Berita

Ilustrasi. (Foto: AI)

Publika

Israel, Bangsa Parasit di Muka Bumi?

RABU, 10 JUNI 2026 | 01:18 WIB

Para pengeritik Zionisme sering menunjuk jatuhnya Kesultanan Utsmaniyah sebagai contoh keberhasilan penetrasi ideologi asing dalam hal ini karena pengaruh Zionis-Yahudi di suatu negara. Ada juga kajian yang merujuk pada hubungan dinasti Bush dan dinasti Saud.

Selama lebih dari enam abad, Utsmaniyah menjadi simbol kekuatan Islam. Namun menjelang abad ke-20, kerajaan itu mulai diguncang berbagai masalah internal. Nasionalisme berkembang di berbagai wilayah kekuasaan. Sekularisme dan modernisasi ala Barat masuk ke lingkungan elit. Gerakan-gerakan separatis muncul di berbagai daerah. Kerajaan yang gemar berpesta tidak peduli nasib rakyat, utang merajalela, dan pasar bebas telah mendikte. Inilah asal muasal berlakunya invasi, intervensi, infiltrasi, interferensi, indoktrinasi, intimidasi, dan inflasi. Hasilnya adalah instability (ketidakstabilan) dan impoverishment (pemiskinan struktural).

Ketika fondasi internal melemah, kekuatan asing semakin mudah masuk dan mempengaruhi arah politik kekaisaran. Akhirnya Mustafa Kemal Atatürk tampil sebagai tokoh utama Republik Turki modern yang menggantikan sistem kekhalifahan.


Bagi sebagian umat Islam, peristiwa itu bukan sekadar perubahan sistem pemerintahan, melainkan runtuhnya simbol persatuan dunia Islam. Siklus tujuh abad terjadi, waktu yang mempergilirkan tak terhindari, dan semua itu merupakan kombinasi antara ketetapan siklus dan perbuatan manusia.

Pecahnya Uni Soviet

Pola yang dianggap serupa terlihat juga di Uni Soviet. Saat krisis ekonomi melanda, Mikhail Gorbachev memperkenalkan glasnost dan perestroika . Keterbukaan dan demokrasi melalui reformasi bertujuan menyelamatkan negara karena Perang Dingin mengakibatkan inflasi tinggi.

Namun, reformasi justru mempercepat keruntuhan. Republik-republik anggota Soviet melepaskan diri. Nasionalisme menguat. Struktur negara yang selama puluhan tahun tampak kokoh, akhirnya runtuh pada tahun 1991. Uni Soviet pecah berkeping-keping menjadi 14 negara.

Bagi pendukung reformasi, perubahan tersebut adalah jalan menuju kebebasan. Akan tetapi, bagi kalangan komunis garis keras, itulah awal kehancuran sebuah adidaya.

Demokrasi, HAM, dan Agenda Global

Menurut pandangan kritis terhadap konsepsi Barat dan Zionisme, berbagai konsep global seperti pembangunan model Barat, hak asasi manusia (HAM), demokrasi, liberalisme, sistem keuangan global dan sekularisme sering digunakan sebagai instrumen pengaruh politik. Nilai-nilai tersebut dipromosikan sebagai standar universal yang harus diikuti seluruh dunia.

Di satu sisi, konsep-konsep itu memang membawa kemajuan dalam banyak bidang. Namun pada sisi lain, tidak sedikit negara yang merasa standar tersebut diterapkan secara selektif sesuai kepentingan kekuatan besar dunia. Istilahnya standar ganda, bahkan multiple-suitable standar alias kemunafikan struktural. Ketagihan berbohong, desakan menjadi serakah, dan mimpi kedigdayaan tanpa batas terus menerus dilakukan. Berbagai buku di Barat telah terbit. Kritik dari yang santun hingga yang sangat kasar menghina disampaikan. Tapi pemegang dan pemilik kekuasaan tidak peduli. Oligarki politik, oligarki ekonomi, dan oligarki intelektual konsisten menjalankan berbagai sistem, kebijakan dan regulasi, standarisasi, supervisi, dan instrumentasi demi kesinambungan kekuasaan di panggung global.

Karena itu muncul sikap kritis terhadap posisi pasar dan isu-isu global yang memang tidak netral. Rule base order, misalnya, mengandung agenda politik tertentu kepentingan AS dan G7. Ada hidden agenda di balik hal tersurat di atas permukaan. Kini, dengan dolar sebagai senjata, mereka disaingi. Juga teknologi dan militer. Karena terdesak, mereka menolak untuk persaingan penuh. Mereka menerapkan competitive coexistence. Mereka sendiri yang menyatakan, China dan Rusia tetap membutuhkan AS. Artinya, tetap membutuhkan Israel. Padahal Israel tanpa AS dan Inggris nyaris dikesampingkan berbagai negara belahan dunia.

Amerika Serikat: Tuan Rumah Berikutnya?

