Berita

Mantan Wakil Kepala BGN Sony Sonjaya. (Foto: Bonfilio)

Publika

30 Orang Kuat Pengendali Sesungguhnya Program MBG

SENIN, 08 JUNI 2026 | 15:21 WIB

TERNYATA ada 26-30 orang kuat di atas Sony Sonjaya, pengendali sesungguhnya program MBG. Luar biasa permainan para tikus got gorong-gorong. 

Sony Sonjaya, sedang menikmati hari tuanya di tahanan Kejagung. Son..son nabibmu jenderal. Dulu duduk di kursi empuk, sekarang duduk menghitung jeruji. Hebat sekali transformasinya. Kalau ulat jadi kupu-kupu, Sony dari pejabat jadi penjahat.

Awal Juni 2026, Sony bersama Haji Dadan Hindayana dan kawan-kawan ditetapkan sebagai tersangka dalam perkara dugaan pengaturan verifikasi SPPG. 


Ceritanya, dapur-dapur program MBG diduga diarahkan ke yayasan-yayasan tertentu, titik-titik SPPG diperjualbelikan kayak narkoba di lorong gelap. 

Lalu, dari sana mengalir insentif miliaran rupiah setiap hari. Uangnya berlari lebih kencang dari lari Silfester Matutina yang terus diuber jaksa. Bau cuannya bisa tercium sampai ke lapisan ozon.

Tapi tunggu. Di tengah badai itu, Sony tiba-tiba muncul membawa jurus legendaris, "Saya ditekan orang-orang besar." Waduh.

Kalimat ini di Indonesia sudah seperti obat nyamuk. Setiap tersangka yang terjepit biasanya mendadak menemukan spesies baru bernama "atas". Tidak jelas bentuknya, tidak jelas alamatnya, tetapi selalu muncul ketika borgol mulai berkilau.

Pada 8 Juni, Sony mengajukan status Justice Collaborator. Katanya siap membongkar 26 sampai 30 nama dari kalangan eksekutif dan legislatif. 

Katanya ada bukti chat. Katanya ada komunikasi. Katanya ada ini, ada itu. Banyak sekali katanya. Publik sekarang bukan kekurangan "katanya". Publik kekurangan "buktinya mana?" 

Sebab rakyat sudah terlalu sering menonton sinetron episode begini. Awalnya ancam bongkar langit, ujung-ujungnya yang terbuka cuma jendela.

Yang bikin darah naik ke ubun-ubun bukan sekadar dugaan jual beli titik atau permainan yayasan. Yang bikin rakyat ingin melempar sandal ke plafon adalah dampaknya.

Program MBG yang seharusnya menjadi benteng gizi anak-anak justru tercatat menghasilkan 37.693 korban keracunan dari 446 kasus. Angka ini bukan angka kecil. Ini angka yang kalau dibariskan bisa memenuhi stadion.

Anak-anak muntah. Diare. Sesak napas. Kram perut. Sebagian mengalami trauma. Di beberapa lokasi, sekolah berubah seperti posko darurat bencana. Bukannya belajar matematika, murid-murid sibuk menghitung berapa kali harus bolak-balik ke toilet.

Lalu muncul cerita Kalibata. Pengurus rugi sekitar Rp1 miliar. Supplier menunggu pembayaran seperti menunggu mantan balikan. Relawan mengeluh gaji dipotong atau tidak jelas nasibnya. Pekerja dapur yang menerima Rp2,4 juta sampai Rp3,5 juta ikut menjerit. Operasional ambruk. Dapur tergembok. Kekacauan merajalela seperti kambing lepas di kebun cabai.

Sementara itu, ada laporan 135 siswa di Jakarta mengalami keracunan sekaligus. Seratus tiga puluh lima! Itu bukan kelas. Itu satu batalion muntah berjamaah.

Maka ketika Sony sekarang tampil dengan narasi "saya ditekan", publik sulit terharu. Rakyat sedang sibuk menghitung korban, bukan menghitung alasan.

Kalau memang ada 26 sampai 30 nama besar, buka semuanya. Jangan setengah-setengah. Jangan seperti Noel, partai isial “K” sampai sekarang, mana! Jangan seperti meriam karbit di Pontianak, bunyi menggelegar, nyatanya seekor nyamukpun tak mati.

Kalau yang dikorbankan hanya pemain lapangan sementara para raja cuan tetap duduk santai memesan kopi premium, maka skandal ini cuma akan menjadi pertunjukan sulap paling mahal dalam sejarah birokrasi. 

Uang rakyat lenyap, anak-anak keracunan, ibu-ibu stres, sementara para aktor utama tetap tersenyum seperti tidak terjadi apa-apa.

Di situlah kemarahan publik berasal. Bukan karena Sony bicara. Tetapi karena rakyat sudah terlalu lama mendengar banyak orang bicara, sementara yang benar-benar bertanggung jawab sering menghilang lebih cepat dari gorengan saat rapat RT. 

Ayo Sony, bongkar orang atas yang suka ngajak ngopi di hotel bintang lima itu. Ente jenderal, jangan cemen. Rakyat di belakangmu. Ngerti ora son!

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Langgar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

Berpeluang Kalah, Wajar Pengacara Profesional Menolak Bela Jokowi

Kamis, 25 Juni 2026 | 07:47

UPDATE

Komisi XIII DPR Soroti Perlindungan Hukum Pelaku Usaha yang Tabrak Aturan

Senin, 29 Juni 2026 | 12:22

Ketika Jalanan Pindah ke Dalam Genggaman

Senin, 29 Juni 2026 | 12:07

Gaya Komunikasi Presiden Prabowo Berisiko Menenggelamkan Kinerja Pemerintah

Senin, 29 Juni 2026 | 12:01

KPK Periksa Saksi Swasta dalam Kasus Gratifikasi Produksi Batu Bara di Kukar

Senin, 29 Juni 2026 | 11:54

Harga Bapok Kompak Anjlok, Telur Ayam Turun Jadi Rp28.850/Kg

Senin, 29 Juni 2026 | 11:32

Kasus YTR Jadi Alarm, Garnita NasDem Minta Negara Perkuat Perlindungan Perempuan

Senin, 29 Juni 2026 | 11:15

Safari Politik Jokowi Dibungkus Ritual Adat untuk Dongkrak Publisitas PSI

Senin, 29 Juni 2026 | 11:13

Petugas Haji Masih Bersiaga hingga Kepulangan Kloter Terakhir

Senin, 29 Juni 2026 | 11:07

Kenaikan Beruntun CPO Malaysia Didorong Sentimen Minyak Global

Senin, 29 Juni 2026 | 10:57

Prabowo Ingatkan Ancaman AI, Akademisi Diminta Antisipasi Dampaknya

Senin, 29 Juni 2026 | 10:52

Selengkapnya