Berita

Penutupan Munas alim ulama dan Konbes NU tahun 2026. (Foto: Dok. Penulis)

Publika

Rais Aam Ternyata Awam: Plagiat dan Salah Pasang Harkat

Catatan atas Pidato Kiai Miftah di Penutupan Munas-Konbes NU di Bangkalan
MINGGU, 28 JUNI 2026 | 21:50 WIB

SAYA menyimak pidato berbahasa Arab Kiai Miftachul Akhyar dalam Munas-Konbes NU di Bangkalan melalui siaran langsung kanal NU Online. Sebagai lulusan MAN-PK dan santri Denanyar, telinga saya masih cukup terlatih untuk menelaah isi pidato semacam itu. 

Ketika sampai pada kutipan hadist yang menyatakan bahwa sebuah negeri, meskipun dipimpin oleh orang kafir, tetap dapat makmur selama jauh dari kezaliman, saya menyadari bahwa materi yang dibacakan ternyata bukanlah susunan beliau sendiri, melainkan diambil dari kitab Nasihatul Muluk karya Imam Al-Ghazali.

Anehnya, sepanjang kurang lebih 16 menit 25 detik pidato tersebut, saya tidak sekalipun mendengar beliau menyebut sumber rujukannya. Tidak ada penyebutan nama kitab, apalagi pengarangnya. 


Karena itu, saya merasa pantas untuk bertanya: bukankah praktik seperti ini dalam ilmu balaghah dapat dikategorikan sebagai sariqah–atau, dalam istilah akademik modern, plagiasi?

Namun, persoalan sumber yang tidak disebutkan itu sesungguhnya baru separuh masalah. Sebab, meskipun beliau hanya membacakan teks yang sudah tersedia–tinggal mengeja dan melafalkannya–saya tetap menemukan sejumlah kekeliruan yang, menurut saya, seharusnya tidak keluar dari lisan seorang Rais Aam PBNU.

Berikut beberapa catatan yang saya temukan.

Pertama, kesalahan dalam menyebut tahun (durasi 2:01:47), dan kesalahannya terbilang sangat mendasar.

Ketika menyebut tahun 1448 Hijriah, yang terlontar dari lisan beliau adalah arba‘ata ‘asyar ... alfan ... wa tsamaniyah ... wa arba‘in ... hijriyan, yang secara harfiah berarti "empat belas ribu empat puluh delapan Hijriah", atau jika ditulis dengan angka menjadi 14.048 H.

Ini bukan sekadar keseleo lidah biasa. Ini adalah kekeliruan yang cukup fatal dan terasa janggal keluar dari seorang Rais Aam PBNU yang selama ini dipersepsikan sebagai sosok alim.

Dulu, ketika saya belajar bab ‘Adad dalam Alfiyah kepada Kiai Aziz Masyhuri, sudah sangat jelas dijelaskan bahwa penyebutan yang tepat adalah tsamaniyah wa arba‘in wa arba‘imi’ah wa alf

Susunannya boleh dimulai dari alf terlebih dahulu, atau diakhiri dengan arba‘in, tetapi tidak sebagaimana yang beliau ucapkan.

Kedua, terdapat setidaknya enam kesalahan dalam pembacaan teks. Padahal, sekali lagi, beliau hanya membacakan teks yang sudah tersedia. Enam kekeliruan tersebut terdiri atas empat kesalahan harakat dan dua kesalahan lafal.

Mari kita mulai dari kesalahan harakat. Pertama, saat menyampaikan terima kasih kepada para peserta yang telah bersungguh-sungguh, beliau membaca bi badzlil was‘i (durasi 2:02:35). 

Padahal, hampir semua santri yang pernah mengaji shorof dan usul fikih bab ijtihad mengetahui bahwa bentuk yang tepat adalah badzlul wus‘i, sebuah frasa yang sangat populer dalam literatur usul fikih ketika mendefinisikan ijtihad.

Kedua, ketika menjelaskan dua tugas pemimpin yang diberikan Allah, beliau membaca wa mulkuhum azmatul ibrom wan naqdl (durasi 2:05:25). Pada bagian ini terdapat dua kesalahan sekaligus.
  1. Seharusnya berbunyi wa mallakahum, bukan mulkuhum, baik karena alasan makna maupun untuk menjaga keselarasan dengan struktur jumlah fi‘liyyah sebelumnya, yaitu wakhtaro.
  2. Beliau membaca azmat, padahal bentuk yang benar adalah azimmat–jamak dari zimam–yang justru lazim digunakan dalam konteks kepemimpinan dan kekuasaan. Kesalahan seperti ini, menurut saya, cukup menunjukkan kualitas penguasaan teks yang sebenarnya.
Ketiga, ketika menyebut keyakinan kaum Majusi bahwa kezaliman tidak dibenarkan dalam agama mereka, beliau membaca jaizun (durasi 2:07:55). Padahal, yang tepat adalah jaizan, karena berfungsi sebagai maf‘ul tsani dari kata kerja yaro.

