Berita

Presiden Prabowo Subianto (Foto: YouTube Sekretariat Presiden)

Politik

Prabowo: Rupiah Melemah karena Kekayaan Bangsa Terus Mengalir ke Luar Negeri

SELASA, 23 JUNI 2026 | 17:29 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Presiden Prabowo Subianto mengungkap salah satu penyebab utama pelemahan nilai tukar rupiah adalah terus mengalirnya kekayaan nasional ke luar negeri.

Hal itu disampaikan Prabowo saat menghadiri penutupan Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (Munas-Konbes NU) 2026 di Bangkalan, Jawa Timur, Selasa, 23 Juni 2026. 

Kepala Negara menegaskan bahwa persoalan tersebut berakar pada sistem ekonomi yang belum mampu memastikan hasil pertumbuhan dinikmati secara merata. 


Dia kembali mengingatkan pandangannya yang telah disampaikan sejak belasan tahun lalu mengenai fenomena keluarnya kekayaan nasional ke luar negeri dalam jumlah besar.

“Yang terjadi di Indonesia ini adalah mengalir keluar kekayaan bangsa Indonesia ke luar negeri. Dalam bahasa yang keren, bahasa Inggris, yang terjadi adalah net outflow of national wealth. Kekayaan nasional kita mengalir ke luar negeri,” tegasnya.

Mengacu pada data United Nations Comtrade yang diolah Dewan Ekonomi Nasiona (DEN), Prabowo menyebut Indonesia sebenarnya mencatat keuntungan sebesar 436 miliar dolar AS dalam kurun 22 tahun. 

Namun, pada periode yang sama, sebanyak 343 miliar dolar AS justru keluar dari Indonesia. Karena itu, menurutnya, pelemahan rupiah tidak bisa dilepaskan dari derasnya arus keluar kekayaan nasional. 

“Kalau sekarang ada yang mengatakan rupiah kita lemah ini dan itu, ya karena kekayaannya keluar. Kalau darah kita, tiap hari darah kita keluar, di ujungnya badan kita collapse, mati. Begitu kayanya republik kita. Tiap tahun kekayaan kita diambil keluar, kita masih berdiri,” jelasnya.

Prabowo juga menyoroti praktik yang disebutnya sebagai under-invoicing atau pelaporan nilai perdagangan yang tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya. 

Berdasarkan data yang dipaparkannya, Indonesia diperkirakan telah kehilangan potensi kekayaan hingga 908 miliar dolar AS dalam 34 tahun terakhir. 

“Kita telah rugi 908 miliar dolar selama 34 tahun. Atau 15 ribu triliun. 15 ribu triliun. Saudara-saudara, ini semua data keluar,” pungkasnya.

Populer

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Tiket Jakarta Fair Tidak Ramah Kantong Rakyat Berpenghasilan Rendah

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:21

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

UPDATE

Menhub Prioritas Program dan Anggaran untuk Tingkatkan Keselamatan Transportasi

Rabu, 24 Juni 2026 | 21:51

DPR Yakin Potongan Aplikasi 8 Persen Bikin Driver Makin Sejahtera

Rabu, 24 Juni 2026 | 21:48

Kuasa Hukum Pertanyakan Status Tersangka Raudi Akmal

Rabu, 24 Juni 2026 | 21:25

Nasib Ribuan Pekerja Moker Freeport Diadukan ke Kementerian HAM

Rabu, 24 Juni 2026 | 21:09

Gus Yaqut Dibantarkan ke Rumah Sakit Polri

Rabu, 24 Juni 2026 | 20:58

Dirjen Imigrasi Paparkan Tiga Pilar Penguatan Perbatasan Indonesia di Siem Reap

Rabu, 24 Juni 2026 | 20:29

Legislator Golkar Apresiasi Dividen PT Telkom Tertinggi

Rabu, 24 Juni 2026 | 20:15

Connie Minta Jokowi Diadili Terkait Kebijakan IKN

Rabu, 24 Juni 2026 | 20:12

Kuliner Potensi Perkuat Pariwisata di Kancah Internasional

Rabu, 24 Juni 2026 | 19:53

Harta Kekayaan Menperin Agus Gumiwang Naik 23,2 Persen, Utang Nyaris Rp100 Miliar

Rabu, 24 Juni 2026 | 19:51

Selengkapnya