Pertanyaan yang sering muncul dari para pengeritik Zionisme adalah: jika Utsmaniyah runtuh dan Uni Soviet pecah, apakah AS akan mengalami nasib sama? Pandangan ini muncul karena kuatnya pengaruh kelompok-kelompok lobi pro-Israel dalam politik Amerika, terutama melalui organisasi seperti AIPAC. Bagi mereka, semakin besar ketergantungan suatu negara pada kepentingan luar, semakin besar pula risiko kehilangan arah dan kedaulatan politiknya. Pengeritik juga melihat, Trump bukan sedang menjalankan MAGA (Make America Great Again) tapi MIGA (Make Israel Great Again).

Apakah Amerika akan bernasib seperti imperium-imperium sebelumnya? Belum ada yang dapat menjawabnya. Namun, sejarah mengajarkan satu hal: setiap kekuatan besar yang gagal menjaga keseimbangan antara kepentingan nasional dan pengaruh eksternal pada akhirnya akan menghadapi ujian yang sama. Lagi sejarah membuktikan, negara seperti AS akan runtuh dari dalam karena kebijakan dan perilaku politiknya sendiri.

Menyebut Zionisme sebagai "parasit dunia"--tentu merupakan sudut pandang yang kontroversial dan tidak bisa diterima semua pihak. Akan tetapi, pandangan tersebut lahir dari keyakinan bahwa berbagai kekuatan besar dalam sejarah runtuh karena kelemahan internal, dan penetrasi pengaruh eksternal yang bekerja perlahan dari dalam.

Benar atau tidaknya tesis tersebut masih menjadi perdebatan panjang. Yang pasti, sejarah selalu menunjukkan bahwa sebuah bangsa dapat kehilangan kekuatannya bukan hanya karena serangan dari luar, tetapi juga karena ketidakmampuannya mengenali siapa yang sedang mempengaruhi arah perjalanannya dari dalam.

Penutup: Menghitung Mundur Kejatuhan

Pada akhirnya, persoalan dunia bukanlah tentang Israel, misalnya, atau Zionisme, Barat, Timur, ataupun ideologi tertentu. Persoalannya adalah, ketika kekuasaan merasa dirinya berada di atas hukum, keadilan, dan kemanusiaan.

Sejarah membuktikan bahwa tidak ada kekuatan yang abadi. Setiap imperium yang membangun dominasinya di atas ketidakadilan pada akhirnya akan berhadapan dengan hukum sejarah. Cepat atau lambat, kekuatan yang menindas kemanusiaan akan melahirkan perlawanan, dan hegemoni yang dipaksakan akan menuai krisisnya sendiri.

Oleh sebab itu, pelajaran terbesar bagi dunia bukanlah siapa yang menang hari ini, melainkan bagaimana menjaga agar kekuasaan tidak berubah menjadi lalim dan serakah serta ketagihan berbohong. Sebab, sebuah bangsa jarang hancur oleh musuh dari luar, ia kerap runtuh justru tatkala kehilangan kompas spiritual dan moral dari dalam. Jelas, sekularisme ada batasnya.

Maka, ketika keadilan dikalahkan oleh kepentingan, dan kemanusiaan dikorbankan demi kekuasaan, saat itulah sejarah mulai menghitung mundur kejatuhan sebuah peradaban.

Ichsanuddin Noorsy dan M Arief Pranoto

Pakar ekonomi politik

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

UPDATE

Bezzecchi Juara MotoGP Mandalika, Martin Kembali ke Puncak Klasemen

Minggu, 11 Oktober 2026 | 16:27

Prabowo dan El-Sisi Kecam Keras Pembangunan Permukiman Ilegal Israel

Minggu, 11 Oktober 2026 | 16:20

Gus Lilur Minta KPK Usut Dugaan Aliran Dolar di Muktamar NU

Minggu, 11 Oktober 2026 | 16:06

Quiles Juara Moto3 Mandalika, Veda Ega Finis Keenam

Minggu, 11 Oktober 2026 | 15:52

Koperasi Didorong Bergerak ke Sektor Produksi Hingga Keuangan

Minggu, 11 Oktober 2026 | 15:44

Mesir Tambah Beasiswa untuk Mahasiswa Kedokteran, Teknik, dan Sains Indonesia

Minggu, 11 Oktober 2026 | 15:42

20 Kapolres dan Kapolresta Pulau Jawa Dirombak Jenderal Suyudi

Minggu, 11 Oktober 2026 | 15:33

Prabowo Bidik Penguatan Ekonomi RI-Mesir Lewat Perjanjian Dagang dan Dana Investasi Bersama

Minggu, 11 Oktober 2026 | 15:14

Krisman Harefa Gugat MSIG Life Insurance Indonesia Rp1 Miliar ke PN Jaksel

Minggu, 11 Oktober 2026 | 15:11

Muzakarah Tauhid Sufi Jadi Momentum Perkuat Persatuan Umat

Minggu, 11 Oktober 2026 | 15:01

Selengkapnya