DI era media sosial seperti sekarang, salah satu penyebab terbesar hilangnya kebahagiaan bukanlah kemiskinan, kegagalan, atau keterbatasan.
Penyebab yang sering merampas ketenangan hati itu justru saat kita membiasakan diri, membandingkan hidup kita dengan kehidupan orang lain.
Kita melihat seseorang punya jabatan strategis, memiliki rumah megah, mobil mewah, dikelilingi wanita, bisnis yang maju dan berkembang.
Atau keluarga yang tampak harmonis dan bahagia karena bergemilangnya harta. Seketika hati meradang, maaf seperti cacing kepanasan. Dari itulah benih iri hati mulai tumbuh dan mulai merasuki jiwa.
Padahal, setiap manusia saat terlahir di muka bumi ini, telah memiliki takdir, jalan hidup dan rezekinya masing-masing. Allah SWT tak pernah salah dalam memberikan rezeki dan karunia-Nya kepada setiap hambanya.
Mungkin ada yang diberi kekayaan, ada yang diberi kesehatan, kecerdasan, ada yang diberi keluarga harmonis. Ada pula yang sukses di usia muda, dan ada pula yang mencapai puncak kesuksesan setelah melewati usia senja.
Rasa iri dengki biasanya muncul ketika kita hanya melihat hasil akhir dari pengorbanan dan perjuangan seseorang, tanpa memahami perjalanan pahit yang mengantarkannya menuju pintu kesuksesan.
Tak hanya itu juga, kita juga sering menyaksikan seseorang tersenyum di atas panggung kesuksesan, tapi tidak melihat malam-malam panjang yang ia habiskan untuk bekerja keras dan salat tahajud.
Kita hanya melihat rumah megahnya, tapi tidak menyaksikan bagaimana ia berjuang menghadapi berbagai kegagalan, tekanan batin, hutang, air mata, dan keluar dari zona nyaman.
Ingat kesuksesan yang tampak indah dari kejauhan, itu sering kali dibangun di atas cucuran keringan dan air mata, yang semua itu tak terlihat oleh mata.
Karena itu, membandingkan hidup kita dengan orang lain hanya membuat kita menderita lahir dan batin.
Sebab rasa iri dan dengki itu, hanya akan menjadi racun bagi kehidupan kita sendiri.
Ironisnya lagi, orang yang kita iri tidak kehilangan apa pun. Sebaliknya, kamu yang iri akan semakin stres, cemas, gelisah.
Sedangkan orang yang sukses dan bahagia itu tengah tenang dan menikmati traveling ke berbagai daerah. Hehehe...
Racun Iri HatiKetika kita iri, hati dan pola pikir menjadi sempit. Pikiran dipenuhi prasangka buruk.Tidur tidak nyenyak. Hidup selalu diselimuti kekurangan.
Padahal Allah itu telah melimpahkan begitu banyak nikmat yang selama ini tidak pernah kita syukuri.
Di kutip dalam buku ilmu psikologi modern, biasnya kebiasaan membandingkan diri secara terus-menerus disebut
social comparison.
Banyak penelitian menunjukkan bahwa perilaku ini dapat mengakibatkan kita stres, cemas, rasa rendah diri, bahkan depresi.
Sementara rasa syukur yang terbukti mampu meningkatkan kebahagiaan, ketenangan, optimisme, dan kesehatan mental seseorang. Malah diabaikan.
Karena itu, jika kita melihat dan menatap orang lain mendapatkan rezeki yang lebih besar, kesuksesan yang lebih tinggi, atau harta yang lebih baik, cobalah melihatnya secara utuh dan objektif.
Oleh karena itu, ketika ingin berhasil dan sukses, maka bersediakah kita menerima seluruh perjuangan, kegagalan, luka, dan penderitaan yang pernah ia alami?
Banyak orang ingin hasilnya saja, tapi tidak siap menjalani prosesnya. Kebanyakan orang ingin panennya, tapi enggan menanam.
Mereka ingin cahaya lampu panggung, namun tak ingin melewati gelapnya latihan dan pengorbanan.
Karena itu, langkah yang tepat mengubah rasa iri menjadi inspirasi. Maka salah satunya katakan dalam hati:
"Jika Allah mampu memberi kepadanya, maka Allah juga pasti mampu memberikan kepadaku, hanya dengan cara dan waktu yang berbeda."
Kalimat sederhana itu mampu mengubah penyakit hati menjadi energi positif. Alih-alih merasa kalah, kita akan termotivasi untuk terus memperbaiki diri.
Alih-alih kecewa, kita akan semakin yakin bahwa setiap orang memiliki waktunya masing-masing dan kelebihan maupun kekurangan.
Ingat, matahari tak pernah iri kepada bulan karena bersinar di malam hari. Bulan pun sama tidak iri kepada matahari karena menerangi siang hari.
Keduanya memiliki tugas dan waktu yang berbeda, namun sama-sama memberi manfaat bagi alam semesta ini
Begitu pula manusia.Kita tidak harus menjadi seperti orang lain untuk menjadi berharga. Namun kita perlu menjadi versi terbaik dari diri kita sendiri.
Ketika rasa iri mulai datang, berhentilah sejenak. Ambillah air wudhu dan sholat. Tenangkan hati. Perbanyak istigfar dan solawat. Meminta doa kepada orang tua sebagai senjata pamungkas dan jimat utama.
Tak lupa bersyukurlah atas nikmat yang telah dimiliki. Lalu angkat kedua tangan dan berdoalah kepada Allah yang maha kuasa di atas segala galanya.
Berdoalah dengan penuh keyakinan dan jangan ragu ragu, karena tidak ada yang mustahil bagi-Nya.
Sesungguhnya kebahagiaan bukan terletak pada seberapa banyak yang kita miliki, untuk dibandingkan orang lain.
Kebahagiaan sejati terletak pada kemampuan kita menerima dengan ikhlas dan lapang dada, mensyukuri, dan memaksimalkan apa yang telah Allah titipkan kepada kita.
Sebab orang yang paling kaya bukanlah yang memiliki harta semata, melainkan orang yang mampu merasa cukup atas apa yang dimilikinya.
Dan orang yang paling bahagia bukanlah mereka yang hidupnya paling sempurna, melainkan yang hatinya diselimuti rasa syukur dalam setiap keadaan yang kita jalani. Semoga dan tetap semangat.
Jejep Falahul AlamKetua LTN NU Majalengka dan Ketua Alumni HIMMAKA Cirebon