Berita

Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa. (Foto: RMOL/Alifia Dwi Ramandhita)

Bisnis

Purbaya Andalkan Panda Bond untuk Kurangi Ketergantungan Dolar AS

SABTU, 27 JUNI 2026 | 13:41 WIB | LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjadikan penerbitan Panda Bond sebagai salah satu strategi pemerintah mengurangi ketergantungan terhadap Dolar Amerika Serikat (AS). 

Langkah itu diyakini dapat memperkuat stabilitas nilai tukar Rupiah sekaligus memperluas sumber pembiayaan negara.

Purbaya mengatakan, penerbitan perdana obligasi berdenominasi Yuan yang dijadwalkan pada akhir Juli 2026 itu akan membuat kebutuhan pembiayaan pemerintah tidak lagi terlalu bergantung pada penerbitan obligasi global dalam mata uang Dolar AS.


"Jadi ketergantungan kita terhadap Dolar akan semakin sedikit dan akan mengurangi tekanan ke rupiah. Tapi esensinya lebih besar daripada itu," ujar Purbaya dalam media briefing di Jakarta, dikutip Sabtu  27 Juni 2026.

Menurutnya, manfaat Panda Bond tidak hanya sebatas diversifikasi sumber pendanaan. Jika implementasi skema Local Currency Transaction (LCT) berjalan optimal, Indonesia, katar Purbaya akan memiliki akses yang lebih besar terhadap fasilitas kerja sama dengan bank sentral senilai sekitar 50 miliar Dolar AS.

"Kalau LCT betul-betul jalan, sebetulnya secara de facto, itu kan cadangan kita dengan perjanjian dengan bank sentral kita kan sekitar 50 miliar Dolar AS," katanya.

Purbaya menjelaskan, meski fasilitas tersebut tidak tercatat sebagai cadangan devisa secara hukum (de jure), kemudahan akses terhadap likuiditas itu secara praktik (de facto) akan memperkuat posisi cadangan devisa Indonesia.

"Kalau itu dipakai dengan betul dan cepat sehingga seolah-olah cadangan kita naik 50 miliar dolar, walaupun secara de jure nggak tercatat, tapi saya bisa bilang cadangan devisa kita naik seperti itu. Karena kita bisa akses ke sana dengan gampang. Artinya ketergantungan kita terhadap dolar akan lebih bisa ditekan. Rupiah akan lebih stabil," jelasnya.

Ia juga membuka peluang menambah nilai penerbitan Panda Bond apabila permintaan investor di pasar China melampaui ekspektasi. Bahkan, jika kebutuhan penerbitan obligasi global pemerintah dapat dipenuhi melalui instrumen tersebut, pemerintah siap mengurangi penerbitan obligasi berdenominasi Dolar AS.

"Kita lihat marketnya seperti apa. Kalau dia nyampe besar, kita perbesar sekali. Kita belum berapa sih dolar? Total global bond tinggal 3 miliar dolar lagi. Kalau semuanya bisa dipenuhi Panda Bond, ya sudah Panda Bond aja," tegasnya.

Selain itu, Purbaya menilai pasar keuangan China menawarkan keuntungan tersendiri karena investor di negara tersebut tidak terlalu bergantung pada penilaian lembaga pemeringkat internasional seperti S&P Global Ratings maupun Moody's. 

Penilaian lebih banyak mengacu pada lembaga pemeringkat domestik China yang hasilnya akan diumumkan menjelang penerbitan Panda Bond.

"Jadi kita perlu diversifikasi, karena investor di China tidak terlalu dipengaruhi oleh rating atau peringkat dari S&P, Moody's, dan lain-lain. Mereka akan melihat pemeringkat dari China seperti apa, dan Panda Bond diperingkat oleh lembaga pemeringkat dari China. Nanti akan dipublish beberapa hari sebelum Panda Bond dijual. Hasilnya kita sudah tahu kira-kira amat baik," pungkasnya.

Populer

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

Terkejut Mantan Ajudan Jadi Tersangka KPK, Alexander Marwata Kenang Kinerja Dias

Kamis, 30 Juli 2026 | 11:52

UPDATE

Tom Holland dan Zendaya Bakal Rehat Setelah Spider-Man Brand New Day

Kamis, 06 Agustus 2026 | 19:52

IAW: Ada Dugaan Intervensi Kasus Dedi Congor

Kamis, 06 Agustus 2026 | 19:51

Sidang Perdana Praperadilan Febrie Adriansyah Digelar 18 Agustus

Kamis, 06 Agustus 2026 | 19:42

Prabowo Tinjau Deretan Inovasi BRIN, dari Air Minum Darurat hingga Teknologi Nuklir

Kamis, 06 Agustus 2026 | 19:35

Komisi III DPR Minta Polisi Ungkap Pemasok Senpi di Yayasan Sekolah Jaksel

Kamis, 06 Agustus 2026 | 19:28

Partisipasi Bermakna di Black Box Regulasi Kesehatan

Kamis, 06 Agustus 2026 | 19:15

Amplop Berisi 14 Ribu Dolar Singapura Memang Dikembalikan, tapi Isinya Berkurang

Kamis, 06 Agustus 2026 | 19:02

Prabowo Tekankan Pentingnya Sains dan Teknologi bagi Masa Depan Bangsa

Kamis, 06 Agustus 2026 | 18:54

Isu Pergantian Kapolri Bisa Merugikan Presiden jika Tidak Hati-Hati

Kamis, 06 Agustus 2026 | 18:53

Food Station Masih Andalkan Laba Bersih dari PSO

Kamis, 06 Agustus 2026 | 18:30

Selengkapnya