Keempat, saat mengutip kisah Nabi Daud yang dilarang mencela para raja non-Arab (‘ajam), beliau membaca an anhi (durasi 2:08:11). Secara sharaf, bentuk tersebut kurang tepat. Seharusnya dibaca aninha, yang berasal dari fi‘il mujarrad naha–yanha, bukan dari bentuk mazid anha–yunhi.

Adapun dari sisi lafal, saya juga menemukan dua kekeliruan.

Pertama, beliau membaca li fadh lil ‘ibad (durasi 2:05:18). Saya bahkan sempat mengernyit beberapa kali karena tidak memahami maksud frasa tersebut. Setelah membuka kembali kitab Nasihatul Muluk, ternyata yang benar adalah li hifzhil ‘ibad.

Kedua, beliau membaca “bis sawiyyah” (durasi 2:07:55). Lagi-lagi saya dibuat bingung dengan lafal tersebut, hingga akhirnya menyadari selepas membuka Nasihatul Muluk bahwa yang dimaksud sesungguhnya adalah al-umur al-sirriyyah.

Demikian beberapa catatan yang saya temukan dari pidato penutupan Munas-Konbes tersebut. Menurut saya, kekeliruan-kekeliruan semacam ini tidak seharusnya muncul dari seorang Rais Aam PBNU, terlebih ketika yang dibaca hanyalah sebuah teks yang telah tersedia.

Rais Aam yang plagiat, tidak tahu pasang harkat, dan punya riwayat sebagai penebar pertengkaran di tubuh NU, tidak layak lagi jadi Rais Aam. 

Salam Amar Ma'ruf Nahi Munkar.

HRM Khalilur R Abdullah Sahlawy
Warga Nahdlatul Ulama, Kiai Kampung

Populer

Oknum Prajurit di Lokasi Penggeledahan di Luar Mandat TNI

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29

10 Jalan Febrie Adriansyah Menuju Bebas

Minggu, 19 Juli 2026 | 05:24

Hotman Paris Harus Minta Maaf

Minggu, 19 Juli 2026 | 17:02

Saat Konglomerat Tan Kian Diamankan Polisi

Sabtu, 11 Juli 2026 | 21:50

Hotman Paris Tegaskan Tuduhan Keterlibatan Febrie dalam Kasus Asabri Salah Total

Sabtu, 18 Juli 2026 | 02:58

Permainan Kejagung Terlalu Kasar soal Penghentian Pengumpulan Data Program MBG

Rabu, 15 Juli 2026 | 05:14

Penetapan Tersangka Tetap Sah Meski Belum Diperiksa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 12:35

UPDATE

Lepas Status WNI Kena Tarif Rp5 Juta, Ini Kata Ketua DPR

Selasa, 21 Juli 2026 | 14:23

KPK Panggil Lima Pejabat BPK Sumsel

Selasa, 21 Juli 2026 | 14:16

Saham BUMI Menguat 6 Persen pada Sesi I, Bukukan Transaksi Rp727,5 Miliar

Selasa, 21 Juli 2026 | 14:15

Pengisian Jabatan di Kemenag Dituntut Adil dan sesuai Meritokrasi

Selasa, 21 Juli 2026 | 14:08

Bisa Jadi Ada Aparat Lain Seperti Febrie

Selasa, 21 Juli 2026 | 14:06

Sekolah Negeri Sepi Peminat Harus Jadi Perhatian

Selasa, 21 Juli 2026 | 14:05

Mereduksi Bobot Kekuasaan Gibran Lewat Pergeseran Posisi Duduk Wapres

Selasa, 21 Juli 2026 | 14:04

Sepak Bola Berbasis Bukti

Selasa, 21 Juli 2026 | 13:50

DPR Minta Kesetaraan Penanganan Kasus Febrie

Selasa, 21 Juli 2026 | 13:39

Babinsa dan Bhabinkamtibmas Dilibatkan dalam Pemungutan Pajak Berpeluang Gerus Kepercayaan Publik

Selasa, 21 Juli 2026 | 13:38

Selengkapnya