Berita

Mantan Wamen Imipas, Silmy Karim (Foto: RMOL)

Hukum

KPK Temukan Indikasi TPPU dalam Kasus Silmy Karim

SELASA, 09 JUNI 2026 | 12:02 WIB | LAPORAN: JAMALUDIN AKMAL

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menemukan indikasi kuat tindak pidana pencucian uang (TPPU) dalam perkara dugaan korupsi pengurusan izin tinggal warga negara asing (WNA) yang menjerat mantan Wakil Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan (Wamen Imipas), Silmy Karim (SK).

Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Penyidikan KPK, Achmad Taufik Husein, mengatakan temuan tersebut mengemuka setelah penyidik menggeledah rumah Silmy Karim dan menemukan sejumlah aset yang tidak tercantum dalam Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN).

Selain itu, penyidik juga menemukan indikasi penggunaan nominee atau pihak lain untuk menguasai aset yang diduga berasal dari hasil tindak pidana.


"Modus-modus yang ditemukan oleh penyidik itu memang menggambarkan unsur-unsur tindak pidana pencucian uang, terkait penggunaan nominee, pembelian aset atas nama orang lain, dan aset yang belum dimasukkan ke dalam LHKPN," kata Taufik kepada wartawan di Jakarta, Selasa, 9 Juni 2026.

Menurut Taufik, temuan tersebut menjadi petunjuk awal adanya upaya menyamarkan kepemilikan harta melalui penggunaan nama pihak lain serta tidak dilaporkannya sejumlah aset dalam LHKPN.

Meski demikian, KPK masih mendalami apakah dugaan TPPU tersebut akan digabungkan dengan penyidikan perkara korupsi yang sedang berjalan atau diproses secara terpisah setelah perkara pokoknya rampung.

"Tetapi apakah nanti itu akan kita masukkan di proses penyidikan yang sedang berjalan, ataukah dilakukan setelah proses penyidikan tindak pidana korupsinya, itu masih kita lihat perkembangan ke depannya karena ini masih tahap awal," ujar Taufik.

Ia menjelaskan, perkara korupsi dan TPPU dimungkinkan untuk dikumulatifkan dalam satu berkas penyidikan apabila alat bukti yang ditemukan telah mencukupi.

"Bisa saja nanti ketika tersangka SK disidangkan sudah dikumulatifkan. Itu tergantung dari sisi teknis penyidikannya, apakah digabung atau dilakukan setelah penyidikan tindak pidana korupsinya selesai," jelasnya.

KPK juga membuka peluang menjerat pihak lain yang diduga membantu menyembunyikan atau menguasai aset atas nama tersangka.

"Tinggal kita akan mendalami peran-peran yang lain apakah ada pihak-pihak yang membantu terkait kegiatan itu," kata Taufik.

Sebelumnya, pada Jumat, 5 Juni 2026, penyidik KPK menggeledah rumah Silmy Karim di kawasan Brawijaya III, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Dalam penggeledahan itu, penyidik menyita dua mobil sport, 10 sepeda motor mulai dari vespa hingga Harley-Davidson, tujuh sepeda, sejumlah perhiasan, serta uang tunai dalam mata uang rupiah dan valuta asing.

KPK menduga aset-aset tersebut berasal dari hasil dugaan pemerasan dalam pengurusan izin tinggal WNA.

Sebagai informasi, Silmy Karim merupakan salah satu dari delapan tersangka yang ditetapkan KPK dalam kasus dugaan pemerasan dan gratifikasi terkait pengurusan izin tinggal WNA di lingkungan Direktorat Jenderal Imigrasi periode 2022-2026.

KPK menduga para tersangka mengumpulkan dana dari pemohon izin tinggal melalui sejumlah rekening penampung dan rekening nominee. Dari praktik tersebut, penyidik memperkirakan sedikitnya Rp145,5 miliar berhasil dihimpun.

Sejumlah uang hasil dugaan korupsi itu kemudian diduga dialihkan ke berbagai bentuk aset, seperti emas, kendaraan, tanah dan bangunan, aset kripto, hingga usaha towing. Penyidik juga menemukan indikasi pembelian rumah yang dilakukan menggunakan kepingan emas.

Temuan-temuan tersebut kini menjadi bagian dari pendalaman KPK untuk menelusuri kemungkinan penerapan pasal TPPU dalam perkara tersebut.

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Langgar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

Berpeluang Kalah, Wajar Pengacara Profesional Menolak Bela Jokowi

Kamis, 25 Juni 2026 | 07:47

UPDATE

Komisi XIII DPR Soroti Perlindungan Hukum Pelaku Usaha yang Tabrak Aturan

Senin, 29 Juni 2026 | 12:22

Ketika Jalanan Pindah ke Dalam Genggaman

Senin, 29 Juni 2026 | 12:07

Gaya Komunikasi Presiden Prabowo Berisiko Menenggelamkan Kinerja Pemerintah

Senin, 29 Juni 2026 | 12:01

KPK Periksa Saksi Swasta dalam Kasus Gratifikasi Produksi Batu Bara di Kukar

Senin, 29 Juni 2026 | 11:54

Harga Bapok Kompak Anjlok, Telur Ayam Turun Jadi Rp28.850/Kg

Senin, 29 Juni 2026 | 11:32

Kasus YTR Jadi Alarm, Garnita NasDem Minta Negara Perkuat Perlindungan Perempuan

Senin, 29 Juni 2026 | 11:15

Safari Politik Jokowi Dibungkus Ritual Adat untuk Dongkrak Publisitas PSI

Senin, 29 Juni 2026 | 11:13

Petugas Haji Masih Bersiaga hingga Kepulangan Kloter Terakhir

Senin, 29 Juni 2026 | 11:07

Kenaikan Beruntun CPO Malaysia Didorong Sentimen Minyak Global

Senin, 29 Juni 2026 | 10:57

Prabowo Ingatkan Ancaman AI, Akademisi Diminta Antisipasi Dampaknya

Senin, 29 Juni 2026 | 10:52

Selengkapnya