Berita

Ilustrasi SPBU

Politik

Qodari Ungkap Prabowo Sebetulnya Tak Ingin Harga BBM Naik

SENIN, 15 JUNI 2026 | 14:49 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

Pemerintah menegaskan komitmennya untuk tetap menjaga subsidi energi bagi masyarakat, khususnya untuk bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite dan gas LPG 3 kilogram, meski di tengah tekanan fiskal dan dinamika harga energi global.

Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, Muhammad Qodari, mengatakan Presiden RI Prabowo Subianto pada prinsipnya tidak menginginkan kenaikan harga BBM karena memahami dampaknya yang sangat besar terhadap kehidupan masyarakat sehari-hari.

"Kalau ditanya kepada Presiden, mau tidak harga BBM naik? Pasti tidak mau. Karena Pak Prabowo paham bahwa BBM merupakan komponen yang sangat signifikan dan penting bagi kehidupan masyarakat," ujar Qodari lewat kanal Youtube Sinkos Indonesia, Senin, 15 Juni 2026.


Menurutnya, hingga saat ini pemerintah tetap mempertahankan subsidi untuk Pertalite dan LPG 3 kilogram atau yang dikenal sebagai gas melon. Kedua komoditas tersebut dinilai memiliki peran vital karena digunakan masyarakat untuk kebutuhan transportasi dan memasak.

Qodari menjelaskan, berbeda dengan Pertalite yang mendapat subsidi, BBM jenis Pertamax tidak memperoleh subsidi sehingga penentuan harganya mengikuti mekanisme pasar.

"Pertamax memang tidak disubsidi. Karena itu, ketika ada penyesuaian harga, hal tersebut mengikuti aturan yang berlaku dan mekanisme pasar," katanya.

Ia menegaskan bahwa kondisi tersebut menunjukkan negara tetap hadir dalam menjaga keseimbangan antara mekanisme ekonomi pasar dan perlindungan terhadap masyarakat.

"Ekonomi memang menggunakan mekanisme pasar, tetapi negara tidak tinggal diam. Ada subsidi yang diberikan sehingga tidak semuanya diserahkan kepada mekanisme pasar," lanjutnya.

Qodari juga menegaskan bahwa pemerintah berupaya mempertahankan harga Pertalite agar tetap terjangkau. Namun, kebijakan tersebut tetap harus mempertimbangkan kemampuan fiskal negara.

Menurutnya, ruang fiskal Indonesia saat ini masih belum mencerminkan potensi sebenarnya karena masih terdapat berbagai sumber pendapatan negara yang belum optimal.

"Kalau mekanisme yang tadi saya ceritakan dijalankan dengan baik, maka pendapatan Indonesia akan jauh lebih besar dibandingkan sekarang. Dengan begitu, berbagai kebutuhan masyarakat yang selama ini dituntut akan lebih mudah dipenuhi," pungkasnya.

Populer

Kafe Diduga terkait Jampidsus Digeledah

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Beredar Surat Diduga dari Kejagung untuk Konsolidasi Usai Penggeledahan Cafe de' CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53

Presiden Pasti Tahu Dinamika Penggeledahan Cafe de’CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

Pengacara Nadiem Makarim Dilaporkan ke Peradi Buntut Ucapan "Yang Mulia Takut Ya"

Senin, 06 Juli 2026 | 18:36

Langkah Polri Bongkar Kasus Dugaan Korupsi Kejagung Tuai Apresiasi

Kamis, 09 Juli 2026 | 03:59

UPDATE

Matador Pulangkan Belgia di Menit Akhir

Sabtu, 11 Juli 2026 | 04:14

Pengadaan Batu Bara Belum Tentu Penyebab Blackout Sumatera

Sabtu, 11 Juli 2026 | 04:05

Ijazah Asli Jokowi Dipastikan Sama seperti Unggahan Dian Sandi

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:45

Oknum Prajurit di Lokasi Penggeledahan di Luar Mandat TNI

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29

Jampidsus Febrie Resmi Mundur

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:23

Antara VAR dan Tuduhan Argentina Anak Emas FIFA

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:02

Pemerintah Dukung Kortastipidkor Usut Tuntas Perkara Korupsi

Sabtu, 11 Juli 2026 | 02:35

Pernyataan Febrie Dinilai Upaya Kendalikan Narasi di Tengah Deretan Fakta

Sabtu, 11 Juli 2026 | 02:33

Demo Copot Jampidsus Febrie

Sabtu, 11 Juli 2026 | 02:24

Akademisi University Swedia Teliti Penanggulangan Bencana PMI

Sabtu, 11 Juli 2026 | 02:11

Selengkapnya