Berita

Ketua Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) DPR RI, Abdul Kharis Almasyhari. (Foto: Dok PKS)

Politik

PKS Kawal RUU Perkoperasian untuk Perkuat Ekonomi Kerakyatan

RABU, 17 JUNI 2026 | 15:20 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

Ketua Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) DPR RI, Abdul Kharis Almasyhari, menegaskan pentingnya penguatan koperasi sebagai instrumen utama ekonomi kerakyatan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mengurangi ketimpangan ekonomi. 

Hal tersebut disampaikannya saat memberikan keynote speech pada Forum Group Discussion (FGD) bertajuk “Kawal RUU Perkoperasian: Perkuat Ekonomi Kerakyatan” yang diselenggarakan Fraksi PKS DPR RI di Ruang Rapat Pleno Fraksi PKS DPR RI, Gedung Nusantara I Lantai 3, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu, 17 Juni 2026.

FGD tersebut dihadiri Menteri Koperasi Ferry Juliantono, para akademisi, pegiat koperasi, serta berbagai pemangku kepentingan yang memiliki perhatian terhadap penguatan gerakan koperasi nasional dan pembahasan Rancangan Undang-Undang Perkoperasian.


“Atas nama Fraksi PKS saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya dan apresiasi setinggi-tingginya kepada Pak Menteri, para narasumber, serta seluruh peserta yang terus serius memperjuangkan dan menghidupkan koperasi, sehingga koperasi akan berjaya di bumi Indonesia, insya Allah,” ujar Kharis.

Menurutnya, posisi koperasi sesungguhnya sangat strategis dalam pembangunan ekonomi nasional. Namun, keberhasilan koperasi hingga saat ini masih belum merata. 

Di satu sisi terdapat koperasi yang mampu berkembang pesat hingga memiliki aset bernilai triliunan rupiah, tetapi di sisi lain masih banyak koperasi yang sulit berkembang bahkan tidak mampu bertahan setelah didirikan.

“Kita menjumpai koperasi yang sangat sukses, tetapi juga masih banyak koperasi yang setelah didirikan sulit berjalan, sulit bangkit, apalagi mencapai kesuksesan. Disparitas inilah yang membuat sebagian orang memandang koperasi secara apriori tanpa memahami makna sesungguhnya koperasi sebagai soko guru ekonomi kerakyatan,” jelasnya.

Kharis juga menyoroti pentingnya koperasi dalam memperkuat posisi petani dan konsumen dengan memotong rantai distribusi yang terlalu panjang. Ia mencontohkan pengalaman yang ditemuinya di wilayah Solo, di mana harga bayam yang diterima petani sangat rendah dibanding harga yang dibayar konsumen.

“Petani menjual satu ikat bayam hanya Rp500. Sampai di pasar menjadi Rp750, tetapi ketika dibeli konsumen di Solo harganya bisa Rp2.500 bahkan sekarang mencapai Rp3.000. Kalau koperasi mampu membangun jaringan distribusi yang baik, petani bisa mendapat harga lebih tinggi dan konsumen membeli lebih murah,” ungkapnya.

Ia menjelaskan bahwa selama ini keuntungan terbesar justru dinikmati oleh perantara atau middleman di sepanjang rantai distribusi. Karena itu, koperasi harus hadir sebagai instrumen ekonomi rakyat yang mampu memangkas ketimpangan tersebut.

“Kalau koperasi bisa mengambil peran di tengah, produsen menjadi lebih sejahtera, konsumen lebih hemat, dan kesejahteraan bisa lebih merata. Ini bukan hanya soal bayam, tetapi berlaku untuk banyak komoditas dan kebutuhan masyarakat lainnya,” tegas Kharis.

Lebih lanjut, Kharis berharap kepemimpinan baru di Kementerian Koperasi mampu mengembalikan kejayaan gerakan koperasi nasional. Ia optimistis di bawah kepemimpinan Menteri Koperasi Ferry Juliantono, penguatan koperasi dapat berjalan lebih baik dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

Pada kesempatan tersebut, Kharis juga menegaskan komitmen Fraksi PKS untuk mengawal proses penyusunan dan pembahasan RUU Perkoperasian hingga dapat segera disahkan menjadi undang-undang yang mampu menjawab tantangan perkembangan koperasi di Indonesia.

“Fraksi PKS tentunya sangat mendukung lahirnya Undang-Undang Perkoperasian ini. Mudah-mudahan secepatnya bisa diundangkan sesuai harapan masyarakat dan para pegiat koperasi,” pungkasnya.



Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

UPDATE

Demokrasi Matang dan Tonggak Sejarah Baru di Maroko Pasca-Pemilu 2026

Rabu, 30 September 2026 | 10:27

Komisi IX DPR Dorong Pekerja Platform Digital Masuk RUU Perlindungan Ketenagakerjaan

Rabu, 30 September 2026 | 10:18

Rupiah Menguat, Intip Proyeksinya Hari Ini

Rabu, 30 September 2026 | 10:07

Prabowo Dorong Rehabilitasi Pengguna Narkoba Berbasis Pendidikan dan Teknologi

Rabu, 30 September 2026 | 10:04

Trump Ganti Istilah AI jadi Super Intelligence

Rabu, 30 September 2026 | 09:50

Dugaan Suap Bela Parahiyangan Investindo Mirip Perkara Summarecon

Rabu, 30 September 2026 | 09:39

Jokowi Sengaja Tunjukkan KTA PSI di Kandang Prabowo

Rabu, 30 September 2026 | 09:36

Jokowi Menyadari Dirinya dan Gibran Sedang Diserang

Rabu, 30 September 2026 | 09:27

Indonesia Usulkan Mekanisme Koordinasi Lintas Negara Berantas Penipuan Daring

Rabu, 30 September 2026 | 09:27

IHSG Pagi Ini Dibuka Hijau

Rabu, 30 September 2026 | 09:27

Selengkapnya