Berita

Ilustrasi. (Foto: RMOLAceh)

Politik

Komite IV DPD:

Pertumbuhan Tanpa Pemerataan Hanya Memperlebar Kesenjangan

RABU, 24 JUNI 2026 | 05:45 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

Rencana pemerintah mendorong pertumbuhan ekonomi hingga 6,5 persen pada 2027 dinilai tidak akan berarti apabila kesejahteraan masyarakat di daerah belum ikut terdongkrak. 

Komite IV DPD RI mengingatkan agar daerah tidak hanya menjadi penonton dalam agenda besar hilirisasi dan industrialisasi nasional.

Hal itu disampaikan Wakil Ketua Komite IV DPD RI, Novita Annakota saat memimpin Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) terkait penyampaian Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) Tahun 2027, bersama Direktur Kebijakan Publik CELIOS Media Wahyudi Askar dan Direktur Pendapatan Daerah Kementerian Dalam Negeri Teguh Narutomo, di Gedung DPD RI, Senin, 22 Juni 2026.


Menurut Novita, penyusunan KEM-PPKF 2027 dilakukan di tengah ketidakpastian global akibat konflik geopolitik, gangguan rantai pasok, serta gejolak harga energi dan pangan yang dapat memengaruhi pertumbuhan ekonomi Indonesia.

"Pertumbuhan ekonomi yang tinggi harus dirasakan hingga ke daerah. Jangan sampai daerah hanya menjadi objek, sementara manfaat pembangunan tidak merata," ucap Novita dikutip Rabu, 24 Juni 2026.

Ia menilai target pertumbuhan ekonomi 5,8-6,5 persen pada 2027 merupakan target yang optimistis sekaligus menjadi ujian bagi kapasitas pelaksanaan kebijakan, baik oleh pemerintah pusat maupun pemerintah daerah.

Komite IV DPD RI juga menyoroti paradoks pertumbuhan ekonomi nasional. Meskipun perekonomian Indonesia tumbuh rata-rata 5 persen dalam beberapa tahun terakhir, penurunan kemiskinan dan ketimpangan belum berjalan sebanding, bahkan kelas menengah mengalami penyusutan.

"Pertumbuhan tanpa pemerataan hanya akan memperlebar kesenjangan. Instrumen fiskal harus menjadi sarana meningkatkan kesejahteraan masyarakat, bukan sekadar angka pertumbuhan," tegasnya.

Menyikapi hal itu, Direktur Kebijakan Publik Celios, Media Wahyudi Askar mengungkapkan bahwa ada paradoks utama pada KEM-PPKF 2027 yang terletak pada keyakinan lama bahwa pertumbuhan tinggi otomatis melahirkan kesejahteraan. Faktanya, pertumbuhan stabil 5 persen selama satu dekade gagal menekan kemiskinan secara berarti, sementara 59,4 persen angkatan kerja terjebak di sektor informal tanpa jaminan sosial. 

Di tengah narasi pertumbuhan yang dikejar hingga 6,5 persen, kelas menengah justru menyusut akibat stagnasi upah riil, deindustrialisasi dini, dan nilai tambah yang terkonsentrasi pada pemilik modal. Pertumbuhan dirayakan di atas kertas, tetapi fondasi sosial yang menopangnya justru kian rapuh.

"Ekonomi Indonesia menciptakan pekerjaan, namun bukan pekerjaan layak. Di tengah narasi pertumbuhan tinggi, kelas menengah justru menyusut dan kehilangan daya beli riil, bukti bahwa angka PDB yang naik tidak otomatis menjadi kesejahteraan yang nyata," ungkap Wahyudi.

Menutup rapat, Ketua Komite IV DPD RI, Ahmad Nawardi menyoroti kerentanan kapasitas fiskal di tingkat daerah. Hingga saat ini, pendanaan pembangunan di daerah masih bergantung secara absolut pada dana transfer dari pemerintah pusat.

"Upaya daerah untuk mencari alternatif pembiayaan inovatif seperti penerbitan obligasi daerah (municipal bond) masih berjalan di tempat. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan kapasitas SDM, kerumitan regulasi lintas kementerian, persepsi risiko pasar, hingga keengganan politik (political will) di tingkat lokal," ujar Ahmad.

Lanjut dia, DPD RI mengingatkan pemerintah agar arsitektur APBN 2027 yang difokuskan pada hilirisasi, industrialisasi, serta ketahanan pangan dan energi tidak bersifat sentralistik. Daerah harus diberi peran sebagai motor penggerak, bukan sekadar penonton.

"Daerah harus menjadi pelaku utama pembangunan, bukan sekadar pelaksana kebijakan dari pusat," pungkas Ahmad.


Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

UPDATE

Keempat Kalinya Indonesia Jadi Tuan Rumah PENSA 2026

Minggu, 25 Oktober 2026 | 00:25

OMC Bantu Sejukkan Jakarta

Minggu, 25 Oktober 2026 | 00:02

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

TVRI dan PIM Jajaki Kolaborasi Angkat Kiprah Perempuan Indonesia

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:23

KNMP Kota Sorong Buka Peluang Pasar bagi Nelayan Lokal

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:00

Modal Asing Kabur Imbas Sentimen MSCI, BI Jamin Likuiditas Rupiah Memadai

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 22:44

Kapal Asal Malaysia Bawa 1,16 Ton Ketamin, Dasco Tegaskan Jaga Generasi Muda

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 22:16

BSI Himpun Dana Tabungan Haji Rp18 Triliun, Nasabah Gen Z Naik 30 Persen

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 21:15

Wilayah Berdekatan, Mengapa Jakarta Lebih Panas Saat Bogor Masih Diguyur Hujan?

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 21:03

KemenHAM Tampilkan Peta Pemenuhan Hak Dasar Hingga Tingkat Desa Berbasis Digital

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 18:35

Selengkapnya