwa Paus Leo IX sebenarnya telah wafat beberapa minggu sebelumnya di Roma (yang secara hukum membatalkan wewenang diplomasinya), Humbert melangkah ke dalam Hagia Sofia pada pagi hari tanggal 16 Juli 1054.

Di sana ia menjatuhkan dokumen ekskomunikasi yang menuduh Gereja Timur melakukan berbagai macam kesalahan, mulai dari mengizinkan imam menikah hingga sengaja menghapus frasa Filioque dari kredo asli (sebuah tuduhan yang keliru secara historis). Humbert kemudian berjalan keluar, mengibaskan debu dari alas kakinya, dan berseru, "Biarlah Tuhan melihat dan menghakimi!"

Patriark Cerularius segera menggalang sinode para uskup Timur. Pada tanggal 24 Juli 1054, mereka membakar dokumen Kepausan tersebut dan mengeluarkan anatema (kutukan ekskomunikasi) balik terhadap Kardinal Humbert dan seluruh delegasinya. Pintu komunikasi formal antara kedua belah pihak resmi tertutup.

Dampak Jangka Panjang

Pada tahun 1054, sebagian besar umat Kristen awam tidak menyadari bahwa sebuah perpecahan baru saja terjadi. Kejadian tersebut awalnya dianggap sebagai perselisihan personal yang biasa terjadi antar-hierarki gereja dan akan mereda seiring berjalannya waktu. Namun, peristiwa sejarah berikutnya memastikan bahwa luka psikologis ini tidak akan pernah sembuh dengan mudah.

Pukulan telak yang mengubah skisma teologis menjadi kebencian kultural yang mendalam terjadi pada masa Perang Salib Keempat pada tahun 1204. Pasukan Salib dari Eropa Barat, yang awalnya berangkat untuk merebut kembali Yerusalem dari tangan kaum Muslimin, dialihkan jalurnya oleh ambisi politik dan utang keuangan menuju Konstantinopel.

Selama tiga hari yang brutal, tentara Kristen Barat menjarah, memperkosa, dan membantai sesama umat Kristen di Konstantinopel. Mereka menghancurkan perpustakaan kota, mencuri relikui suci, dan menubrukkan altar Ortodoks di Hagia Sofia untuk diganti dengan tahta Latin. 

Peristiwa traumatis tahun 1204 ini menanamkan rasa ketidakpercayaan yang mendalam di hati masyarakat Timur terhadap Barat. Bagi orang Bizantium, "lebih baik melihat sorban Turki berkuasa di kota ini daripada topi kardinal Roma."

Kondisi keterasingan ini bertahan selama hampir seribu tahun. Baru pada abad ke-20, angin perubahan ekumenis mulai berhembus. Pada 7 Desember 1965, sebuah peristiwa monumental terjadi secara simultan di Roma dan Istanbul (Konstantinopel). Paus Paulus VI dan Patriark Ekumenis Athenagoras I bertemu di Yerusalem dan menandatangani Deklarasi Bersama Katolik-Ortodoks.

Dokumen ini secara resmi menyatakan penyesalan atas luka masa lalu dan mencabut dekret saling ekskomunikasi tahun 1054. Tindakan ini meruntuhkan tembok permusuhan legalistik yang telah berdiri selama berabad-abad.

Buni Yani
Peneliti media, budaya, dan politik Asia Tenggara

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

UPDATE

Steve Hanke Ungkit Lagi Keputusan IMF 1998, Klaim Rupiah Bisa Setara Dolar AS

Selasa, 30 Juni 2026 | 08:12

Gibran Ingin Generasi Muda Jadi Perekat Persatuan Bangsa

Selasa, 30 Juni 2026 | 08:06

Komut Pertamina Mochamad Iriawan Pastikan Kesiapan SAF dan Operasional B50 di Jawa Timur

Selasa, 30 Juni 2026 | 07:57

Wall Street Berpesta! Dow Cetak Rekor

Selasa, 30 Juni 2026 | 07:53

Nasib Nadiem Ditentukan di Sidang Vonis Hari Ini

Selasa, 30 Juni 2026 | 07:42

Kekayaan AHY Naik Hampir Enam Kali Lipat, Kini Tembus Rp118,65 Miliar

Selasa, 30 Juni 2026 | 07:29

STOXX 600 Menguat Tipis, Saham Teknologi dan Energi Topang Bursa Eropa

Selasa, 30 Juni 2026 | 07:24

Jerman Tumbang, Paraguay Melaju ke Perempat Final Piala Dunia 2026

Selasa, 30 Juni 2026 | 07:14

Pimpin BEI 2026-2030, Jeffrey Hendrik Targetkan Pasar Modal Indonesia Tembus 10 Besar Dunia

Selasa, 30 Juni 2026 | 07:02

Dana GCA Diklaim Bisa Stabilkan Nilai Tukar Rupiah

Selasa, 30 Juni 2026 | 06:48

Selengkapnya