"Apa yang sebenarnya berubah? Jalanannya, atau manusianya?"
Pertanyaan itu tiba-tiba muncul ketika aku memandangi layar telepon genggam yang tak henti-hentinya berbunyi.
Pesan demi pesan masuk dari berbagai grup WhatsApp. Ada yang mengirim analisis politik, potongan berita, video demonstrasi, hingga seruan perjuangan. Semua terasa begitu dekat, tetapi sekaligus begitu jauh.
Aku tersenyum tipis.
Ingatanku melompat 4 tahun ke belakang.
Tahun 2022. Saat itu, menjelang berakhirnya masa kekuasaan Presiden Jokowi, aku masih dipenuhi keyakinan yang sama seperti ketika masa masih mahasiswa.
Dalam imajinasiku, sejarah selalu bergerak oleh gelombang rakyat. Aku masih percaya, suatu hari jutaan orang akan turun ke jalan, lalu kekuasaan akan berhenti sebagaimana pernah terjadi dalam lembar-lembar sejarah republik ini.
Di tengah semangat itu, seorang senior dan tokoh gerakan menepuk bahuku.
"Gusto... kau itu sudah tua. Lima puluh tahun ke atas bukan lagi usia untuk mengejar jalanan seperti dulu."
"Betul Bang," jawabku singkat, sambil merenung di balik pandanganku di suasana malam Jakarta, menelusuri Lautze hingga Kalibata, dalam mobil sedan kecil putih.
Kalimat itu sederhana.
Namun entah mengapa, ia menghantam lebih keras daripada popor senapan aparat pada masa demonstrasi dahulu.
Aku tak menjawab.
Aku hanya diam.
Malam itu aku pulang sambil membawa satu pertanyaan yang terus berputar di kepala.
Apa sebenarnya yang sedang diingatkan kepadaku?
Kini tahun 2026.
Usiaku telah lima puluh lima tahun.
Baru sekarang aku mengerti maksud kalimat itu.
Bukan karena tubuhku mulai renta.
Bukan pula karena langkahku tak lagi secepat dulu.
Melainkan karena zaman telah mengganti panggung pertunjukannya.
Aku bukan siapa-siapa lagi.
Setidaknya begitulah perasaanku.
Dulu, hampir setiap hari kami berpindah dari satu sekretariat ke sekretariat lain. Dari Salatiga menuju Ambarawa. Dari Ungaran ke Karangbendo Semarang. Singgah di Cafe Melati, hingga sekret Sastra kampus Undip. Lalu malam berakhir di Kliwonan, sekitar IAIN Walisongo Senarang.
Di ruang-ruang sederhana itulah mimpi-mimpi besar republik dirakit.
Kami berdiskusi hingga dini hari.
Kadang tentang nasib buruh.
Kadang tentang petani.
Kadang tentang kebudayaan.
Kadang tentang Timor Leste.
Tak ada pendingin ruangan.
Tak ada proyektor.
Tak ada internet.
Yang ada hanya kopi pahit, rokok murah, tikar lusuh, dan keyakinan bahwa Indonesia bisa menjadi negeri yang lebih adil.
Setelah diskusi selesai, kami turun ke kampung-kampung.
Mengetuk pintu rumah rakyat.
Berbicara dengan petani.
Mendengar keluhan buruh.
Tidur di rumah-rumah sederhana.
Karena gerakan, bagi kami, bukan hanya pidato.
Gerakan adalah perjumpaan.
Gerakan adalah persahabatan.
Gerakan adalah keberanian untuk hadir.
Masih jelas dalam ingatanku.
Aksi-aksi di Kabupaten Pati.
Pertemuan-pertemuan kecil di Pekalongan bersama kawan-kawan Saddam, gerakan Islam.
Gelombang politik Mega-Bintang.
Peristiwa 27 Juli 1996 di Teuku Umar, Jakarta, yang meninggalkan luka panjang dalam sejarah demokrasi Indonesia.
Semuanya terasa begitu nyata.
Tak ada yang instan.
Sebuah gerakan lahir dari percakapan panjang.
Percakapan melahirkan kepercayaan.
Kepercayaan melahirkan organisasi.
Organisasi melahirkan keberanian.
Dan keberanian, kadang, berakhir di balik jeruji besi.
Begitulah hidup bergerak.
Natural.
Apa adanya.
Lalu Mei 1998 datang.
Sejarah berubah.
Kami mengira setelah itu perjuangan akan semakin mudah.
Ternyata tidak.
Musuh berganti wajah.
