Berita

Direktur Jenderal Bea dan Cukai Djaka Budhi Utama. (Foto: RMOL)

Hukum

Gus Lilur: Djaka Budhi Utama Bikin Malu Prabowo

MINGGU, 14 JUNI 2026 | 19:48 WIB | LAPORAN: DIKI TRIANTO

Presiden Prabowo Subianto didesak segera mengevaluasi bahkan mencopot Direktur Jenderal Bea dan Cukai Djaka Budhi Utama setelah muncul dalam persidangan kasus dugaan suap yang ditangani Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Pengusaha sekaligus pemilik BARONG Grup, HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy atau Gus Lilur menilai, pejabat setingkat direktur jenderal seharusnya membantu Presiden menjaga penerimaan negara dan memperbaiki tata kelola cukai, bukan justru menjadi beban bagi pemerintahan.

"Kita ingin seluruh menteri pembantu presiden betul-betul membantu presiden. Tapi saya melihat Dirjen Bea Cukai tidak membantu. Malah bikin malu presiden," kata Gus Lilur dalam keterangannya, Minggu, 14 Juni 2026.


Gus Lilur merujuk pada fakta yang terungkap di Pengadilan Tipikor Jakarta Pusat dalam persidangan kasus dugaan suap importasi barang di Direktorat Jenderal Bea Cukai (Ditjen Bea Cukai).

Dalam sidang pada 12 Juni 2026, Jaksa KPK membacakan Berita Acara Pemeriksaan (BAP) terdakwa John Field, pemilik Blueray Cargo. Dalam keterangan yang dibenarkan terdakwa, kode "BC1" dalam sejumlah pemberian uang disebut merujuk kepada Dirjen Bea Cukai Djaka Budhi Utama.

Berdasarkan keterangan tersebut, kode "BC1" disebut menerima Rp3 miliar setiap bulan. Pemberian itu berlangsung tujuh kali sejak Juli 2025 hingga Januari 2026 dengan total nilai mencapai Rp21 miliar.

Bahkan dalam persidangan 20 Mei 2026, jaksa KPK juga mengungkap dugaan penerimaan uang sebesar 213.600 Dolar Singapura atau hampir Rp3 miliar yang disebut mengalir kepada Djaka.

Meski namanya disebut dalam persidangan, Djaka tetap tampil dalam konferensi pers pada 9 Juni 2026 untuk mengumumkan keberhasilan operasi gabungan Bea Cukai, PJR Polda Metro Jaya dan Puspom TNI yang menyita 8.944.800 batang rokok ilegal tanpa pita cukai di Tol JORR KM 35,8.

Ia menilai keterangan yang muncul dalam persidangan KPK sudah cukup serius untuk menjadi bahan evaluasi presiden terhadap kepemimpinan di Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.

"Sodoran bukti dari KPK sudah nyata Dirjen Bea Cukai justru menjadi biang masalah, bukan solusi dari masalah. Jika pejabat pembantu presiden sudah tidak punya moral, apalagi disebut dalam persidangan KPK terkait dugaan penerimaan suap, tentu tidak ada hal lain yang bisa diharapkan," ujarnya.

Karena itu, Gus Lilur meminta Presiden Prabowo segera mengambil langkah tegas demi menjaga kredibilitas pemerintah serta memperkuat agenda reformasi tata kelola penerimaan negara yang tengah dijalankan.

"Semoga presiden segera mencopot dan mengganti Dirjen Bea Cukai dengan pengganti yang lebih punya patriotisme dan harga diri dalam membela kemuliaan Republik Indonesia. Republik ini terlalu mulia untuk dibantu oleh tangan yang kotor," pungkasnya.

Sementara itu, Dirjen Bea Cukai sebelumnya memastikan tetap menghormati proses hukum dugaan suap pengurusan impor yang menyeret nama Djaka Budi Utama.

“Kami menghormati proses hukum yang sedang berjalan di pengadilan, dengan tetap menjunjung asas praduga tak bersalah,” kata Kepala Subdirektorat Hubungan Masyarakat dan Penyuluhan Bea Cukai, Budi Prasetiyo saat dikonfirmasi.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

UPDATE

Kemendag: Wajib Halal Bukan Pelarangan Impor

Sabtu, 26 September 2026 | 06:30

Baznas dan Komite Bantuan Kepresidenan Palestina Perkuat Kerja Sama Kemanusiaan

Sabtu, 26 September 2026 | 06:12

Instruksi Prabowo soal Kuliah Gratis PTN Harus Diprioritaskan

Sabtu, 26 September 2026 | 06:00

Serba ‘Tidak’ di Sidang Gibran

Sabtu, 26 September 2026 | 05:41

Cuma Tambah Dua Perunggu, Peringkat Indonesia Merosot

Sabtu, 26 September 2026 | 05:17

Jalur Sepeda Jangan cuma Jadi Pajangan

Sabtu, 26 September 2026 | 05:00

Benarkah Pengganti Gibran Sudah Ada?

Sabtu, 26 September 2026 | 04:29

Korlantas Polri Luncurkan Empat Inovasi Digital

Sabtu, 26 September 2026 | 04:18

Jangan Istimewakan Oknum DPRD Diduga Bakar Lahan

Sabtu, 26 September 2026 | 04:00

Kepala BNPB Minta Maaf soal Karhutla: Klarifikasi Istilah 'Normal'

Sabtu, 26 September 2026 | 03:46

Selengkapnya