Pengasuh Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar, Jombang, Jawa Timur, KH Abdussalam Shohib (Kanan). (Foto: Dok pribadi)
Sejumlah kandidat calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) semakin giat berkeliling ke tiap PWNU dan PCNU jelang pelaksanaan Muktamar ke-35 pada Agustus 2026.
Para kandidat ini menjalin silaturahmi untuk mendapat kepercayaan dari para Nahdliyin. Di samping itu, mereka juga berusaha memenuhi syarat administrasi sesuai ART maupun Perkum NU.
Didalam ART-NU, Bab XIII, pasal 39 disebutkan syarat menjadi PBNU harus berpengalaman dalam struktur NU, dan sudah pernah mengikuti pendidikan kaderisasi. Demikian juga Perkum No. 3 tahun 2025 tentang syarat menjadi fungsionaris pengurus Nahdlatul Ulama.
Sejauh ini, beberapa kandidat calon ketua umum PBNU terlihat mengikuti Pendidikan Menengah Kepemimpinan NU (PMKNU). Mereka adalah KH Yusuf Chudlori (Gus Yusuf), KH Imam Jazuli, dan KH Miftah Maulana Habiburrahman (Gus Miftah) yang mengikuti PMKNU di Cirebon Raya, 13-17 Mei 2026.
Sedangkan KH Abdussalam Shohib, dikenal Gus Salam terlihat mengikuti PMKNU Soloraya, 10-14 Juni 2026, bertempat di UIN Raden Mas Said, Surakarta. Diantara peserta lain, ada Rektorat UIN RM Said, Prof. Dr. H. Toto Suharto dan Dr. H. Abdullah Faishol. Dan, KH Khomsun Nur Arif, Ketua PCNU Surakarta.
“Keikutsertaan Gus Salam dalam PMKNU Soloraya, menjadikan suasana pendidikan selama 5 hari tambah hidup dan bersemangat, baik didalam kelas, diskusi kelompok maupun saat rehat,” kata H. Syaifuloh Yusuf yang juga peserta PMKNU Soloraya, Rabu, 17 Juni 2026.
Menurut Syaifuloh Yusuf, Gus Salam sejak awal pendidikan dimulai, telah ditunjuk secara aklamasi oleh 83 peserta PMKNU sebagai ketua kelas. Setelah itu, Gus Salam menjadi peserta aktif di setiap sesi kegiatan dan disiplin datang sesuai waktu yang ditentukan.
“Gus Salam mengikuti semua sesi kegiatan, termasuk olah fisik setelah salat Subuh. Dia humble, tidak menampilkan sosok cucu pendiri NU. Cenderung seperti kebanyakan peserta yang lain,” ujar Syaifuloh Yusuf.
“Ia menjadi ketua kelas pendidikan, memberi teladan datang tepat waktu sebelum dimulai. Dan ia open minded, bersikap terbuka dan tidak sungkan mimpin yel-yel dan menyanyikan mars kader PMKNU,” tambahnya.
Bagi Syaifuloh Yusuf, figur Gus Salam sangat tepat dan layak menjadi Ketua Umum PBNU, mendatang. Gus Salam telah memberi teladan yang baik dengan kedisiplinan dan tanggung jawab selama mengikuti PMKNU. Bahkan, menjadi inspirasi bagi pengurus NU dengan sikap humble, terbuka dan penuh inspirasi.
“Bahkan, pada sambutan kelulusannya, Gus Salam sempat bernazar, kalau dipercaya dan ditakdirkan menjadi Ketua Umum PBNU, akan mengajak semua peserta, instruktur dan tim assistensi PMKNU untuk study tour ke PP Al-Ittifaq Ciwedey, Bandung,” ungkapnya.
PP Al-Ittifaq merupakan pesantren agribisnis percontohan di lingkungan NU. Tidak sebatas mengajarkan paham-paham keagamaan berbasis kitab kuning, tapi juga mengajarkan kemandirian kepada santri di bidang pertanian dan perdagangan. Al-Ittifaq juga membangun kemitraan dengan kelompok tani di beberapa kabupaten sekitar.
“Gus Salam ingin meneladankan pentingnya saling belajar untuk maju dan saling menguatkan kemandirian ekonomi, baik dilingkungan pesantren, jam’iyyah NU, santri dan para alumni serta kemandirian ekonomi umat,” pungkasnya.