Teknologi berkembang lebih cepat daripada kemampuan manusia memahami dirinya sendiri.
Internet datang membawa keajaiban.
Jarak lenyap.
Waktu dipersingkat.
Informasi melesat tanpa izin.
Yang dulu membutuhkan perjalanan berhari-hari kini cukup beberapa detik.
Kini aku dapat berbicara dengan seseorang di Aceh, Papua, Nepal, Bangladesh, India, bahkan kawasan Teluk Hormuz, tanpa harus meninggalkan kursi.
Luar biasa.
Namun di balik kemudahan itu, ada sesuatu yang diam-diam hilang.
Aku merindukan tatapan mata ketika berdiskusi.
Aku merindukan pelukan setelah aksi dibubarkan aparat.
Aku merindukan suara sandal yang berderap menuju titik kumpul.
Aku merindukan aroma hujan di jalanan ketika ribuan mahasiswa berjalan tanpa tahu apakah sore nanti mereka akan pulang atau ditangkap?
Hari ini semuanya berkumpul dalam ruang yang lain.
Namanya media sosial.
Marah ada di sana.
Kecewa ada di sana.
Harapan juga ada di sana.
Semuanya hadir dalam bentuk tulisan, gambar, video, dan pesan suara.
Tak ada lagi sekretariat.
Tak ada lagi posko.
Tak ada lagi rumah kontrakan yang menjadi markas perjuangan.
Yang ada adalah grup WhatsApp, dan sebangsanya. Ratusan. Bahkan ribuan.
Dalam hitungan detik, sebuah grup dapat berisi orang-orang dari Sabang sampai Merauke.
Lima tahun berlalu.
Percakapan berlangsung hampir setiap hari.
Diskusi tak pernah berhenti.
Tetapi anehnya...
Kami jarang benar-benar bertemu.
Kami seperti hidup bersama.
Namun berada di dunia yang berbeda.
Aku kemudian menyadari sesuatu yang selama ini luput dari penglihatanku.
Anak-anak muda ternyata tidak diam.
Mereka bergerak.
Mereka berkumpul.
Mereka membangun jaringan.
Mereka melakukan konsolidasi.
Hanya saja caranya berbeda.
Mereka lahir dalam dunia digital.
Mereka belajar politik melalui layar.
Mereka membangun solidaritas melalui berbagai platform media sosial.
Mereka melintasi batas kota, negara, bahkan benua.
Mereka tidak sedang mengulang cara kami.
Mereka sedang menciptakan cara mereka sendiri.
Barangkali, sebagaimana kami dulu tak sepenuhnya mengikuti jejak generasi sebelumnya.
Sesekali aku membuka kembali peta perjalanan hidupku.
Salatiga. Ambarawa. Bawen. Ungaran.Demak. Kali Tuntang. Kauman Johar. Kaligawe. Cepiring. Perkebunan Teh Medini. Boja. Batang. Pekalongan. Bukak Rante. Villa Jatirasa Bekasi. Pedati. Pasar Pramuka. Salemba. Tugu Tani.
Monas. Istana Merdeka. Cipinang. LP Salemba.
Nama-nama itu bukan cuma titik di peta.
Ia adalah jejak langkah.
Jejak persahabatan. Jejak air mata. Jejak mimpi.
Kini, rute itu telah berubah.
Perjalanan dapat melintasi Nepal, Bangladesh, India, bahkan Teluk Hormuz hanya melalui sentuhan jari.
Tetapi aku masih bertanya dalam hati.
Apakah perjalanan digital mampu menggantikan getaran ribuan langkah kaki yang berjalan bersama di atas aspal?
Aku belum menemukan jawabannya.
Mungkin sejarah sedang menunggu.
Menunggu saat seluruh percakapan di ruang maya menemukan jalannya menuju ruang nyata.
Sebab sejak dahulu, perubahan besar selalu lahir ketika pikiran, hati, dan keberanian akhirnya bertemu di satu tempat.
Dan mungkin...
Suatu hari nanti...
Grup-grup yang hari ini hanya saling menyapa melalui layar telepon akan berubah menjadi lautan manusia yang memenuhi jalan-jalan ibu kota.
Bukan hanya karena marah.
Melainkan karena mereka telah menemukan kembali sesuatu yang tak pernah bisa digantikan oleh teknologi.
Yaitu keberanian untuk hadir.
Sebab pada akhirnya, sejarah tidak pernah ditulis oleh sinyal internet.
Sejarah selalu ditulis oleh manusia yang berani melangkah.
Kalibata, Jaksel, Senin 29 Juni 2026, 09:54 Wib