Berita

Mantan Direktur Jenderal Kekuatan Pertahanan (Dirjen Kuathan) Kementerian Pertahanan (Kemhan), Laksamana Muda TNI (Purn) Agus Purwoto dalam sidang perkara penyelamatan slot orbit satelit 123 derajat Bujur Timur (BT) di Pengadilan Militer Tinggi II-08 Jakarta, Kamis, 18 Juni 2026. (Foto: Dok. Pribadi)

Hukum

Sidang Kasus Satelit Kemhan

Eks Dirjen Kuathan Emosional Bela Leonardi: Ini Perjuangan Negara

JUMAT, 19 JUNI 2026 | 21:53 WIB | LAPORAN: JAMALUDIN AKMAL

Mantan Direktur Jenderal Kekuatan Pertahanan (Dirjen Kuathan) Kementerian Pertahanan (Kemhan), Laksamana Muda TNI (Purn) Agus Purwoto, memberikan kesaksian yang emosional dalam sidang perkara penyelamatan slot orbit satelit 123 derajat Bujur Timur (BT) di Pengadilan Militer Tinggi II-08 Jakarta, Kamis, 18 Juni 2026.

Agus yang dihadirkan sebagai saksi membela terdakwa Laksamana Muda TNI (Purn) Leonardi. Menurutnya, Leonardi merupakan sosok yang menjalankan perintah negara untuk menyelamatkan slot orbit strategis milik Indonesia.

Dalam persidangan, kuasa hukum Leonardi, Jatendra Hutabarat, menanyakan peran kliennya dalam proses penyelamatan slot orbit 123 BT, termasuk keterlibatan Indonesia dalam Operator Review Meeting (ORM) ke-17 di Dubai pada 7 Desember 2015.


Agus menegaskan, keikutsertaan Indonesia dalam forum internasional tersebut tidak mungkin terlaksana tanpa langkah-langkah yang dilakukan Leonardi, termasuk penandatanganan kontrak payung dengan Airbus sebagai bagian dari upaya mempertahankan slot orbit 123 BT beserta alokasi frekuensinya.

"Mungkin nggak tanpa ada kontrak itu di ORM bisa terlaksana kalau tidak ada tanda tangan Pak Leonardi?" tanya Jatendra.

"Tidak Pak. Inilah perjuangan Pak Leonardi, dia juga melaksanakan perintah sehingga bisa terlaksana. Kalau pun jadi seperti ini, itu di luar kewenangan," jawab Agus.

Pernyataan tersebut kemudian disampaikan Agus dengan nada emosional. Ia mengaku mengenal Leonardi dan menilai mantan Kepala Badan Sarana Pertahanan Kemhan itu tidak pantas dipidana dalam perkara tersebut.

"Saya tahu Leonardi. Ini adalah perintah penyelamatan, perjuangan untuk mempertahankan slot orbit 123 Bujur Timur. Orang seperti dia tidak layak dihukum, demi Allah," tegas Agus di hadapan majelis hakim.

Menurut Agus, setiap prajurit TNI terikat sumpah prajurit dan Sapta Marga yang mewajibkan pelaksanaan tugas berdasarkan perintah atasan sesuai ketentuan yang berlaku.

Dalam persidangan sebelumnya terungkap, upaya penyelamatan slot orbit 123 BT dilakukan setelah satelit Garuda-1 dinonaktifkan dan keluar dari orbit pada Januari 2015. Kebijakan tersebut disebut merupakan tindak lanjut hasil rapat terbatas kabinet yang dihadiri Presiden ke-7 RI Joko Widodo bersama sejumlah menteri terkait, termasuk Menteri Komunikasi dan Informatika saat itu Rudiantara serta Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu.

Selain Agus Purwoto, sidang juga menghadirkan mantan Presiden Direktur PT DNK, Arifin Wiguna, sebagai saksi.

Dalam persidangan terungkap pula bahwa kontrak rinci (detailed contract) pengadaan user terminal satelit 123 BT antara Kemhan dan Navayo International AG secara administratif baru ditandatangani setelah Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) tersedia.

Meski dalam dokumen kontrak tercantum tanggal 1 Juli 2016 sebagai waktu penandatanganan oleh Leonardi, sejumlah saksi sebelumnya menerangkan dokumen tersebut baru ditandatangani pada 12 Oktober 2016 setelah DIPA diterbitkan.

Agus juga menyoroti dampak strategis hilangnya slot orbit 123 BT yang menurut keterangan dalam persidangan sudah tidak lagi dimiliki Indonesia sejak akhir 2024.

"Kalau kita tidak mengelola lagi slot orbit 123, maka kebutuhan itu hanya bisa dipenuhi dengan sewa. Kalaupun sewa, bagaimana menjaga kerahasiaan komunikasi," ujarnya.

Ia menjelaskan, fungsi satelit tidak hanya penting bagi kepentingan pertahanan dan keamanan, tetapi juga sangat dibutuhkan saat terjadi bencana alam ketika jaringan komunikasi terestrial mengalami gangguan.

Setelah Indonesia kehilangan slot orbit 123 BT, layanan komunikasi satelit berbasis frekuensi L-band di kawasan Asia Pasifik diketahui dikelola operator asing seperti Inmarsat dan Thuraya. Kondisi tersebut membuat kebutuhan komunikasi satelit terenkripsi di wilayah terpencil dan terluar harus dipenuhi melalui skema penyewaan layanan.

Populer

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

UPDATE

KPK Setengah Hati Panggil Nusron Wahid

Kamis, 22 Oktober 2026 | 02:16

Optimisme dan Tantangan Golkar di Era Bahlil Lahadalia

Kamis, 22 Oktober 2026 | 02:08

Dibuka Program Madrasah Layak Belajar 2026 untuk 700 Madrasah

Kamis, 22 Oktober 2026 | 01:38

Prabowo dan DPR Harus Dengarkan Desakan Gibran Mundur dari Wapres

Kamis, 22 Oktober 2026 | 01:23

Bantu Kuliner Indonesia Mendunia, Pemerintah Diminta Tiru Thailand

Kamis, 22 Oktober 2026 | 01:01

Lumat Arema, Persija Puncaki Klasemen

Kamis, 22 Oktober 2026 | 00:39

PDIP: Usulan Luhut Cederai Rasa Keadilan Masyarakat

Kamis, 22 Oktober 2026 | 00:19

Infrastruktur Perikanan KNMP di Papua Tengah Diharapkan Dorong Ekonomi Nelayan

Kamis, 22 Oktober 2026 | 00:01

Usulan Luhut soal Ubah Definisi Korupsi Membahayakan

Rabu, 21 Oktober 2026 | 23:35

Polisi Bunuh Polisi Melonjak Dua Kali Lipat pada 2026

Rabu, 21 Oktober 2026 | 23:15

Selengkapnya