Berita

Ilustrasi Tradisi Mubeng Beteng di Yogyakarta (Sumber: Instagram Keraton Yogyakarta)

Nusantara

Mengenal Tradisi Mubeng Beteng di Yogyakarta, Ritual Hening Saat Malam 1 Suro

SENIN, 15 JUNI 2026 | 18:53 WIB | OLEH: TIFANI

Malam 1 Suro selalu memiliki makna tersendiri bagi masyarakat Jawa, termasuk warga Yogyakarta yang masih menjaga tradisi turun-temurun hingga sekarang. Salah satu tradisi yang paling dikenal adalah Mubeng Beteng, sebuah ritual budaya yang digelar setiap malam pergantian tahun Jawa dan bertepatan dengan malam 1 Muharam dalam kalender Islam.

Mubeng Beteng bukan sekadar berjalan mengelilingi benteng Keraton Yogyakarta. Tradisi ini menjadi simbol perenungan, introspeksi, dan penyucian diri yang dilakukan dalam suasana hening melalui prosesi tapa bisu atau berjalan tanpa berbicara. 

Para peserta juga menjalani ritual tanpa alas kaki sebagai bentuk laku prihatin dan penghormatan terhadap nilai spiritual yang diwariskan turun-temurun. Setiap tahunnya, ribuan abdi dalem dan masyarakat turut mengikuti prosesi dengan mengitari kawasan benteng keraton sejauh kurang lebih lima kilometer. 


Di balik suasana sunyi dan khidmat tersebut, tersimpan sejarah panjang serta filosofi mendalam yang membuat Mubeng Beteng tetap menjadi salah satu tradisi malam 1 Suro paling ikonik di Yogyakarta hingga kini.

Sejarah Singkat Tradisi Mubeng Beteng

Dikutip dari laman resmi Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, tradisi Mubeng Beteng dahulunya merupakan upacara resmi atau kenegaraan oleh Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Dalam pelaksanaannya dilakukan oleh para abdi dalem berdasarkan pada perintah Sri Sultan Hamengkubuwono yang saat itu bertahta.

Seiring dengan perjalanan waktu, tradisi tersebut kemudian berkembang dengan dilakukan juga oleh masyarakat (tidak hanya abdi dalem). Oleh sebab itu, saat ini siapapun boleh mengikuti tradisi ini dengan tetap mengikuti aturan yang berlaku.

Dasar pelaksanaan tradisi Mubeng Beteng terinspirasi dari perjalanan suci hijrah dari Mekkah-Madinah oleh rombongan Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Melalui dasar tersebut, akhirnya prosesi ini menjadi bagian tradisi untuk menyambut peringatan malam Satu Suro.

Dikutip dari laman resmi Dinas Pariwisata Kota Jogja, pelaksanaan dari tradisi Mubeng Beteng dimulai dengan para abdi dalem yang melantunkan tembang macapat di Keben Keraton Ngayogyakarta. Dalam lantunan lirik tembang macapat tersebut terselip berbagai doa serta harapan.

Tradisi Mubeng Beteng merupakan salah satu bagian dari tirakatan "lampah ratri". Prosesi tersebut menjadi suatu makna yang berupa madrawa atau munajat kepada Allah SWT.

Ketika melakukan prosesi adat ini, seluruh peserta berjalan tanpa menggunakan alas kaki, tanpa berbicara (tapa bisu), makan, minum, bahkan merokok. Hal tersebut dilakukan sebagai bentuk renungan, keprihatinan, serta introspeksi diri selama satu tahun terakhir, sehingga harus dilakukan dalam keadaan sunyi dan khidmat.

Pada 2026, tradisi mubeng beteng akan digelar pada Selasa (16/6/2026). Pada pelaksanaan Lampah Budaya Mubeng Beteng pada Malam 1 Suro 2026 peserta lebih dulu dapat menyaksikan pementasan Wayang Gedhog. 

Wayang ini merupakan kesenian langka milik Keraton Yogyakarta yang kini jarang ditampilkan. Pementasan tersebut akan berlangsung pada Selasa (16/6/2026) mulai pukul 19.00 WIB hingga 23.00 WIB di Kagungan Dalem Bangsal Kamandungan Kidul Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat. 

Wayang Gedhog akan membawakan lakon "Jaya Berdangga" dengan dalang MB. Cermo Wignyoutomo. Salah satu Abdi Dalem Dalang Kawedanan Kridhamardawa yang juga menjadi pimpinan produksi pementasan, MB. 

Cermo Gupito, mengatakan pertunjukan tersebut sengaja dihadirkan sebagai bagian dari rangkaian menyambut Tahun Baru Jawa. Lakon "Jaya Berdangga" yang dipilih tahun ini mengisahkan perjuangan Raden Panji yang menyamar untuk mencari "Sari Swara Renggani Jagad", syarat yang diminta istrinya, Dewi Sekartaji, yang tengah mengandung. 

Perjalanan tersebut dipenuhi berbagai tantangan dan rintangan sebelum akhirnya Raden Panji berhasil memenuhi permintaan tersebut demi masa depan Kerajaan Jenggala dan Kediri. Masyarakat dapat menyaksikan pementasan Wayang Gedhog secara langsung di Bangsal Kamandungan Kidul tanpa dipungut biaya. 

Selain itu, Keraton Yogyakarta juga menyiarkan pertunjukan tersebut melalui kanal YouTube Kraton Jogja. Pengunjung tidak perlu melakukan reservasi terlebih dahulu, cukup hadir dengan mengenakan pakaian yang rapi dan sopan.

Populer

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Dakwaan Lemah, Perkara Chromebook Murni Rekayasa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 14:31

KPK Sita Rumah Mewah Milik Vinna Ledy Anggraheni di Jaksel

Selasa, 01 September 2026 | 11:03

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Tidak Benar Menag Nasaruddin Umar Mundur

Rabu, 26 Agustus 2026 | 18:06

UPDATE

Korea Selatan Diisukan Bersiap Kerahkan Pasukan ke Selat Hormuz

Jumat, 04 September 2026 | 14:18

Purbaya Pamer Penerimaan Pajak Tumbuh 30 Persen Tanpa Naikkan Tarif

Jumat, 04 September 2026 | 13:59

Target Lifting 2027 Diproyeksi Tercapai, Sumur Rakyat Jadi Penopang

Jumat, 04 September 2026 | 13:33

Prabowo Tawarkan 138 Blok Energi Indonesia kepada Investor Rusia

Jumat, 04 September 2026 | 13:33

Gus Kikin Mulai Susun Kepengurusan PBNU di Hari Perdana Ngantor

Jumat, 04 September 2026 | 13:31

Label “No Pork, No Lard” Tak Otomatis Berarti Halal

Jumat, 04 September 2026 | 13:20

Kenaikan Tarif Masuk Ragunan Masih Ramah di Kantong

Jumat, 04 September 2026 | 13:12

Legislator Soroti Anggaran Pemulihan Kantor DPRD NTB-Sulsel Pasca Demo Agustus 2025

Jumat, 04 September 2026 | 13:08

Pembangunan Dapur MBG Pakai APBN Jangan Jadi Beban Negara

Jumat, 04 September 2026 | 13:06

Pemerintah Diminta Evaluasi Harga Eceran Tertinggi Beras

Jumat, 04 September 2026 | 13:01

Selengkapnya