Berita

Ilustrasi (RMOL/Reni Erina)

Bisnis

CEO Honda Minta Maaf Strateginya Bikin Rugi

SABTU, 27 JUNI 2026 | 12:01 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

CEO Honda, Toshihiro Mibe, menyampaikan permintaan maaf kepada para pemegang saham dalam rapat tahunan perusahaan setelah raksasa otomotif Jepang tersebut membukukan kerugian tahunan pertama dalam hampir 70 tahun.

Kerugian tersebut dipicu biaya restrukturisasi lebih dari 9 miliar Dolar AS untuk bisnis kendaraan listrik (EV) serta semakin ketatnya persaingan dengan produsen mobil asal China.

"Saya ingin menyampaikan permintaan maaf yang sebesar-besarnya kepada para pemegang saham atas kerugian bersih yang kami alami pada tahun fiskal lalu," kata Mibe pada Jumat, dikutip Sabtu, 27 Juni 2026.


Meski demikian, para pemegang saham tetap memberikan dukungan kepada Mibe dengan menyetujui pengangkatannya kembali sebagai anggota dewan direksi bersama 10 direktur lainnya.

Mibe mengakui Honda telah salah menghitung pertumbuhan pasar kendaraan listrik, terutama di Amerika Serikat (AS). Pangsa pasar mobil listrik ternyata jauh lebih kecil dari perkiraan sehingga perusahaan harus menurunkan nilai aset bisnis EV.

Menurutnya, jika Honda tetap memaksakan target penjualan EV sebelumnya, bisnis otomotif perusahaan bisa terus merugi selama lima hingga tujuh tahun.

Strategi tersebut memicu kritik dari sejumlah mantan petinggi Honda. Mereka menilai Mibe terlalu mengabaikan pasar China, yang merupakan pasar otomotif terbesar di dunia, sekaligus terlalu agresif bertaruh pada kendaraan listrik. Akibatnya, Honda kini semakin bergantung pada bisnis sepeda motor yang masih menghasilkan keuntungan besar.

Dalam rapat tahunan, sempat ada usulan dari seorang pemegang saham agar Mibe diberhentikan dari jabatannya. Namun usulan itu ditolak karena tidak termasuk dalam agenda rapat sehingga tidak dilakukan pemungutan suara.

Di tengah berbagai tantangan tersebut, Mibe mengatakan pembicaraan Honda dengan Nissan Motor dan Mitsubishi Motors mengenai kerja sama pengembangan teknologi kendaraan generasi berikutnya sudah memasuki tahap lanjut.

Populer

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

UPDATE

Wall Street Keluar dari Tekanan, Nasdaq Melonjak 1,69 Persen

Jumat, 18 September 2026 | 08:14

Binar Emas Kembali Berkilau, Harga Melesat Lebih dari 2 Persen

Jumat, 18 September 2026 | 07:35

Bursa Eropa Menguat Tajam setelah Harga Minyak Turun

Jumat, 18 September 2026 | 07:02

UMKM Binaan Peratamina

Jumat, 18 September 2026 | 05:52

KPK Harus Hati-hati Buka Informasi Dugaan Korupsi Bea Cukai ke Publik

Jumat, 18 September 2026 | 05:25

PPN Kejawanan Diproyeksikan jadi Magnet Pertumbuhan Ekonomi Pesisir

Jumat, 18 September 2026 | 04:57

Momentum Memperkuat Akuntabilitas Belanja Negara

Jumat, 18 September 2026 | 04:25

Pembangunan di Papua Perlu Libatkan Kelembagaan Adat

Jumat, 18 September 2026 | 03:48

Perhutani Dorong Ekonomi Desa Lewat Penyaluran PUMK

Jumat, 18 September 2026 | 03:20

Mengawal Garibaldi

Jumat, 18 September 2026 | 02:55

Selengkapnya