SAYA membaca tujuh tuntutan Ikatan Keluarga Alumni Universitas Bung Karno (IKA UBK) bukan sebagai sebuah siaran pers.
Saya membacanya sebagai sebuah jeritan.
Jeritan orang-orang yang pernah percaya bahwa mahasiswa tidak boleh memiliki harga.
Bukan harga dalam arti nilai.
Tetapi harga yang bisa dibayar.
Beberapa hari terakhir publik disuguhi polemik dugaan adanya mahasiswa yang menerima uang setelah melakukan demonstrasi. Perdebatan berkembang ke mana-mana. Ada yang sibuk mencari siapa yang memberi. Ada yang sibuk menghakimi siapa yang menerima.
Padahal persoalan sesungguhnya jauh lebih besar.
Yang sedang dipertaruhkan bukan nama seorang mahasiswa.
Bukan pula nama Universitas Bung Karno.
Yang sedang dipertaruhkan adalah satu hal yang selama puluhan tahun menjadi modal terbesar gerakan mahasiswa Indonesia.
Kepercayaan moral.
Saya berasal dari generasi yang tumbuh ketika demonstrasi bukan sekadar agenda organisasi.
Demonstrasi adalah pilihan hidup.
Kami turun ke jalan bukan karena ada konsumsi.
Bukan karena ada transportasi.
Apalagi karena ada amplop.
Kami turun karena percaya bahwa suara mahasiswa harus menjadi suara hati nurani rakyat.
Kami tidur berhari-hari di kampus.
Kami mengumpulkan uang receh untuk membuat spanduk.
Kami makan seadanya.
Kami berlari ketika gas air mata ditembakkan.
Kami pulang dengan mata perih, tubuh memar, tetapi kepala tetap tegak karena satu keyakinan.
Perjuangan tidak boleh diperjualbelikan.
Generasi itu mungkin memiliki banyak kekurangan.
Tetapi kami memiliki satu kemewahan yang hari ini terasa semakin langka.
Kami percaya bahwa idealisme tidak memiliki harga.
Karena itulah saya memahami mengapa Achmad Boim dan para alumni Universitas Bung Karno bereaksi begitu keras.
Banyak orang melihatnya sebagai respons terhadap sebuah kasus.
Saya melihatnya sebagai respons terhadap sebuah luka.
Sebab mereka tahu persis bagaimana kampus itu dibangun.
Universitas Bung Karno lahir dengan membawa nama seorang tokoh yang sepanjang hidupnya mengajarkan keberanian berpihak kepada rakyat.
Nama Bung Karno bukan sekadar nama gedung.
Ia adalah beban moral.
Dan beban moral itu hari ini terasa jauh lebih berat dibandingkan sebelumnya.
Yang menarik, reaksi IKA UBK tidak berhenti pada kemarahan.
Mereka memulai dengan sesuatu yang hari ini justru semakin jarang dilakukan.
Meminta maaf kepada publik.
Mereka mengakui bahwa apa pun hasil proses hukum nanti, kegaduhan yang terjadi telah melukai nama baik kampus.
Setelah itu mereka meminta rektorat bertindak tegas apabila ada mahasiswa yang terbukti melanggar.
Mereka mendorong pembentukan tim independen agar proses pemeriksaan berjalan objektif.
Mereka juga meminta dugaan keterlibatan pihak-pihak yang disebut memberikan uang kepada mahasiswa diusut secara transparan, siapa pun mereka.
Dan yang tidak kalah penting, mereka mengajak mahasiswa tetap kritis, tetap bersatu, tetapi tidak pernah kehilangan kompas moralnya.
Bagi saya, bagian terpenting bukanlah tuntutan pemecatan.
Yang paling penting adalah keberanian mengatakan bahwa gerakan mahasiswa harus dibersihkan apabila memang ada yang mengkhianati nilai perjuangan itu sendiri.
Gerakan mahasiswa tidak pernah sempurna.
Dalam setiap zaman selalu ada penyimpangan.
Namun sejarah selalu memaafkan kesalahan taktis.
Yang tidak pernah dimaafkan sejarah adalah ketika gerakan kehilangan legitimasi moralnya.
Karena begitu publik percaya bahwa demonstrasi bisa dibeli, maka setiap aksi berikutnya akan selalu dicurigai.
Ketika mahasiswa berbicara, orang tidak lagi bertanya apa yang diperjuangkan.
Orang akan bertanya,
"Siapa yang membayar?"
Dan ketika pertanyaan itu mulai menjadi kebiasaan, sesungguhnya yang runtuh bukan organisasi mahasiswa.
Yang runtuh adalah kepercayaan publik.
Itulah sebabnya saya memandang tujuh tuntutan IKA UBK memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar daftar sikap organisasi.
Saya melihatnya sebagai upaya menyelamatkan sesuatu yang jauh lebih mahal daripada nama sebuah kampus.
Mereka sedang berusaha menyelamatkan kehormatan gerakan mahasiswa.
Karena gerakan mahasiswa tidak pernah hidup dari gedung yang megah.
Tidak hidup dari atribut.
Tidak pula hidup dari jumlah pengikut di media sosial.
Gerakan mahasiswa hidup dari satu mata uang yang tidak pernah berubah sejak zaman pergerakan nasional.
Kepercayaan.
Sekali kepercayaan itu hilang, sangat sulit mengembalikannya.
Saya mengenal Achmad Boim bukan sebagai narasumber.
Kami berasal dari angkatan pertama Universitas Bung Karno.
Kami sama-sama tumbuh dalam atmosfer perjuangan akhir 1990-an.
Kami sama-sama mengenal bau gas air mata.
Kami sama-sama pernah tidur di kampus karena esok pagi demonstrasi harus kembali dilakukan.
Kami sama-sama belajar bahwa menjadi mahasiswa berarti siap kehilangan kenyamanan demi mempertahankan suara hati.
Kami tidak pernah bertanya berapa uang yang akan kami dapat.
Kami justru sering bertanya apakah uang di saku cukup untuk pulang naik bus.
Kami patungan membeli cat semprot untuk membuat spanduk.
Kami mencari tempat fotokopi yang paling murah agar selebaran bisa dibagikan lebih banyak.
Kadang kami hanya makan mi instan.
Kadang kami bahkan tidak makan sama sekali.
Tetapi satu hal yang tidak pernah kami lakukan adalah menjual alasan mengapa kami turun ke jalan.
Karena sejak hari pertama menjadi mahasiswa kami diajarkan satu kalimat sederhana.
Kalau perjuangan sudah bisa dibeli, maka ia bukan lagi perjuangan.
Hari ini, lebih dari seperempat abad setelah gelombang Reformasi mengguncang negeri ini, saya berharap kalimat itu belum terlambat untuk diingat kembali.
Sebab mahasiswa boleh berganti generasi.
Cara berdemo boleh berubah.
Teknologi boleh berubah.
Media sosial boleh mengubah cara orang menyampaikan aspirasi.
Tetapi satu hal tidak boleh pernah berubah.
Suara mahasiswa tidak boleh memiliki harga.
*) Penulis adalah Angkatan Pertama Universitas Bung Karno.