Berita

Ilustrasi Mengapa Pelari Bisa Kolaps saat Maraton (Sumber: Gemini Generated Image)

Olahraga

Mengapa Pelari Bisa Kolaps saat Maraton? Ini Penyebab Menurut Medis

SENIN, 15 JUNI 2026 | 19:36 WIB | OLEH: TIFANI

Maraton merupakan olahraga lari jarak jauh yang menuntut kerja jantung, otot, serta kemampuan tubuh menjaga keseimbangan cairan dan suhu dalam waktu lama. Meski terlihat sebagai olahraga yang hanya mengandalkan stamina, tubuh sebenarnya mengalami tekanan fisiologis cukup besar sepanjang perlombaan.

Karena itu, tidak jarang muncul kasus pelari yang tiba-tiba melambat, kehilangan keseimbangan, hingga kolaps saat lomba berlangsung atau beberapa saat setelah mencapai garis finis. Kondisi ini sering dianggap terjadi karena kelelahan semata, padahal penyebabnya bisa lebih kompleks.

Dalam dunia medis olahraga, kondisi ini dikenal sebagai exercise-associated collapse (EAC), yaitu keadaan ketika pelari mengalami pusing berat, kehilangan keseimbangan, hampir pingsan, atau kehilangan kesadaran selama maupun setelah aktivitas fisik intensitas tinggi. Kondisi ini cukup sering ditemukan pada olahraga ketahanan seperti maraton dan ultramaraton.


Penyebab Pelari Pingsan saat Maraton

1. Aliran Darah ke Otak Menurun Setelah Berhenti Berlari

Salah satu penyebab paling sering terjadi justru muncul setelah pelari mencapai garis finis. Saat berlari, otot kaki membantu mendorong darah kembali ke jantung. 

Ketika pelari mendadak berhenti, mekanisme tersebut ikut berhenti sehingga darah dapat menumpuk di bagian bawah tubuh. Akibatnya, tekanan darah menurun dan suplai darah ke otak berkurang sementara. 

Kondisi ini bisa menimbulkan pandangan berkunang-kunang, pusing, tubuh limbung, hingga pingsan. Fenomena ini disebut exercise-associated postural hypotension. 

Kondisi tersebut sering menjadi alasan mengapa petugas medis tetap meminta pelari berjalan perlahan beberapa menit setelah finis.

2. Tubuh Mengalami Dehidrasi Berat

Selama maraton, tubuh kehilangan banyak cairan melalui keringat. Pada cuaca panas, jumlah cairan yang hilang bisa mencapai lebih dari satu liter per jam.

Ketika cairan yang keluar tidak digantikan dengan cukup, volume darah ikut menurun. Jantung harus bekerja lebih keras untuk mengalirkan oksigen ke otot dan organ tubuh.

Gejala dehidrasi saat maraton biasanya meliputi rasa haus berlebihan, detak jantung meningkat, mulut kering, lemas, kram, dan pusing. Jika terus dipaksakan, pelari dapat mengalami penurunan kesadaran hingga kolaps.

Menurut penelitian di Sports Medicine, dehidrasi juga dapat mempercepat peningkatan suhu tubuh saat olahraga intensitas tinggi.

3. Suhu Tubuh Terlalu Tinggi atau Heat Stroke

Penyebab lain yang perlu diwaspadai adalah exertional heat stroke atau serangan panas akibat aktivitas fisik. Ketika berlari, tubuh menghasilkan panas dalam jumlah besar. 

Jika suhu lingkungan tinggi dan proses pendinginan tubuh tidak berjalan efektif, suhu inti tubuh dapat naik ke tingkat berbahaya. Berbeda dengan sekadar kepanasan, heat stroke merupakan kondisi darurat medis.

Tanda-tandanya antara lain tubuh terasa sangat panas, kebingungan, sulit berbicara, mual dan muntah, kehilangan koordinasi, dan pingsan. Menurut American College of Sports Medicine, heat stroke menjadi salah satu penyebab utama kondisi darurat pada olahraga ketahanan.

4. Minum Terlalu Banyak Air (Hiponatremia)

Tidak sedikit pelari yang justru kolaps bukan karena kurang minum, melainkan terlalu banyak minum. Kondisi ini disebut exercise-associated hyponatremia, yaitu kadar natrium dalam darah turun karena konsumsi cairan berlebihan.

Saat natrium menurun, keseimbangan cairan tubuh terganggu dan sel dapat membengkak, termasuk sel di otak. Gejalanya sering mirip dehidrasi sakit kepala, mual, tangan membengkak, linglung, muntah, hingga kejang.

Karena gejalanya mirip, penanganan yang salah bisa memperburuk kondisi.

5. Cadangan Energi Tubuh Habis

Pelari maraton sangat bergantung pada simpanan glikogen sebagai sumber energi. Jika asupan karbohidrat sebelum atau selama lomba tidak mencukupi, tubuh bisa mengalami kondisi yang dikenal sebagai hitting the wall atau “bonking”.

Ketika ini terjadi, pelari biasanya merasakan kaki terasa sangat berat, tubuh mendadak lemas, konsentrasi menurun, dan sulit melanjutkan langkah. Meski tidak selalu menyebabkan pingsan, kondisi ini dapat meningkatkan risiko kolaps terutama bila disertai dehidrasi.

6. Gangguan Jantung yang Tidak Terdeteksi

Dalam kasus yang lebih jarang, kolaps saat maraton dapat berkaitan dengan masalah jantung. Aktivitas fisik intensitas tinggi dapat memicu gangguan irama jantung atau memperlihatkan kondisi kardiovaskular yang sebelumnya tidak menimbulkan gejala.

Karena itu, pelari terutama usia di atas 35 tahun atau yang baru kembali aktif berolahraga dianjurkan melakukan pemeriksaan kesehatan sebelum mengikuti lomba jarak jauh.

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

Jokowi Tinggalkan Jejak Buruk bagi Masyarakat Adat Lampung

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:23

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

UPDATE

Merawat Tradisi Intelektual Mahasiswa Lewat Peluncuran Buku Pergerakan

Senin, 06 Juli 2026 | 03:59

Demokrasi Liberal dan Benteng Oligarki

Senin, 06 Juli 2026 | 03:43

ICX Realisasikan Buyback Rp71 Miliar Perkuat Sistem Tata Kelola

Senin, 06 Juli 2026 | 03:20

Polresta Bandara Soetta Bongkar Home Industry Vape Isi Ganja Beromzet Miliaran

Senin, 06 Juli 2026 | 02:59

Manifesto AJIP Bali: Ketika Pariwisata Kehilangan Arah

Senin, 06 Juli 2026 | 02:35

Perpres 111/2025 soal LGBT Ancaman Nirmiliter jadi Langkah Preventif Terukur

Senin, 06 Juli 2026 | 02:12

Nyali Semesta: Ali Khamenei dan Puncak Kepemimpinan Transendental

Senin, 06 Juli 2026 | 01:57

UMKM dan Budaya Minangkabau Bergaung di Malaysia

Senin, 06 Juli 2026 | 01:40

Jaksa telah Berubah Menjadi Pengacara Jokowi

Senin, 06 Juli 2026 | 01:20

Aiptu Sumaryanto jadi Korban Ketiga yang Gugur saat Gerebek Bandar Narkoba di Katingan

Senin, 06 Juli 2026 | 00:59

Selengkapnya